22 July 2019

DARI ZONASI SAMPAI JERATAN KAPITALIS YANG MERUPIAHKAN PENDIDIKAN

 
Pendidikan adalah tempat kursusnya karyawan-karyawan industri. Karena itu dalam kuliah, anak dibagi dalam jurusan yang sesuai dengan yang ada di manajemen industri.


Kitakitu.id-

Jika ditanya tentang masalah apa yang perlu dibereskan di Indonesia, maka jawabannya adalah Buanyakk pak dhe. Saking banyaknya masalah, kaula muda jadi hobi sambat. Apalagi di musim sosmed kayak gini, duh sak obah e awak kok sambat. Saking populernya sambat, kaula muda muda pun berlomba-lomba membanggakan sambatannya. Mulai dari hal remeh, sampai remehh sekalii...  terbukti dengan laris manisnya buku NKSTHI (nanti kita sambat tentang hari ini). Mungkin nantinya, sambat bisa menjadi alternatif dalam pemersatu bangsa. (selain maidu tentunya)..
Tak mau kalah dengan kaula muda, emak-emak milenial pun mulai “mengepakkan sayapnya”. Semua permasalahan pun mereka komentari, semua kejadian pun mereka sambati. Pemasalahan yang sering disambati emak-emak milenial adalah tentang pendidikan. Lebih tepatnya sih tentang sekolah. Semuanya disambati, mulai dari zonasi, sistem sekolah, sampai satpam unyu-unyu.  Dalam percakapan dan sambatan yang berhasil saya rekam dengan metode “menguping”, ternyata mampu membuat jantung saya berdetak imut, dan seakan terkena serangan jantung mungil.
Masalah yang sering menghantui dan menjadi ironi bagi pendidikan kita contohnya: si Joko sangat rajin di sekolahnya, dia mengikuti semua aturan sekolah, namun ketika dia lulus, dia tidak menjadi apa-apa. Berbeda nasib dengan Jeki yang dianggap nakal oleh sekolah karena tidak mentaati peraturan, namun ketika lulus, jeki bisa membangun bisnis dan kaya raya. Pertanyaannya adalah, apa sebenarnya peran sekolah dalam kehidupan? apakah untuk mencerdaskan saja? apakah hanya untuk mendapat ranking atas yang dinamai prestasi ? Jika demikian, maka di masa datang sekolah tidak lagi diminati lagi karena tidak mengantarkan anak pada kesuksesan dan kekayaan.
Kenapa ini bisa terjadi ? mungkin karena kita memang cenderung fokus pada kekayaan, fokus pada kesuksesan berprofesi. Kita tidak sadar bahwa ujung tombak segala sesuatu adalah pendidikan. Bagiamana bisa kita melakukan kalau kita tidak tau? dan proses mencari tau adalah pendidikan, yang mana tidak hanya sekedar tau, tapi juga paham dan mengasah karakter.
Dalam sekolah, kita juga selalu diajarkan punya mimpi besar. Ketika masih masa kecil, kita di ajari mempunyai mimpi seperti menjadi dokter, pilot dan lainnya. Namun ketika dewasa, saat di tanya ingin menjadi apa? Maka jawabannya adalah “yang penting dapat kerja”. Ini merupakan ironi pendidikan yang sangat menyakitkan.
Belum lagi ahir-ahir ini sambatan emak-emak menyasar pada “zonasi”. Bahkan di suatu wilayah di Pasuruan, sebut saja Bangil, ada beberapa warga yang berniat memalsukan kartu keluarga agar bisa bersekolah di sekolah yang “dianggap” favorit.
Zonasi menjadi kata yang “gatal” ditelinga anak-anak jaman sekarang. Sebelumnya bagi yang tidak tau, zonasi secara singkat adalah sistem penerimaan murid untuk masuk ke jenjang SMP dan SMA Negeri, dimana sistem tersebut lebih mengutamakan zona atau jarak rumah dari sekolah. Jarak tersebut menjadi penilaian utama lolosnya murid tersebut, jadi 90% kuota ditentukan dari jarak bukan prestasi atau nilai rapor.
Nah sebelum kita komentari, sebaiknya perlu kita ketahui bahwa alasan adanya zonasi adalah menghilangkan anggapan adanya sekolah favorit, sekolah berstandar nasional, standar internasional, sekolah intelektual, sekolah pilihan pemirsa, sekolah terbersih, sekolah teryutuber, sekolah terselebgram, sekolah tersedikit subscribe atta halilintar :v kwkwkwkw
Intinya tujuannya adalah pemerataan dalam dunia pendidikan, sehingga murid baru yang berkualitas pun menyebar di semua sekolah. Tidak hanya menumpuk disekolah unggulan saja. karena sekolah harusnya mendidik orang yang tidak bisa menjadi bisa, Bukannya ngumpulin murid-murid yang udah pinter, lalu menyatakan dirinya sekolah unggulan yang berhasil mencetak generasi emas.
Namun buanyak sekali yang kurang setuju dalam kebijakan tersebut, dengan berpendapat bahwa setiap sekolah memiliki kualitas yang berbeda, kalau semua sekolah punya kualitas yang sama, kebijakan ini bisa jadi solusi, ucap mereka dengan ramai di sosmed.
Saya kok agaknya kurang sependapat yah, logikanya kalau semua sekolah memiliki kualitas yang sama, maka tidak perlu sistem zonasi pun pasti akan bersekolah di dekat rumahnya dengan sendirinya. Misal e kabeh sekolah podo apik e, lapo sekolah adoh-adoh ? Tujuan adanya zonasi kan memang untuk meratakan kualitas sekolah. Kalau untuk meratakan ya berarti belum rata dong bambang…
Mari kita lihat dari sudut pandang yang lain. Mari bayangkan jika sekolah favorit hanya diisi oleh anak-anak pintar ? Apa yang akan terjadi ? Maka yang pintar semakin pintar dan yang bodoh tidak akan pernah belajar dari anak-anak yang pintar.
Memang banyak yang menyayangkan anak yang pintar tidak bisa sekolah di sekolah favorit karena sistem zonasi. Namun apa tidak ada yang menyayangkan anak yang kurang pandai tapi punya kemauan belajar yang tinggi ? bukankah anak seperti itu juga butuh dukungan dari anak-anak yang pandai juga ?
Apakah semua sekolah unggulan pasti sempurna ? Ndak mesti juga. Siswa yang bolos pasti ada saja. Siswa yang bandel juga pasti ada.
Sistem zonasi ini adalah proyek jangka panjuaaaaang, sehingga efeknya tidak akan kita rasakan sekarang. Karena itu, tidak bisa dipungkiri bahwa anak jaman sekarang akan menjadi “tumbal” untuk sebuah perubahan. Bukankah untuk mencapai sesuatu, kita harus mengorbankan sesuatu ?? wes talah, gak ono hubungane dadi mentri karo sekolah unggulan.
Lek kabeh podho royok an dadi lakon, teros sopo penjahat e ??
Dari pada sibuk mikir zonasi, mending ayo emak-emak, jadikan rumah menjadi sekolah unggulan buat anak-anak kalian. Cobalah mulai memahami apa yang di inginkan anak kalian, bukan apa yang kalian inginkan untuk anak kalian.
Biar saya kasih bocoran curhatan anak-anak jaman sekarang. Menurut pandangan anak-anak, sekolah hanyalah pencipta aturan baru dan sangat aneh. Anak-anak selalu ingin melakukan hal-hal yang sifatnya baru, mencoba hal baru, dan memainkan imajinasinya. Di sekolah, mereka di batasi dalam berekspresi dan berkreasi, serta di batasi untuk melakukan hal-hal yang mereka sukai.
Sekolah selalu fokus pada nilai dan prestasi belajar. Buanyakk sekali tugas dan PR bagi para murid. Sehingga waktu untuk belajar menjadi sangat panjuangggg. Banyak murid yang “grundel”, sak obah e awak kok sinau wae.
Bayangkan saja, dari pagi sampek sore mereka harus belajar di sekolah, setelah itu pergi ke tempat bimbingan belajar sampai maghrib, setelah itu ngerjain PR sampai ketiduran, saking padatnya, bahkan sebagian dari mereka ada yang tidur tanpa di ucapkan selamat malam kwkwkwkw sabar mblo. aktivitas tersebut membuat anak-anak harus menjalani hari-harinya dengan squad tenaga.
Belum lagi adanya budaya kompetisi yang mewajibkan anak-anak menjadi yang terbaik. Orang tua tanpa sadar ikut merampas hak anak untuk bermain dan mengenal lingkungannya dengan memberi tekanan kepada anaknya serta tuntutan untuk dapat ranking atas. “kalau mau nyenengin emak, harus dapet ranking atas”. Ini siapa sih yang memulai, teman saya yang ranking atas kerjanya juga gitu-gitu ajah, malahan ada yang belum dapet kerja kok.
Seakan emak-emak malu jika punya anak yang tidak berprestasi dan di anggap “nakal” di sekolah. Bagi emak-emak yang terpenting adalah mereka pintar (dengan acuan nilai raport) meskipun mereka tidak pernah tau cara apa yang anak ambil sampai bisa di posisi itu…
kadang yo nyonto, kadang yo ngerepek, kadang yo wes gak dadi kadang-kadang.
Yang lucu adalah ketika murid-murid dituntut (bukan dituntun) memahami mata pelajaran yang tidak ada hubungannya dengan cita-cita mereka. Masak kalau ingin jadi pelukis harus hafal rumus fisika :v
Maka jangan heran kalau pelajaran yang paling disukai murid-murid adalah “pelajaran kosong” alias tidak ada pelajaran. Semua murid pasti senang. Kenapa hal tersebut bisa terjadi ? ya karena kalau pelajaran kosong, mereka bisa bebas mengekspresikan apa yang mereka mau. Harusnya orang tua sadar dong kalau jiwa anak-anak mereka berteriak ingin hidup santuy.
Tuntutan sekolah yang sangat tinggi, mulai dari PR, praktikum, nilai harian, sampai ujian, sayangnya tidak diikuti dengan pelayanan yang sepadan. Murid-murid terpaksa mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah agar lebih memahami apa yang belum dipahami di sekolah. Anehnya, murid-murid lebih menyukai bimbingan belajar karena sistem dan metodenya di nilai sangat menarik daripada di sekolah yang itu-itu saja. Paling juga di suruh nyatet, paling juga di suruh diskusi sendiri, paling juga hafalan.
Lah kalau tujuannya adalah nilai, kenapa tidak ikut bimbingan belajar saja, yang dianggap lebih efisien, kenapa masih di perlukan sekolah ? ikut bimbingan belajar saja. Kalau mau ijazah tinggal ikut ujian paket dari pemerintah. Dengan begitu waktu yang dimiliki anak-anak untuk mengenal lingkungan lebih banyakk duhai emak-emak…
Sudah seharusnya murid-murid diberikan ruang untuk menentukan pilihan yang akan mereka jalani dalam kehidupan. Orang dewasa agaknya sudah terlalu lama berkhayal tentang sesuatu yang mereka namai “konsep pendidikan ideal”, sementara yang menjalani adalah anak-anak yang berbeda jaman dengan mereka. Terbukti kok, paling tidak sampai saat ini khayalan orang dewasa tersebut belum bisa memecahkan persoalan pendidikan di Negeri kita tercinta.
Sekolah harusnya mencerdaskan otak dan memuliakan watak, Bukan malah sebaliknya. Sudah saatnya anak-anak didengarkan dan diberi kepercayaan. Bukankah Negara sudah menjamin hak kesetaraan bagi semua umat ? memang sudah saatnya orang dewasa belajar dari anak-anak, atau memang sekolah sebaiknya jam kosong saja setiap harinya.

kitakitu.id

1 komentar

sbg ASN kemendikbud, aku terharu ada yang ngebela "zonasi" juga akhirnya. Hehehehehe.

Komen dong
EmoticonEmoticon