20 January 2020

Cerita Cinta di Kota Surakarta


Baiklah, dari judul memang terkesan sangat romantis, tapi yakinlah sesuatu yang ditulis di sini tidak akan pernah bertujuan mengaduk perasaan kalian seperti halnya menonton drama korea, atau drama keluarga di sinetron India.
 
Surakarta, adalah kota dimana Presiden kita sekarang dilahirkan, kota yang memiliki sejarah panjang bersama dengan Yogyakarta, kota yang memiliki budaya Jawa yang sangat kental, dan kota yang sampai saat ini masih memiliki raja yang bergelar Pakubuwono.

Saya termasuk orang yang sering berkunjung ke Surakarta (mungkin lebih enaknya saya akan menyebutya dengan Solo). Kota yang berjarak sekitar 2 jam dari kota Jogja membuat saya ingin kembali dan kembali lagi kesana. 

Suasana Jawa dan kekentalan akan budaya yang tidak jauh berbeda dengan Jogja terkadang menjadi daya pikat yang mampu menarik perhatian untuk datang ke sana.

Saya memiliki hubungan dengan Solo hanya karena tempat penelitian saya ada di sana, selain itu tidak ada hubungan apapun saya dengan Solo, saya bukan keturunan dari Pakubuwono, saya bukan investor di Solo Square, dan saya juga bukan ayah angkatnya Jan Ethes. Jadi hubungan saya dengan Solo hanya sebatas penelitian.

Meskipun dalam proses penelitian saya selalu dibuat geram dengan petugas- nya. Tapi daya pikat Solo masihlah sangat kuat. Setelah penelitian selesai, saya masih dan masih lagi berencana untuk sekedar datang dan berkunjung untuk menikmati kuliner dan suasana jalan yang begitu khas. Mengapa khas?

Kekhasan dan keunikan yang dimiliki oleh Solo memang ada yang sifatnya bagus dan mungkin "kurang" bagus. Jadi mungkin tulisan ini akan saya tujukan buat kalian yang ingin tahu Solo dari sudut pandang saya, tentunya. ha ha ha

Perlu kalian tahu sebelum datang ke Solo, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
Pertama bahwa, jalanan di Kota Solo itu sangat mbulet. Kalo orang Jawa Timur bilang mbuwulet. Terlalu banyak jalan satu arah, dan akibat dari adanya itu maka jalan kecil di gang-gang sempit menjadi empuk dan nikmat untuk dilewati. 

Hal itu kamudian berdampak pada lamanya kita menghabiskan waktu di jalan. Karena bagi saya, orang yang tidak tinggal di sana, akan selalu membingungkan untuk menghafalkan jalan kota Solo yang banyak tanda bulat merah dan ada garis putihnya itu.

Yang kedua adalah bahwa, pengendara di Solo sangat hobi sekali memanfaatkan klakson kendaraan. Entah mobil atau motor, mereka gemar sekali tan tin di tengah keramaian jalan perkotaan. Saya tidak tahu seberapa besar tingkat kesabaran mereka terhadap suasana lalu lintas. Hanya saja sebagai pengendara yang terbiasa dengan suasana kendaraan Jogja merasa sedikit terusik dengan bunyi tan tin yang begitu berisik.

Cuman semua itu tidak melulu dipandang sebagai suatu hal yang negatif, ada hal positif yang bisa didapatkan dari fenomena tersebut, yaitu bahwa ….. sepertinya bengkel di Solo tidak akan pernah menerima keluhan klakson karatan (rusak), ya gimana mau karatan, wong tiap hari dipakai.

Saya mencoba untuk iseng dan menghitung berapa kali suara klakson terdengar di jalanan kota Solo. Dalam perjalanan saya dari hotel sampai keraton Solo, yang mana jaraknya sekitar 3 kilo meter dan menghabiskan waktu sekitar 11 sampai 13 menit, ada sekitar 37 bunyi klakson yang terdengar di telinga saya dan kawan saya. Sungguh aransemen musik yang sangat indah.

Terakhir nih. Solo jarang sekali ada Indomaret.. mungkin bagi sebagian orang, itu adalah suatu hal yang positif, namun sepakat atau tidak sepakat, kita pasti menyadari bahwa minimarket tersebut adalah kebutuhan bagi sebagian orang. 

Bayangkan saja kalian para wanita pas lagi jalan-jalan dan eh ternyata ada tamu bulanan datang. Panik dong, larinya kemana? Masa mau lari ke angkringan, tidak dong. Secara nalar pasti kita nyari minimarket terdekat. Dan kehadiran Indomaret sebenarnya sangat membantu, karena gampang untuk dicari. Kebayang dong kalau harus nyari toko kelontong di tengah jalanan kota dan dengan rasa panik yang begitu membara, pasti mumet. ditambah lagi dengan kondisi jalanan yang mbulet dan suara backsound klakson yang cukup mampu menambah daya panik kita.

Selalu ada kekesalan yang terjadi ketika mengunjungi kota Solo. Tapi kenangan dan keindahan dan tata kramanya juga selalu nikmat untuk bisa dikunjungi lagi dan lagi.  Oh iya, satu hal yang sangat tidak bisa dilupakan di Solo adalah kulinernya. Kalian bisa nemuin kuliner macem-macem di Solo. Mulai dari yang sederhana sampai yang tidak sederhana. Jadi, jangan takut kelaparan di Solo.

Syahdu tembang dan lantunan syair dalam diri selalu menghiasi perjalanan di kota Solo. Kota itu akan selalu unik, dan keunikan itu semoga selalu terjaga sampai kapanpun.

13 January 2020

Sadboy? Tidak dong.


Dek opo salah, awakku iki.
Koe nganti tego mblenjani janji
Opo mergo, kahanan uripku iki,
Mlarat bondo, seje karo uripmuuuuu
Aku nelongso mergo kebacut tresno
Ora ngiro saikine cidro


Ah sungguh nikmat memang lantunan syair dari mas Didi Kempot. Lagu cidro memang mampu membawa pendengarnya merasakan sakitnya dikhianati oleh pasangan atau oleh orang yang kita cintai. Bahkan bagi orang yang tidak pernah merasakan itu, ikut mendengarkan lagu itu sudah cukup untuk memberikan pengalaman menyakitkan seperti halnya yang diceritakan oleh lagu itu.

Mas Didi memang lihai dalam menulis kata untuk kemudian diinterpretasikan oleh anak muda dalam bentuk sakit hati yang mendalam. Bahasa sederhananya adalah “Mas Didi Kempot mengintimidasi anak muda untuk merasakan sakit hati”, dan hal itu sangat berhasil.

Tapi bukan itu yang seharusnya membuat kita menjadi bangga. Lelaki bangga bukan di saat bersedih, tapi lelaki harus bangga ketika mereka bisa mengatasi rasa sedih menjadi motivasi untuk melakukan lebih. Nice.

Hampir semua orang pernah merasakan sakit hati, dan sebagian dari mereka akan menjadikannya sebagai motivasi untuk melangkah lebih jauh. Namun sebagian lagi akan masih berlarut-larut dalam rasa sakit yang sebenarnya tidak akan ada habisnya.

Poin pentingnya adalah, akan sampai pada masanya, dimana kalian akan menertawakan kesedihan yang saat ini sedang dialami. Kalau masih tidak bisa, tunggu aja karena pada waktunya sedihmu saat ini akan menjadi lucu di kemudian hari.

09 January 2020

Kita Dipaksa Bermoral


Tanpa kalimat pembuka, dan tanpa basa basi, saya ingin berbicara ini.
 
Dikatakan di berbagai macam literatur bahwa peradaban Barat berbeda dengan peradaban Timur. Orang menyebutnya orang Timur dan orang Barat. Orang Barat bisa diafiliasikan kepada orang Eropa dan Amerika, sedangkan orang Timur terinterpretasikan melalui orang Asia.

Dalam hal moral, sebenarnya Barat dan Timur memiliki cara masing-masing untuk menjadi orang “bermoral”. Namun di Timur tentu lebih kental. Indonesia sebagai negara dan bangsa yang berada di Timur juga kental akan budaya Timur yang dikenal sebagai budaya yang lebih bermoral. Budaya Timur kental akan sopan santun, sedangkan budaya Barat tidak demikian. 

Di Jepang misalnya, orang mempunyai cara untuk menghormati orang lain dengan membungkukkan badan, sedangkan di Indonesia, penghormatan terhadap orang bisa melalui berjabat tangan atau yang lainnya. Orang Timur itu kalau orang Jawa bilang memiliki unggah-ungguh. 

Namun, perbedaan antara Barat dan Timur semakin hari semakin terkikis dengan semakin tidak adanya batas antar satu bangsa dengan bangsa yang lain. Orang Indonesia akan dengan mudah mengetahui bagaimana orang Amerika meminum kopi, dan sebaliknya, secara singkat orang Amerika akan bisa mengetahui bagaimana orang Indonesia berbicara.

Semakin lama semakin tidak ada batas, sehingga terjadi percampuran (akulturasi). Orang Barat semakin dengan kemajuan terknologinya mulai memberikan pengaruh kepada orang Timur. Mulai dari cara berpakaian, cara berjalan, cara meminum kopi, bahkan cara mengumpat. Orang Timur atau dalam hal ini adalah Indonesia semakin menjadi Barat. Dengan begitu salah satu aspek ketimuran mereka yaitu tentang moral juga semakin ditinggalkan.

Kita semua sepakat bahwa Barat memberikan pengaruh yang positif dalam hal teknologi, namun untuk budaya, Timur bisa dikatakan lebih sopan daripada Barat. Orang Timur akan kaget ketika melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan orang Timur namun lumrah di Barat, misalnya ketika anak muda ciuman dipinggir jalan, perempuan pakai celana pendek dan lain sebagainya.

Hal itu kemudian berbuntut pada “hilangnya budaya Timur” bagi sebagian orang. Sekali lagi moral adalah kata yang dijunjung tinggi oleh orang Timur. Dan tidak bermoral adalah kata yang sangat dihindari oleh orang Timur. Terlebih orang Timur merupakan orang yang religius.

Hilangnya jatidiri orang Timur karena adanya globalisasi tidak bisa dihindari dengan mudah. Kecenderungan meniru apa yang dilihat memiliki daya pikat yang lebih kuat daripada apa yang seharusnya mereka pelajari. Jadi budaya Barat yang ditunjukkan melalui berbagai macam media sangat cukup untuk mempengaruhi orang Timur dan sedikit demi sedkit mengikis budaya Timur.

Tidak ada yang harus bertanggung jawab atas fenomena ini. Kita tidak perlu memaksakan mereka untuk kembali bermoral. Kita tidak perlu mengingatkan mereka bahwa mereka adalah orang Timur. Yang perlu kita lakukan hanyalah melawan Barat dengan cara mengembangkan teknologi dan berikan cara bagi Orang Timur untuk mengenalkan budayanya terhadap dunia melalui teknologi.

26 November 2019

Yang Tersinggung Kan Anda, Kok Saya Yang Harus Tanggung Jawab

 
 
Kamu hanya manusia, kamu tidak bisa menjadi selalu baik.
Orang lain boleh kok tersinggung tentang apapun yang kamu lakukan.
Kamu tidak bisa membatasi perasaan orang lain.
Dan bisa saja yang dikatakan orang lain terhadapmu adalah benar.
Kamu hanya manusia, pasti sering berbuat salah.
Sadari saja, dan akui saja.
Setidaknya jadilah manusia tanpa perlu berpura-pura sempurna...
*ngomong sama cermin

Kitakitu.id-

Pada dasarnya kita adalah orang jahat. Suka menertawakan kejelekan orang lain, Suka melihat orang lain gagal. Dan selalu berharap orang lain tidak lebih baik dari kita. Patut diakui juga bahwa kita adalah manusia yang memiliki ego sangat tinggi. Sehingga tidak mau untuk disalahkan, bahkan ketika sudah jelas-jelas salah pun tidak mau dianggap salah.

Banyak kasus yang sudah menjadi bukti, contoh ketika emak-emak yang ambigu ketika memakai lampu sen, kemudian ketika diingatkan malah kita yang salah. Ada juga bapak-bapak yang melawan arus untuk menghindari kemacetan, ketika disuruh putar balik malah ngajak ribut, duh Negara ini memang sangat damai… :v

Tidak hanya di jalan raya saja, di sosial media pun juga sangat “damai”. Banyak pertunjukkan yang bisa kita saksikan. Meskipun kelihatannya hanya berasal dari masalah sepele, namun kayaknya kurang afdhol kalau belum ribut.

Indonesia adalah Negara Demokrasi, dimana seharusnya menjunjung tinggi freedom of speech, atau kebebasan berbicara. Yang namanya kebebasan artinya memang bebas dan tanpa batas, jika sudah dibatasi maka artinya bukan kebebasan lagi.

Batasan freedom of speech itu seharusnya tidak ada. Selama hanya sebatas perkataan, konsep, ide, karya, maka itu tidak bisa dibatasi. Namun jika sudah merambah ke ranah tindakan itu baru bisa dibatasi.

Misal, ketika seseorang mengatakan “aku membencimu” itu bukan penghinaan atau penistaan, itu freedom of speech dong. Namun ketika konsep benci kemudian diterapkan dalam bentuk tindakan, itu namanya kriminal, karena itu baru bisa dibatasi ketika sudah menjadi tindakan.

Masalahnya kita selalu merasa diri kita paling benar. Sehingga saat kita tersinggung, seakan-akan kita boleh menyalahkan orang lain untuk melampiaskan amarah kita. Padahal tersinggung dan kebenaran adalah dua hal yang berbeda.

Seharusnya karena kita adalah warga yang kritis, Maka ketika ada argumen menyimpang ya dilawan dengan argumen dong, Ya masak setiap argumen yang tidak kita setujui harus dibalas dengan kekerasan. Ini seperti air susu dibalas dengan air terjun.

Kita memang sudah menjadi hamba terhadap ego diri sendiri. Saat ada yang mengomentari kejelekan kita biasanya malah dijawab “Liat dulu diri anda”, “ngaca dulu baru komentar”.

Masalahnya apakah kita harus menjadi “dewa” dulu untuk bisa mengomentari orang lain ? seakan-akan hanya orang yang “sempurna” yang berhak mengomentari orang lain. Padahal ia hanya sekedar mengingatkan. Apa yang salah ketika tukang becak mengingatkan pengguna motor untuk menggunakan helm ? apa harus jadi polisi dulu untuk boleh mengingatkan tentang berkendara ??

Sikap merasa benar dan tak mau disalahkan seakan sudah mendarah daging. Bahkan saat melakukan kesalahan pun maka jawabnya adalah “100 kebaikan akan kalah dengan 1 keburukan”.
Hemmmm onok ae alasane

Apakah ketika sudah melakukan beberapa kebaikan maka boleh melakukan beberapa kejelekan ? Apakah ketika kita sudah berbuat baik maka bebas melakukan kejahatan, meskipun hanya satu ? ya enggak dong… Kalau salah ya langsung paido.
Emang awakmu sopo kok gak oleh disalahno ?

Salah satu sumber masalahnya adalah sosial media. Sadar atau tidak, di sosial media kita bisa dengan mudah membuat dunia kita sendiri, kita dengan mudah menemukan orang yang hanya sependapat dengan kita, dan memblokir orang-orang yang bersebrangan dengan kita.

Sehingga kita menemukan orang yang membenarkan pemikiran dan tindakan yang kita lakukan. Ahirnya ketika ada yang tidak sependapat dengan kita maka akan menjadi masalah besar dan langsung menjadi musuh abadi tujuh turunan.

Akibatnya adalah tindakan bully di sosial media menjadi cemilan sehari-hari. Orang yang membully akan merasa menjadi benar, karena menurutnya ada yang lebih salah darinya, meskipun cara yang ia gunakan justru menjadi tindakan yang salah juga.

Hanya karena orang lain salah, bukan berarti kita bebas melakukan apapun untuk menyalahkan orang tersebut.

Contohnya dalam kasus kucing yang mati akibat diberi ciu oleh seorang pemuda. Saya agak ngilu ketika membaca komentar netijen yang budiman. Saya tidak menyalahkan ketika ada yang berkomentar buruk, namun kebanyakan malah menyumpahi pemuda tersebut, bahkan mengancam ingin membunuhnya.

Ya memang sih tindakan pemuda tersebut adalah salah, namun respon kita terhadap tindakan orang yang salah juga tidak boleh salah dong. Coba deh bayangkan, ada pemuda yang membunuh kucing, kemudian ada orang yang membela kucing tersebut dengan cara ingin membunuh manusia.. hah ? Kan ngerii

Ini bukan berarti saya tidak suka kucing lo. Etapi kalau disuruh memilih, saya lebih memilih berteman dengan pemuda yang memberi ciu pada kucing, dari pada orang yang kalau ada kesalahan langsung ngancam mau membunuh. Karena logikanya jika dengan pemuda yang membunuh kucing, paling kita cuma harus menyingkirkan kucing kita darinya, la kalau dengan orang yang mengancam membunuh, malah kita dong yang selalu terancam.

***

Entahlah… Seakan-akan ketika ada orang yang salah, maka bebas di apa-apain. Ini lo peraturan dari mana wahai bangsa persatuan ?

Orang yang di bully pun kadang malah ngamuk-ngamuk gak jelas, ini membuat saya ingin ngelus dada tetangga.

Dan momen yang lucu adalah ketika ada orang yang sudah jelas-jelas salah, lalu di bully oleh netijen yang budiman dan dalam keadaan terdesak tersebut kemudian ia mengatakan “sabar ajah, biar Tuhan yang bales”.

Duhhh… gini ya dek, Sabar itu bukan ketika anda ditindas. Namun ketika anda punya kesempatan menindas dan anda tidak melakukannya. Karena sabar itu kekuatan bukan kelemahan.

***

Wahai penduduk yang hobinya sambat, sudahlah, jangan menunjukkan sikap kayak gitu, kalau masih mau marah-marah, langsung saja tuh di rumah uya, lumayan dapet duit. hahay

Intinya jangan mudah tersinggung, di bumi bukan cuma kamu yang punya perasaan (NKCTHI).

21 November 2019

Shodaqoh Itu yang Penting Banyak, Bukan yang Penting Ikhlas


Nyambut gawe iku ibadah. Rezeki iku jatah



Kitakitu.id

Shodaqoh menjadi fenomena yang lucu, di satu sisi ada yang mengatakan shodaqoh itu yang penting ikhlas, di sisi lain ada juga yang menyuarakan shodaqoh dengan jumlah besar karena akan dilipatgandakan.

Dari kedua tim tersebut, antara tim ikhlas dan tim kuantitas, kiranya saya lebih memilih bergabung dengan tim kedua. Bagi saya Shodaqoh itu yang penting banyak, bukan yang penting ikhlas. Karena kalau nunggu ikhlas ya gak jadi shodaqoh dong.

Ikhlas itu perlu latihan yang lama, gak bisa ujuk-ujuk ikhlas. Makanya kalau mau shodaqoh ya shodaqoh ajah, masalah ikhlas itu urusan belakang. Sama halnya dengan sholat. Apa harus nunggu khusyu’ dulu baru mau sholat ? ya ndak bisa, la sholat kita lo masih sekedar memenuhi kewajiban saja.

Kita masih hobi ngelamun ketika sholat, mikir ini mikir itu. Efeknya apa ? orang yang katanya rajin sholat masih saja sering telat dalam beberapa kegiatan atau acara. Padahal kita pasti mafhum dalam sholat ada batasan waktu tertentu untuk menunaikannya, jadi seharusnya Sholat menjadikan kita untuk tepat waktu, bukan malah sebaliknya.

Tapi apakah hanya karena sholat kita sebatas memenuhi kewajiban dan terkesan tidak ikhlas maka kita boleh tidak sholat ? atau kita boleh sholat 2 waktu saja yang penting lillahitaAllah ?
Yo ra iso.

“Etapi percuma dong banyak shodaqoh tapi gak ikhlas”.

Memang sih kita bisa saja memperdebatkan shodaqoh orang lain itu ikhlas atau tidak, namun yang pasti, jika yang dishodaqohkan jumlahnya tidak lebih dari 10% isi dompet, besar kemungkinan itu malah tidak ikhlas. Ya namanya ikhlas masak peritungan sih.


Kalau dipikir-pikir, sebenarnya ini juga sama seperti emak-emak yang sering ngajak bicara bayinya. Kita pasti tau kalau seorang bayi tidak akan paham apa yang dibicarakan oleh kita, begitu juga sebaliknya, namun emak-emak terus “ngobrol” dengan si bayi.

Hasilnya apa ? seiring berjalannya waktu, si emak-emak jadi tau keinginan seorang bayi meskipun hanya melalui tangisannya saja.

oh iki wayae ganti popok,
oh iki jalok di gendong,
oh iki jalok susu.

Si emak tau apa yang diinginkan seorang bayi hanya dari tingkah dan tangisan saja. kenapa bisa seperti itu ? karena si emak terus-terusan ngemong sambil ngajak bicara bayinya.

Tidak mungkin dong kita nunggu si bayi bisa mengerti bahasa kita, baru diajak “ngobrol”. Ya hasilnya bisa saja bayinya malah tidak bisa bicara sama sekali, la wong gak tau latihan.

Di telateni wae, suwe-suwe lak iso…..


Ibadah pada dasarnya adalah wujud syukur kepada Tuhan, bukan memberi sesuatu kepada illahi.

Kalau misal ada makhluk berakal yang pada saat ada sumbangan kemudian ia memberi uang 2k lalu berargumen “yang penting ikhlas” maka sejatinya ia sangat tidak ikhlas.

Ya kalau mau nyumbang ya nyumbang ajah, gak usah mikir ikhlas apa enggak, karena terkadang meski hanya menyumbang 2k pun dalam hati kita masih grundel ? kayak ndak rela gitu uang kita diambil buat sumbangan. Bukankah kalau sama-sama grundel lebih baik nyumbang yang banyak sekalian ?? ya meskipun tidak ikhlas, setidaknya kita bisa menyenangkan orang lain dengan banyaknya sumbangan yang kita berikan. Mungkin itu menjadi sesuatu yang berguna bagi kita di hari esok.

Satu hal lagi, apakah dengan mengatakan “yang penting ikhlas” maka akan membuat amalanmu menjadi ikhlas ? bukankah ini sama naifnya ketika kita mengatakan “bukannya mau sombong nih” kemudian kita bercerita dengan penuh kesombongan ?? atau saat kita mengatakan “bukannya nuduh nih” kemudian memang nuduh :v

Ikhlas itu pada dasarnya dari hati dan tidak ada hubungannya antara jumlah yang disumbangkan dengan keikhlasan seseorang.

Wallahua’lam bisshowab









*dikutip dari ceramah KH. Anwar Zaid

17 October 2019

Logika Cania Citta Irlanie Tentang Kritik Netijen yang Salah Kaprah

Kitakitu.id-

Siapa yang tak kenal Abu Nawas ? tokoh ini sangat terkenal dengan kecerdikan dan kelucuannya, bahkan sering sekali terlihat menjengkelkan. Kebiasaan tersebut tidak hanya beliau lakukan ketika masih hidup saja, bahkan ketika sudah meninggal pun bagian depan kuburannya diberi pagar dengan gembok raksasa sehingga kalau ada orang ingin mengunjungi makam beliau, agaknya mustahil. Namun ndilalah di bagian kanan dan kiri kuburannya dibiarkan terbuka alias tanpa pagar sehingga bisa kita bayangkan gembok raksasa di bagian depan makamnya menjadi sia-sia. Kecerdikan dan kelucuan Abu Nawas memang selalu hidup.

Entah ingin meniru kelucuan Abu Nawas atau hanya ekspresi kebingungan saja, banyak sekali netijen yang suka meninggalkan jejak kelucuannya, salah satunya dalam masalah komentar atau kritik.

Memang sih di dunia maya kita bebas berekspresi se-alay mungkin. Kita juga bebas mengomentari ke-alay-an orang lain. Bahkan kita juga bebas untuk marah jika ke-alay-an kita dikomentari orang lain. Namun kebebasan tersebut agaknya mulai kebablasan dan ngawur, atau bahasa keseharian Cania Citta adalah Logical Fallacy.

Sekilas tentang Cania Citta Irlanie, perempuan yang akrab disapa Cania (read: kaniya) merupakan pemikir milenial yang inspiratif dan terkesan “intelektual”, hal ini tersirat dari kosa kata yang dia lontarkan ketika berbicara.

Cania mulai hangat diperbincangkan setelah pendapatnya di ILC yang menyatakan setuju dengan LGBT, karena menurutnya campur tangan Negara terlalu jauh jika sampai mengurusi dengan siapa seseorang harus berhubungan.

Pemikiran Sarjana Ilmu Politik di UI ini sering dianggap Liberal dan bermasalah oleh beberapa pihak, namun terlepas dari berkerudung atau tidaknya si Cania ini, hemat penulis dia merupakan sosok yang selalu mengedepankan Logika dalam setiap permasalahan.

Cania sering mengkritik pemikiran beberapa orang dengan logikanya, yang mana kolom komentarnya auto dihujat oleh netijen, namun bukannya marah, si Cania ini justru menanggapi komentar netijen dengan logika. Menurutnya banyak netijen yang sesat pikir dalam masalah kritik, beberapa yang dianggapnya salah kaprah antara lain :

1.   Harus bertemu Orangnya

Banyak sekali netijen yang berkomentar “kalau mau kritik ya temui orangnya dong, jangan cuma berani di belakang doang”. Komentar seperti ini di telinga Cania terdengar ngawur, karena kalau prinsip ini kita terapkan secara Masif dan Terstruktur maka wacana kademik akan menjadi kacau.

Bayangkan saja kalau kita ingin menulis kritik tentang “Das Capital” maka kita harus bertemu Karl Marx. Kalau kita ingin mengkritik Abu Jahal maka kita juga harus bertemu dengannya ?? masalahnya mereka kan sudah lama meninggal, bagaimana mau bertemu ?? lalu apakah ketika kita mengkritik beiau-beliau yang sudah meninggal maka kritik kita akan dianggap invalid ??

Jadi sangat ngawur jika kita menganggap bahwa kritik itu harus bertemu orangnya langsung atau harus live debate seperti debat Pilpres dan Harus One on One sambil diteriaki pendukung dan penghujat masing-masing agar kritikan kita bisa diterima.

Tapi yang lebih parah adalah komentar tersebut justru menyerang dirinya sendiri, karena kalau kita memakai logika demikian maka seharusnya netijen pun harus menemui si Cania dulu dong untuk mengkritik, kenapa malah mengkritik di kolom komentar ? :v


2.     Harus lebih Hebat dari yang Dikritik

Dalam video Cania tentang kritik Deddy Corbuzier, banyak juga netijen yang mengatakan “saya rasa anda tidak lebih pintar dari om deddy”, atau bahkan “jangan mengkritik dulu sebelum anda bisa lebih kaya dari om deddy”.

Apakah kalau kita ingin mengkritik seseorang maka kita harus lebih hebat dalam hal apapun ? kita kan cuma mengkritik beberapa hal saja dari orang tersebut, kenapa harus lebih hebat dalam segala aspek dari mulai kemampuan memasak sampai kemampuan menikung sebuah hubungan yang sedang hangat-hangatnya.

Kalau ini diterapkan maka penyanyi hanya akan bisa dikomentari oleh penyanyi, artis hanya bisa dikomentari artis, bahkan Presiden pun hanya bisa dikomentari oleh seorang Presiden. Duh ambyar…


3.     Mayoritas selalu Benar

“Dislike komentar ini lebih banyak daripada Likenya, kritik anda salah”.

Kritik yang lebih tidak disukai adalah salah, dan kritik yang banyak disukai adalah benar. Dalam daftar logical fallacy ini disebut sebagai “argumentum ad populum” yaitu ketika sebuah argumen dinilai lebih benar hanya karena lebih banyak orang yang menyetujuinya. Ada sebuah kata-kata bijak “Wrong is wrong even if everyone is doing it, right is right even if no one is doing it”.

Yah sepertinya kata-kata tersebut sangat relevan untuk diterapkan, karena meskipun ada lima juta orang mengatakan sesuatu yang salah, maka sesuatu itu tidak akan pernah berubah menjadi benar.


4.     Penyerangan Personal

“Orang ini Komunis”
“nih orang Liberal pasti”
“dasar kafir, tobat gobl*k”

Tidak setuju itu boleh saja, namanya juga beda orang beda pemikiran, namun bukankah lebih bermartabat kalau komentar kita tidak berbau identitas Gender, Suku, Ras, dan Agama ? menyerang personal merupakan tindakan Rasis. Hanya karena kita merasa benar, bukan berarti kita bebas melakukan apapun kepada yang kita anggap salah.

Kalau memang kita tidak setuju dengan sesuatu maka yang dikritik adalah argumennya, bukan personalnya.
Ngunu lo mbang bambang....


Dari semua hal yang telah saya paparkan tersebut, kesimpulannya sederhana “Komentar itu Boleh, tapi Goblok itu Jangan”.

13 October 2019

Gaji Anda Harus Sedikit kalau Mau Masuk Surga

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir
Di dalam hatiku
Sebagai prasasti terimakasihku
Tuk pengabdianmu
Engkau bagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa


Kitakitu.id-

Tidak terasa tahun 2019 akan segera berahir. Namun entah apa yang merasukimu  permasalahan di Indonesia juga akan berahir ?
Setiap minggu selalu saja ada peristiwa yang viral  trending serta membuat kita mengelus dada.

Salah satu yang agak sering diperbincangkan ahir-ahir ini adalah ungkapan dari bapak Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendi saat pidato dalam rangka peringatan Hari Guru Internasional pada tanggal 5 Oktober 2019 kemarin.
Beliau mengatakan “Kalau sekarang gajinya sedikit, apalagi guru honorer, syukuri dulu nikmati yang ada, nanti masuk surga,"
Penggalan pidato tersebut sontak menjadi viral  trending di kalangan warga net. Beragam tanggapan negatif pun muncul membanjiri pemberitaan di berbagai media.

Namun saya pribadi sih agaknya setuju dan mendukung pernyataan bapak menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita.

Kalau kita cermati pidato tersebut sebenarnya beliau cuma memberikan tips masuk surga kepada kita semua. Perlu diketahui bahwa peringatan Hari Guru Internasional tersebut bertema Guru Milenial, Sebuah Profesi Masa Depan. Jadi tidak ada salahnya dong memberikan tips masuk surga saat pidato hari guru Internasional tersebut. Surga kan yo masa depan :v (tenang pak saya belain :v).

Salah satu hal positif yang saya tangkap dari pidato beliau adalah selain harus jadi guru yang ikhlas dan bersyukur, kalau ingin masuk surga juga harus bergaji sedikit.

Selain itu, dalam pidatonya beliau juga mengatakan “misalnya guru mengajari anak salah, maka yang menderita nanti bukan anak yang salah itu, tetapi semua orang yang berelasi dengan anak itu, termasuk keturunannya yang akan datang”.
Lebih lanjut beliau mengatakan "Dampaknya luar biasa. Kalau guru mengajarkan salah, maka punya implikasi yang besar. Kalau sifatnya ilmu pengetahuan, tapi kalau karakter itu sulit. Kalau banyak koruptor, itu salah satu yang salah guru. Cuma dari mana, bagaimana ceritanya kok jadi koruptor, itu ya itu sulit. Itu untuk mengetahui betapa besarnya tanggung jawab sosial guru".

Jadi jelas sekali bahwa selain gaji guru sedikit, beban moral yang dibawa juga sangat luar biasa, ini alasan yang sangat kuat bahwa guru akan masuk surga. Karena seperti yang kita tahu bahwa orang yang masuk surga adalah orang yang melarat (Jomblo tidak termasuk).

Tidak hanya itu, masih dalam pidatonya, beliau juga bicara pentingnya organisasi profesi untuk guru. Menurutnya, guru memerlukan organisasi profesi untuk mengasah kompetensinya.
"Pentingnya asosiasi profesi, maksudnya adalah tempat untuk mengasah itu. Bukan untuk arisan, dukung sana dukung sini. Itu bukan organisasi profesi, itu perkumpulan. Karena itu saya bilang, guru ini harus dibangkitkan namanya self dignity. Tanpa self dignity, guru tidak mungkin mencapai performa pekerjaan yang betul-betul hebat".

Nah, dari sini sangat jelas beliau memberikan motivasi kepada guru-guru bahwa dalam kesehariannya, seorang guru harus meningkatkan keprofesionalannya dengan cara berorganisasi profesi. Jadi prioritas utama adalah mengajar. Kalaupun seorang guru memiliki keluarga, tentu mungkin lebih baik dikesampingkan dulu, karena mengejar surga itu lebih baik :D
***
Sekedar curhat, dulu saya pernah berpikir, alasan anak-anak lebih banyak bercita-cita untuk mengobati masyarakat (dokter) dari pada mencerdaskan anak bangsa (guru) adalah karena gaji dokter sebulan sama dengan gaji guru (honorer) setahun. Karena itu jurusan kedokteran di isi oleh anak-anak yang cerdas, sedangkan jurusan Pendidikan di isi oleh anak-anak yang salah jurusan.

Namun setelah mendengarkan pidato beliau, saya menjadi sangat yakin bahwa di hari ini akan banyak anak-anak yang memilih jurusan Pendidikan karena ganjarannya surga.
Saya juga yakin sih ahir-ahir ini menantu idaman akan beralih dari pengusaha muda menjadi guru-guru yang bergaji sedikit. Ya siapa sih yang gak mau punya menantu yang masuk surga.
***
Etapi kalau boleh bicara serius yah, faktanya seorang guru memang kurang dihormati, kita lebih menghormati seorang dokter dari pada seorang guru. Gak ada tuh kasus dokter dianiaya oleh pasien, kalau guru dipukul murid mah banyak. Padahal seorang guru harusnya sangat layak dihormati.

Meminjam perumpamaan dari cak nun tentang “Gentong dan Ceret”.

Gentong adalah sebuah wadah besar yang berisi air. Biasanya gentong mampu menampung sekitar 20-50 Liter air. Gentong memang sengaja berukuran besar agar isi ulangnya bisa kembali dilakukan dalam waktu yang agak lama. Air dalam Gentong adalah air yang belum matang, karena itu air tersebut tidak layak untuk diminum, kalaupun nekat diminum pun rasanya pasti tidak wajar.
Fungsi Gentong adalah untuk menampung air yang digunakan untuk memasak, fungsi air gentong ini sangatlah penting, namun perlakuan terhadap Gentong sangatlah miris. Gentong selalu di taruh di ujung belakang rumah atau di pojok dapur yang berdebu dan gelap, serta biasanya di atas Gentong selalu ditaruh barang-barang lainnya sehingga Gentong seperti ada namun tak dianggap.

Berbeda dengan Ceret. Seperti yang kita ketahui, Ceret adalah tempat minum yang menampung air sekitar satu Liter saja. Air dalam ceret pun biasanya adalah air siap minum atau bahkan diolah menjadi kopi, teh, sirup atau semacamnya. Air ini kemudian dituangkan dalam gelas kosong untuk suguhan tuan rumah kepada tamunya, sehingga Ceret pun selalu dalam keadaan bersih dan berwarna-warni agar terlihat “pantas”.

Tapi sebagus apapun tampilan Ceret atau seenak apapun air dalam Ceret, ia akan selalu butuh air dalam Gentong untuk isi ulang.


Dalam perumpamaan tersebut, kita bisa bersepakat bahwa Gentong adalah seorang guru yang memiliki air (ilmu) yang cukup banyak dan dibutuhkan untuk keseharian. Namun sepertinya kita tidak bisa bersepakat dalam pemaknaan secara keseluruhan, karena itu mungkin kita bisa memaknainya sendiri sesuai hati nurani masing-masing.
***
#SekedarMengingatkan : Tugas guru itu tidak hanya memahami pelajaran, namun juga memahamkan pelajaran kepada anak didiknya. Guru memang bukan menjadi profesi yang hebat, namun guru bisa menjadikan anak didiknya berprofesi hebat.
Semoga guru-guru di Indonesia menjadi guru yang di gugu lan di tiru, bukan guru yang di gugu lan di paidu.