08 May 2019

PEREMPUAN HARUS JADI MAKMUM ??







Dalam mempelajari ilmu agama, banyak sekali hal yang mengganggu pikiran saya. Salah satunya adalah ungkapan bahwa pria dan wanita berada pada posisi yang sama. Penulis sangat setuju akan konsep tersebut.

Wanita dan pria memang harusnya berada di posisi yang sama. Islam pun sangat mengupayakan agar tidak ada kesenjangan antara dua jenis kelamin ini, salah satu usahanya yaitu adanya surat an-Nisa yang artinya wanita-wanita.

Namun ketika mempelajari lebih lanjut, banyak pertanyaan yang bermunculan, seperti: jika memang pria dan wanita setara, lalu kenapa yang berhak jadi imam sholat harus pria ??

“Loh wanita boleh jadi imam kok, asalkan makmumnya juga wanita”

Oke kita ralat pertanyaannya.
Kenapa dalam satu jamaah yang isinya pria dan perempuan, yang berhak menjadi imam adalah pria ?? dan wanita tak boleh ??
Lalu dimana keadilan dalam memperlakukan manusia tanpa memandang gender??

Ketika ada pertanyaan demikian, mungkin sebagian dari kita akan menjawab “ya memang di nashnya sudah kayak gitu, memang fitrahnya pria menjadi imamnya perempuan”
Ya mungkin agak benar sih :v
Seperti ketika menjawab dengan “takdir”

memang tidak salah, akan tetapi rasanya kurang pas jika kita dibekali dengan akal dan hanya seperti itu jawaban yang keluar dari mulut kita. Nah kalau di analogikan ibarat ada pertanyaan “kenapa babi haram dimakan” dan kita hanya menjawab takdir :v
memang tidak salah juga, namun akan lebih memuaskan bila kita menjawabnya “karena adanya cacing pita, yang mana cacing pita ini sangat berbahaya bila masuk ke pencernaan kita, blablabla”

jika kita cermati, dua jawaban di atas sama-sama memiliki kebenaran, hanya saja kita akan lebih puas dengan jawaban yang kedua, karena adanya perpaduan pengetahuan dan pemahaman.

Nah kembali lagi kepersoalan keadilan bagi wanita, penulis agak kebingungan menjawab pertanyaan tersebut, yang mana pertanyaan tersebut sebenarnya juga berasal dari pemikiran penulis sendiri :v

Karena keingintahuan dan kegabutan yang haqiqi, ahirnya penulis mencoba mencari jawaban untuk pertanyaan tersebut, sekedar memuaskan keingintahuan dan mengisi jam nganggur. :p

Dengan berbekal letak geografi dan astronomi yang sangat berdekatan dengan perpustakaan dan warung kopi, ahirnya penulis menemukan beberapa jawaban yang agak ngeh
Pertama kita harus paham dulu tentang konsep keadilan. Keadilan bukan berarti kesamarataan. Adil bukan berarti sama rata. Contoh: saya memiliki dua orang anak, yang satu sudah kuliah,
yang satunya masih SD. Nah jika saya memberikan masing-masing 10k untuk uang saku, apakah tu adil bagi mereka ?? yang mana mereka punya kebutuhan yang berbeda ?

Nah konsep keadilan juga demikian, jadi tidak harus sama rata, Karena setiap individu punya porsi masing-masing.

Oke kembali pada permasalahan di atas
Mayoritas ulama memutuskan bahwa wanita tidak boleh menjadi imam atas lelaki agaknya karena sholat adalah ibadah murni, dan mempunyai landasan dari Alquran dan sunnah. Nah disini mereka menetapkan bahwa tidak ditemukan kasus pada masa Nabi yang mana perempuan menjadi imam sholat atas lelaki.

Lalu kenapa hal tersebut bisa terjadi ? apa alasannya ??
Jika kita bertanya tentang hikmah atas kejadian tersebut maka menurut quraish shihab adalah untuk menghindari konsentrasi ketika shalat.

Logikanya dalam gerakan sholat ada ruku, dan sujud, nah, coba bayangkan apa yang terjadi ketika kita sebagai lelaki yang sedang sholat, dan ada pemandangan yang demikian ??
Selain mengganggu konsentrasi ketika sholat, ini tentu malah akan melecehkan perempuan secara tidak langsung. Mungkin ini juga alasan kenapa dalam shaf sholat jamaah lelaki barisannya ada di depan perempuan.

Tuntunan islam sangat istimewa. Tidak sekedar memadamkan api, tetapi menghindari timbulnya api. Karena itu dalam Syariat Islam sudah di atur dengan seadil-adilnya, dan untuk menemukan hikmahnya, sudah sewajarnya kita menggunakan akal kita untuk mengolah setiap peristiwa. Tentunya dengan acuan Alquran dan Hadis.

Yang perlu dicatat bahwa memang ada riwayat yang menyebutkan bahwa perempuan boleh menjadi imam bagi lelaki atau perempuan yang tinggal bersama di rumahnya.
Namun riwayat tersebut di nilai lemah oleh sebagian besar ulama.
Wallahu a’lam






Refrensi
Quraish shihab, islam yg di salah pahami, lentera hati, 2018





kitakitu.id

Komen dong
EmoticonEmoticon