23 May 2019

Pacaranlah bambang!!!




Apakah dengan memanggil abi dan umi membuat pacaran terlihat islami ?
apakah dengan mengingatkan pacar untuk sholat membuat pacaran di anggap halal ? udah putusin ajah :v

ahahay
hidup di era milenial adalah sebuah tantangan tersendiri bagi kita. Di era ini banyak sekali kemudahan yang kita dapat. Termasuk kemudahan untuk pamer. Sosial media menjadi fenomena pamer bagi kebanyakan orang (termasuk saya :v)

ada yang memamerkan harta, ada yang pamer liburan, ada juga yang pamer jabatan, bahkan ada juga yang pamer wisuda, wok dasar alay, mentang-mentang saya belum wisuda :p

selain foto wisuda, hal yang membuat saya "mangkel" adalah pamer pasangan. Ada yang foto gandengan tangan, ada yang dempetan, dan masih banyak gaya lagi yang menurut kebanyakan orang (aku sih NO) adalah sebuah kemesraan, foto gaya mesra lah.. prett. Paling pas putus juga gak saling sapa :v

Hidup di kota juga membuat jiwa jombloku bergejolak, bagaimana tidak, tiap hari, tiap tempat pasti ketemu orang yang pacaran, apalagi malam minggu. Duh gandengan everywhere

kadang saya juga berpikir, kenapa sih orang pacaran harus gandengan tangan ? kayak anak kecil ajah di pegangi tangannya. Ciyye pacarnya sok dewasa, udah putusin ajah wes :v

Meskipun saya tidak punya pasangan, namun saya kok agaknya kurang setuju dengan label bahwa pacaran itu haram. Pacaran itu zina.
kata ustadz-ustadz di yutup (yang sering dibuat story temen2 yang baru hijrah) pacaran itu haram karena mendekati zina, lalu apakah pacaran memang haram ?

Nah, santai mblo, sebelum saya menyampaikan unek-unek saya tentang kebolehan pacaran, kita harus tau pengertian pacaran terlebih dahulu.
(Sekali lagi, ini cuma unek-unek saya sejak lama, kalau merasa ada yang salah, monggo berikan saya pencerahan).

Perlu diketahui bahwa pacar menurut KBBI adalah teman lawan jenis yang memiliki hubungan berdasarkan kasih. (kalau gk percaya bisa cek di KBBI… ndang, saikiii)

Coba ulangi lagi membaca pengertian tersebut, apakah sudah ? jika sudah, coba temukan apakah ada kata zina didalam pengertian tersebut wahai akhi ??

Ahahay kalau alasan melarang pacaran itu jelas, mungkin bisa di diskusikan. Tapi kalau alasan melarang pacaran adalah karena mendekatkan zina, agaknya saya kok kurang mau menerima (meskipun saya jomblo). Sebagai contoh sebuah pisau, apakah dengan alasan pisau ini bisa mengakibatkan kematian, maka menggunakan pisau berarti haram ? menggunakan pisau beararti dosa dan masuk neraka ??? apakah demikian ya akhi ??

Kalau kita Tarik benang merahnya, yang seharusnya kita haramkan bukan pacaran, namun cara orang untuk berpacaran. Ibarat pisau tadi, jika pisau dapat menyebabkan kematian, yang perlu kita salahkan, bukan pisaunya, tapi cara orang menggunakan pisau tersebut. Faktanya, ketika ada orang yang menggunakan pisau untuk membunuh, yang di penjara adalah orangnya, bukan pisaunya. (agak filosofis :v)

Yah karena jika diharamkannya pacaran sebab mendekatkan kepada zina, maka buanyak sekali hal yg akan diharamkan juga, seperti: mencari teman lawan jenis, sekolah (yang satu kelasnya campur ewek dan cwok), instagraman (karena bisa liat foto lawan jenis), dll.

Yang kedua, pacaran itu menjalin hubungan kasih sayang dalam rangka saling mengenal satu sama lain, dan saling memahami kebesaran Allah di balik tumbuhnya rasa kasih dan sayang.
Dalam agama pun kita di haruskan untuk saling menyayangi, apalagi rasa adalah sebuah bentuk emosi yang tidak bisa kita tolak.

Sudjiwo tejo pernah mengatakan “kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa”
Artinya manusia memang tercipta untuk mencintai, apa yang salah dengan mencintai. Jika ekspresi dalam mencintai adalah membentuk sebuah hubungan yang dinamai “pacaran” maka hemat penulis boleh-boleh saja, asal dalam rangka saling mengenal dan memahami untuk mempersiapkan lagi diri duduk berdua dalam suatu ruangan dan semua orang berkata “sah”

Yang ketiga
Pacaran dan ta’aruf itu sama bambang…
Apakah karena ta’aruf memakai bahasa arab, maka dikatakan halal gitu ?? Seperti yang saya jelaskan di atas, tujuan pacaran adalah saling mengenal, ytang kalau kita translate, saling mengenal dalam bahasa arab adalah ta’aruf.

Lalu kenapa kita perlu saling mengenal terlebih dahulu ? bukannya lebih baik jika langsung menikah saja ??

Manusia adalah binatang yang berakal, saya yang hobi memelihara hewan, sering mengamati bahwa hewan pun sebelum “kawin” juga melakukan proses saling kenal, itupun kadang berahir kandas :v tidak semua hewan yang kita pasangkan akan berahir perjodohan, kadang juga ada penolakan dan kegalauan diantara mereka. Itu hewan yang tidak punya akal lo yah. Apalagi manusia yang punya akal. tentunya membutuhkan masa yang lebih panjang untuk memutuskan hidup berdampingan.

Tapi memang ada sih beberapa yang masih mau melakukan pernikahan karena di jodohkan orang tua, namun hanya sebagian saja, itupun juga karena “kepepet”. Logisnya seseorang mau menikah membutuhkan waktu untuk saling mengenal terlebih dahulu, yang lama atau tidaknya menyesuaikan sitkonnya masing-masing.
Saling mengenal memang tidak wajib sih, namun ibarat membeli kucing dalam karung, bukankah lebih baik saling mengenal terlebih dulu siapa yang akan kita ajak untuk nganu (wayae-wayae) secara halal.

Jika tujuan pacaran adalah untuk saling mengenal saja, maka untuk kemaslahatan masa depannya, boleh dong. Namun walaupun sering ngingetin sholat, zakat, puasa haji, ataupun pacarannya manggil abi dan umi, jika pacaran dengan tujuan melampiaskan nafsu ”wayae” maka pacaran yang sejenis ini tentunya tidak layak untuk dilakukan (apalagi anda jomblo).

Poin saya di sini adalah halal haramnya pacaran sebenarnya tergantung dengan apa dan bagaimana anda mendefinisikan kata tersebut.

Dan terahir, untuk kalian semua, jangan pernah mengharamkan pacaran hanya karena kalian jomblo… ahahay

Silahkan tinggalkan komentar dan hujatannya wahai netijen budiman

kitakitu.id

1 komentar

Ustadz mau tanya ,apa hukumnya mengganggu orang yang sedang asyik pacaran di taman villa bukit Tidar?

Komen dong
EmoticonEmoticon