30 November 2018

Pantaskah Jarak menjadi Acuan dalam Qosor Sholat di jaman Modern ??


Perkembangan teknologi menjadi momok menakutkan tanpa kita sadari, banyak sekali personalan yang muncul dan harus diberikan solusi, terutama bagikaum awam yang hanya bisa manut dengan para ustad/ustadzah. Salah satu yang masih membingungkan dalam pemikiran saya adalah masih pantaskah jarak menjadi acuan dalam diperbolehkannya qoshor sholat ?. Kita tahu bahwa imam madzab memiliki perbedaan dalam penentuan masalah jarak, ada yang mengatakan 60 km, ada yang 89 km, ada juga pokoknya melewati desanya maka sudah boleh qosor sholat.  

Nah..yang menjadi persoalan adalah ketika kemajuan teknologi sudah berkembang pesat, bahkan jarak 500 km bisa ditempuh dalam waktu satu jam saja. Kalau kita jadikan contoh, si bambang adalah seorang pendaki gunung, yang mana, jarak 20 km ditempuh dengan perjalanan sehari semalam, karena dengan berjalan kaki. Kemudian si bejo, yang melakukan perjalanan dari Jakarta ke Surabaya menggunakan pesawat terbang dengan jarak lebih dari 500 km yang ditempuhhanya dengan satu jam perjalanan saja. Siapakah yang lebih layak untuk qosor sholat? apakah si bejo karena jarak menjadi acuannya ataukah si bambang karena kondisi yang menyulitkan ??? 

Sebelum itu mari kita pahami dulu perbedaan jamak dan qoshor. Jamak adalah menggabungkan dua waktu sholat yang jaraknya berdekatan untuk dikerjakan dalam salah satu waktunya. Dhuhur dengan ashar, maghrib dengan isya’. Sedangkan shubuh tidak dekat kemana2 jadi tidak ada alasan untuk menjamak sholat shubuh. Kemudian Qoshor adalah meringkas sholat yang 4 rokaat menjadi 2 rokaat karena alasan tertentu. Jadi jamak dan qoshor bukan suatu kesatuan. Memang boleh me jamak dan qoshor sholat pada satu waktu,  namun kita juga boleh menjamak sholat tanpa qoshor,atau qoshor sholat tanpa jamak. 

Kebolehan qoshor sholat ini dijelaskan dalam Alquran surat An-Nisa ayat 101 yang artinya “dan apabila kamu bepergian di Bumi, maka tidaklah berdosa kamu mengqashar Sholat jika kamu takut diserang orang kafir. Sesungguhnya orang kafir adalah musuh yang nyata bagimu”.

Perlu di pahami juga bahwa jamak dan qoshor ini merupakan Ruhsoh, yang mana ruhsoh ini lebih baik di ambil, walaupun kita merasa mampu untuk melaksanakan sholat tanpa mengambil ruhsoh ini, bahkan menurut Imam Abu Hanifah, Ruhsoh ini sifatnya wajib, jadi kalau tidak di lakukan maka berdosa, walaupun sholatnya tetapsah. Menurut madzab Imam Malik adalah Sunah, dan madzab imam syafii adalah mubah, akan tetapi menjadi sunah jika di dalam hati kita merasa tidak enak akan kemurahan hati Allah. kesimpulannya Imam Syafii menjadi sunnah. Ibaratnya kita mengunjungi atau bertamu pada kerabat kita, kemudian kita dibelikan bakso oleh kerabat kita, akan sangat kurang bijak jika kita menolak jamuannya tersebut. Ruhsoh juga demikian, alangkah kurang etis jika kita menolak kemurahan Allah untuk memudahkan kita menjalankan kewajiban.

Oke kembali pada pembahasan, pada persoalan diatas. Pertama perlu di ingat kembali bahwa Qoshor itu termasuk Ruhsoh, yaitu suatu kemudahan yg diberikan kepada seseorang yg tidak bisa melaksanakan sholat sebagaimana wajarnya. Kalau seandainya jaraknya lebih dari 16 farsah, tapi bisa di tempuh dengan beberapa jam, yang tidak mencapai jarak antara sholat satu dan yang lainnya, ya kenapa perlu di qoshor ?.Misalnya kita berangkat jam 7 pagi, sampai tujuan jam 8 pagi, apa yg perlu di qoshor ? ya tidak ada. kalaupun berangkat jam 11 siang, dan sampai tujuan jam 12 siang, apa yg perlu d qoshor ? qoshor itu meringankan hal yang dianggap berat, kalau hal yang memberatkan itu sudah hilang, maka ruhsohnya sudah tidak berlaku. 

Kemudian yang kedua, mari kita rinci lagi pertanyaannya. jarak 20 km tapi di tempuh dalam waktu sehari semalam, artinya jaraknya belum mencapai 16 farsah, tapi di tempuh dengan waktu sehari semalam karena dengan jalan kaki. Sebenarnya persoalan qoshor yang termasuk ruhshoh ini terkait dengan 2 hal, yaitu Masafah dan Masyaqqah. Masafah adalah jarak yang ditempuh, sedangkan Masyaqqah adalah kadar kesulitan dalam perjalanan. 

Menurut Imam Syafii jika dalam perjalanan meskipun jaraknya kurang dari 16 Farsah, tapi ditempuh dengan jarak sehari semalam, maka boleh di qoshor. Perlu di garis bawahi yaitu minimal perjalanan 24 jam atau sehari semalam. Kurang dari itu maka tidak boleh. Sedangkan madzab Imam Abu Hanifah dengan tegas mengatakan kadar Masyaqqah harus dengan 3 hari 3 malam.

Jadi dalam studi kasus tersebut si bejo yang melakukan perjalanan sejauh 500 km menggunakan pesawat terbang dengan 1 jam perjalanan saja, maka kurang etis jika mengqosor sholat, karena tidak memenuhi syarat ruhsoh. Sedangkan si bambang yang seorang pendaki ini menurut Imam Syafii, boleh melakukan qoshor sholat, karena kondisi yang menyulitkan, dimana harus menempuh jarak sehari semalam (tidak perjalanan untuk maksiat), sedangkan menurut Imam Abu Hanifah tidak boleh karena harus dengan perjalanan 3 hari 3 malam. 

Namun perlu di ingat, bahwa yang paling utama untuk mendapatkan Ruhsoh ini adalah tujuan. Jika tujuannya adalah maksiat, maka tidak boleh melakukan qoshor sholat walaupun jarak dan kondisinya sudah memenuhi syarat.
Wallahua’lambisshowab.

Oleh: Bamz

Baca Juga :

kitakitu.id

This Is The Oldest Page

Komen dong
EmoticonEmoticon