08 May 2019

Lika-liku Sejarah Islam Indonesia: Islam dan Komunis yang Sempat Diperjuangkan untuk Bersatu


Terasa aneh memang suatu hal yang sebenarnya kontradiktif tapi berusaha untuk disatukan. Apalagi mengharmonikan dua hal yang berhubungan dengan keyakinan dan ideologi yang berbeda.
 
Tentu bersatunya bukan karena hal yang kemudian dianggap sebagai singkretisme. Akan tetapi penggabungan yang masih dalam batas wajar sebagai sebuah lika-liku sejarah yang pernah terjadi di masa lampau.

Islam merupakan sebuah ajaran yang di dalamnya mengandung unsur-unsur ketauhidan. Islam memberikan keselamatan bagi para pemeluknya. Mensyariatkan untuk menyembah Allah dan taat terhadap Rasul Allah. Islam memiliki dasar sebagai pedoman untuk menjalankan agama. Yaitu kitab suci Alqur’an dan Hadits.

Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa banyak dari para tokoh Islam menentang adanya komunis. Komunis bagi tokoh-tokoh Islam sangatlah ditentang dan bahkan anda bisa menemukan buku karya Ali Shariati berjudul Kritik Islam atas Marxisme dan Sesat Pikir Barat Lainnya

Dari judulnya saja kita sudah bisa menebak kemana arah yang ingin dibawa oleh Ali Shariati dalam memberikan pendapatnya terkait dengan Marxisme (komunisme).

Ketika Islam mengajarkan demikian, komunisme sebenarnya bukan lahir sebagai respon atas adanya Islam. Makanya keduanya bukan sebuah kontradiktif yang secara jelas bisa dijelaskan dengan gamblang.

Komunis lahir sebagai respon atas adanya kapitalisme. Kapitalisme yang tentunya ditawarkan oleh Barat dan hal tersebut tentunya berdampak pada “yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin”.

Maka dengan itulah, komunis sangat menentang kapitalis. Karena komunis lahir untuk melindungi hak-hak kaum bawah yang dieksploitasi oleh kaum kapitalis Barat. Dan nama lain dari gerakan komunis adalah sosialis.

Nah, apabila dilihat dari penjelasan di atas, dari segi ideologi, komunis memiliki lawan yaitu kapitalis. Tapi dari sudut pendang lain. Komunis juga merupakan lawan dari Islam.

Mengapa bisa demikian?
Ada dua alasan, yaitu ditinjau dari segi normatif dan dari segi gerakannya.

Secara normatif, komunis berpendapat bahwa kedaulatan tertinggi ada ditangan rakyat. Bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan dsb. Itu artinya kemudian dimanakah kedudukan wahyu yang notabene wahyu adalah suara Tuhan?

Selain itu dalam konteks Indonesia, komunis yang gerakannya terwakili oleh PKI memiliki orientasi perjuangan yang berbeda dengan organisasi lain. Tentunya perbedaan itu adalah permasalahan radikalismenya PKI.

Nah, disitulah alasan kenapa komunis sangat ditentang oleh kelompok Islam. Di dunia maupun di Indonesia.

Namun di Indonesia, yang diawali di kota Semarang. Komunis bisa diterima oleh organisasi yang bernama Sarekat Islam. Dari namanya saja kita pasti tahu orientasi organisasi tersebut mengarah kemana.

Sarekat Islam Semarang yang saat itu dipimpin oleh tokoh bernama Semaun mendapatkan pengaruh dari orang Belanda bernama Sneevliet yang mendirikan organisasi ISDV.

Organisasi tersebut (ISDV) mengatasnamakan sebagai sebuah organisasi yang bergerak di bidang sosial. Bahasa singkatnya ISDV adalah organisasi sosialis yang mendukung agenda-agenda komunis.
Bahkan Semaun adalah tokoh yang menghapus Sarekat Islam Semarang dan menggantinya dengan Persjerikatan Komunis di Hindia (PKI).

Sedangkan Sarekat Islam (SI) di sini adalah sebuah organisasi yang dulunya bernama Sarekat Dagang Islam (SDI). Dari namanya kita pasti bisa tahu, bahwa kata Dagang, artinya adalah pedagang. Dan profesi pedagang dalam bahasa sejarah diartikan sebagai kelompok menengah kebawah.

Di sinilah titik temu antara komunis dan SI (menurut sebagian orang).

Orang yang sangat mendukung gagasan ini adalah H. Misbach, seorang Muslim yang lahir dan berjuang di Surakarta. Ia terkenal dengan gagasannya yaitu Komunisme Islam, dan dijuluki sebagai Hadji Merah.

H. Misbach seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa ia adalah tokoh yang mencampuradukkan antara ideologi komunis dan Islam, mengingat dia adalah seorang yang lahir dan besar dikalangan religius dan juga mendukung agenda-agenda komunis.

Kontroversi tersebut yang dulu sangat diperdebatkan. Kekuatan H. Misbach disokong oleh kedudukannya sebagai pemimpin redaksi Medan Moeslimin. Yang dengan diterbitkannya tulisan-tulisan Misbach bertema Islam dan komunis akan langsung bisa dikonsumsi oleh masyarakat.

Menariknya, argumen Misbach yang menggabungkan antara Islam dan komunisme tersebut dilegitimasi oleh ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits nabi yang sering ia kutip.

Salah satu hadits nabi yang sering ia gembor gemborkan adalah anjuran untuk membayar upah sebelum keringat kering. Hadits tersebut kata Misbach membuktikan bahwa nabi Muhammad sangat perduli terhadap kaum buruh, dan kaum bawah. 

Hal itu yang juga tengah diperjuangkan oleh Misbach untuk mengatakan kepada publik bahwasanya komunis tidak bertentangan dengan Islam. Bahkan bisa untuk dipersatukan.

Namun, bagaimana kemudian komunisme Islam itu bisa diterima?? atau bahkan komunisme Islam tidak bisa diterima sama sekali??
kita bahas di part berikutnya.

Komen dong
EmoticonEmoticon