26 June 2019

Kenapa berbeda jadi salah ??

~The Journey In Pancasila Village.

Desa balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan….
Bagi yang belum tahu, desa ini dijuluki desa “pancasila”. Bukan tanpa alasan tentunya. Setidaknya ada tiga Agama yang hidup dalam satu lokasi. Bahkan menurut keterangan warga sekitar, ada juga tiga agama dalam satu keluarga. Amazing ancene
Bukan cuma itu saja, paling tidak sampai saat ini, desa tersebut hidup berdampingan dengan 3 agama tanpa ada masalah.. padahal, seperti yang kita ketahui, isu agama adalah isu yang paling sensitif untuk di bahas.

Pertanyaannya, kenapa mereka bisa hidup rukun?
Padahal ada 3 agama dalam satu lokasi…
Padahal ada 3 agama dalam satu keluarga…

Kuncinya adalah proses saling mengenal. Mereka mau untuk mengenal satu sama lain… Salah satu alasan adanya permusuhan memang karena tidak mau saling mengenal. Ada pribahasa yang tentunya tidak asing lagi di kalangan masyarakat yang beranjak menua.

Tak kenal maka tak sayang, yuk kita saling kenal, siapa tau bisa saling sayang… :v

Di desa balun, ketika ada perayaan ogoh-ogoh (perayaan umat Hindu), semua warga hadir. Begitupun ketika umat Islam “takbiran”, mereka semua tidak ada yang terganggu. Ya wajar dong, karena mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Ibaratnya ketika kita sudah kenal dengan teman kita, meskipun mereka “mesoh”, kita tidak akan merasa tersinggung.

Namun, berbeda dengan pengalaman saya pribadi, ketika ikut rombongan untuk ziarah wali, ketika akan melakukan sholat saja harus memilih masjid yang alirannya sama dengan rombongan tersebut. Disini saya pribadi bertanya-tanya, Kenapa kita harus merasa berbeda, padahal tujuannya sama?.

Coba kita ingat-ingat aktivitas sehari-hari kita. Bukannya kita punya budaya yang menuntun untuk mencari persamaan dan mencari kemudahan?  Bukan malah mencari permusuhan… contoh: apapaun merk dari air mineral tetap disebut aqua, meski merknya Cleo, atau bahkan Alamo. Kemudian Penyebutan rinso untuk sabun cuci, meski merknya daia.
Itu budaya kita… yang selalu mencari titik kompromi dalam setiap permasalahan. Ketika ada yang menyebut Aqua, padahal merknya Cleo pun tidak ada yang tersinggung. Karena budaya kita mengajarkan untuk saling memahami dan saling kompromi. Sehingga tidak pernah di permasalahkan.

Orang Indonesia, khusunya jawa memang punya terminologi yang out of the box. Orang jawa sering memudahkan segala sesuatu dalam aktivitas sehari-hari. Seringkali maksudnya yang sama, hanya saja bahasanya di buat mudah agar bisa di pahami oleh semua kalangan.
Contoh: dalam speedometer kapasitas bensin. Ada huruf “F” dan “E”. Harusnya, huruf F adalah singktan dari full dan huruf E adalah singkatan dari empty (habis). Nah ketika teknologi ini masuk di jawa, eh ndilalah huruf “E” di anggap kepanjangan dari “Entek”… ya memang salah sih, tapi maksudnya kan sama saja.. toh mereka juga paham kalau E berarti sudah waktunya ngisi bensin. Nah itu lo yang dinamakan kearifan lokal. 

Dalam fenomena yang saat ini terjadi, kita menjadi anti terhadap perbedaan. Kita menjadi pribadi yang memandang bahwa hanya warna putih yang suci…
Seakan sudah terpatri pada maindset kita, bahwa yang putih itu baik, dan hitam itu kotor…
La mbok piker warna mek ono iku tok ? ndiasmu ambyar…

Aplikasinya adalah pada saat pemilu. Kita memilih berdasarkan pemikiran bahwa yang satu baik dan yang satu jahat. Sehingga kelompok lain yang disebut jahat pun tidak terima dong.. ahir e MABAR (Maido Bareng).
Kalau kita lebih berpikir jernih. Sama halnya dengan kehidupan, dalam politik sebenarnya tidak ada orang baik dan orang jahat. Adanya hanyalah orang. Nah orang itu kadang baik, kadang juga jahat.
Masalahnya, kita sering mendewakan seseorang yang kita anggap baik, dan menganggap segala yang dilakukannya selalu baik juga. Kemudian kita menganggap pesaingnya adalah jahat, dan meyakini segala yang dilakukannya adalah kejahatan. Ahirnya, ketika pemikiran tersebut diterapkan maka efeknya adalah perpecahan. Dan itu terjadi saat Pemilu kemarin.

Faktanya, Politisi akan selalu mengecewakan. Bukan karena mereka terpengaruh oleh lingkungan yang jahat, tapi memang ketika terjun dalam dunia politik, dia harus mengambil keputusan. Dan tidak semua keputusan bisa kita terima dengan baik. jadi berhentilah mendewakan mereka.
Sering sekali kita terpecah hanya karena alasan yang remeh.

 Dalam fenomena lain, contohlah kebebasan berpendapat, kita pun terkesan subjektif. Ketika ada orang yang sama dengan pendapat kita, dan orang tersebut dipersekusi, kita akan bersuara “He kebebasan berpendapat dong”, namun ketika ada orang lain yang berbeda pendapat dengan kita, dan dia dipersekusi, kita malah ikut-ikut persekusi. Pandji Pragiwaksono pernah mengatakan “Hanya karena kita benar, bukan berarti kita berhak melakukan apapun kepada yang salah”.

Lalu kenapa kita menjadi seperti ini ?
Bukankah kita adalah Bhineka Tunggal Ika ?
Bukankah kita harus bersatu ???

Mengutip kata-kata Bung Karno “Beri aku 1000 orang tua, maka akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncangkan dunia.” Kutipan ini sering disuarakan kembali oleh politisi muda dan dihilangkan bagian awalnya. Dengan tujuan menunjukkan bahwa anak muda memiliki kehebatan lebih, karena itu hanya butuh 10 pemuda saja untuk mengguncangkan dunia.
Padahal kalau kita mau berpikir lebih jauh, mana yang lebih sulit antara mencabut semeru dari akarnya atau mengguncangkan dunia ?? Atau begini wes.. mana yang belum pernah terjadi ? Memang hanya butuh 10 pemuda untuk mengguncang dunia. Gen halilintar  dengan 11 anggotanya sudah sering tuh mengguncang dunia :v

Saya beri pengibaratan lain. Ketika ada orang diem, Mana yang lebih sulit, mengguncangkan orang tersebut atau mencabut tangan orang itu dari tubuhnya ? :v
Nah kutipan tersebut sangat sesuai untuk Indonesia yang sekarang. Karena di butuhkan 1000 orang tua, maksudnya yaitu orang yang berilmu, orang yang bijaksana. Bahkan dibutuhkan 1000 untuk mencabut semeru dari akarnya. Dibutuhkan 1000 orang untuk melakukan hal yang belum pernah terjadi. Artinya memang kita harus bersatu untuk membuat sebuah perubahan…

Usia Indonesia memang sudah lebih dari 70 tahun, namun pemikirannya masih seperti anak remaja yang emosinya meluap-luap. Hemat penulis, Indonesia masih dalam proses pendewasaan, Jika Indonesia masih remaja, ayo kita rawat bersama agar tumbuh dewasa dengan sepenuhnya…
Jangan sampai kita lebih suka memasang tulisan “awas jalan berlubang”, daripada menambal lubang itu…
Ayo berbenah bersama….

kitakitu.id

Komen dong
EmoticonEmoticon