18 July 2019

MEMBACA, MERENUNG, MENULIS



~The Journey in Jogja (Buya Syafii)



Indonesia adalah negeri penuh berkah, di tanah ini setancapan ranting bisa tumbuh menjadi pohon yang rindang. Alam subur, laut melimpah. Apalagi bila kita lihat gas, minyak, mineral, semua deretan kekayaan alam. Indonesia adalah wajah cerah katulistiwa. Namun kita semua harus sadar, aset terbesar Indonesia bukan tambang, bukan minyak, bukan hutan, aset terbesar bangsa Indonesia adalah manusia Indonesia.
Dan tanggung jawab kita semua sekarang adalah mengembangkan kualitas manusia Indonesia. Manusia yang terdidik dan tercerahkan adalah kunci kemajuan bangsa. Jangan sesekali kita mengikuti cara berpikir kaum kolonial. Mereka dahulu hanya memikirkan kekayaan alam. Karena itu mereka hanya memperhatikan kekayaan alam tapi melupakan kualitas manusianya.
Kita telah memasuki abad 21, yang mana abad ini mengedepankan akal sebagai landasan utama segala aspek kehidupan. Abad pengetahuan ini akan semakin banyak tantangan-tantangan kehidupan, semakin banyak masalah-masalah yang harus di hadapi. Manusia jaman now ini tidak lepas dari 3F (Food, Fashion, Fun) yang mana dari kesemuanya itu memiliki dampak yang besar terhadap cara untuk menjalani hidup.
Di jaman ini kita tidak hanya memberi makan perut kita, namun kita juga memberi makan ego kita. Anak-anak bangsa lebih bangga makan makanan di MCD, KFC, Starbuck, dll. dari pada makan makanan tradisional seperti pecel, soto, dan nasi jagung. Padahal sebenarnya fungsi makanan adalah mengenyangkan perut, bukan mengenyangkan ego. Begitu juga dengan cara berpakaian. Bukan lagi untuk menutup aurat, tapi lebih pada bergaya. Acuan di abad 21 ini bukan lagi baik dan buruk, tapi keren (Mbois) atau tidak. Jika meminum alkohol itu keren, maka akan dilakukan. Jika mengkonsumsi narkoba itu keren, maka akan dilakukan juga.
Yang perlu kita lakukan untuk menyiapkan diri di abad 21 ini adalah 3M (Membaca, Merenung dan Menulis) membaca keadaan, merenung tindakan dan menulis pengalaman. Anak muda Indonesia harus terus  melakukan tiga hal tersebut. Apalagi Mahasiswa. Ia memiliki tanggung jawab lebih besar dari anak muda lainnya. Kenapa bisa seperti itu ? Di Indonesia ada jutaan anak muda yang masuk SD. Tapi hanya ratusan ribu yang hari ini masuk kuliah, itu artinya mahasiswa adalah anak muda yang berbeda. Dan karena itu sebagai mahasiswa berkesempatan mewujudkan wajah cerah katulistiwa. Bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk kemajuan Republik Indonesia ini.
Oleh karena itu mahasiswa WAJIB membaca. Bukan hanya membaca buku, tapi juga membaca keadaan. Belajar bukan hanya di dalam ruang kelas saja, tapi di luar rung kelas juga penting. Karena jika kita hanya belajar di dalam ruang kelas saja, maka diujung perkuliahan, kita hanya akan membawa selembar kertas ijazah saja. Ingatlah nak, masa depan tidak bisa dibangun hanya dengan selembar kertas ijazah saja.
Anis Baswedan menganalogikan belajar bermasyarakat setelah lulus kuliah seperti belajar berenang di lautan, sedangkan belajar bermasyarakat ketika kuliah seperti belajar berenang di dalam kolam renang, yang mana kolam renang ini arusnya, kedalamannya terukur. Dan resiko belajar berenang di lautan resikonya lebih besar. Karena itu belajar menjadi bagian dari masyarakat ketika masih kuliah itu penting, agar nantinya ketika lulus kita sudah siap menjadi bagian dari masyarakat, dan anak muda seperti ini biasanya setiap langkahnya mengandung perubahan untuk lebih baik lagi.
IP yang tinggi akan mengantarkan anda pada panggilan wawancara. Tapi untuk lolos dalam wawancara, kita perlu skill dan kepemimpinan. Namun bukan berarti IP rendah tidak masalah, kalau IP rendah, dipanggil wawancara pun tidak. Kita harus punya IP dan softskill yang tinggi.
Kemampuan belajar akan menjadi kunci dalam kehidupan abad 21 ini. Ingat, kemampuan belajar loh yah, bukan kemampuan menguasai sebuah bidang. Intinya adalah kemampuan belajar di bidang apapun. Karena sesudah anda lulus, anda belum tentu akan mengerjakan bidang yang anda kuasai semasa kuliah. Pribadi pembelajar akan membuat anda belajar untuk terus menerus. Kalau anda pembelajar maka anda akan punya peluang untuk bisa terus meningkatkan kontribusi. Jadi kemampuan membaca amatlah penting bagi pemuda bangsa, yang akan mempersiapkan diri menjadikan Indonesia menjadi wajah cerah katulistiwa. Dalam pentinya membaca ini, Buya Syafii Maarif mengatakan “curi waktu tidurmu, untuk membaca”.
Setelah membaca, kita harus “merenung”. Merenungkan tindakan. Apakah langkah kita sudah tepat? apakah usaha dan doa kita sudah sesuai porsinya?? dan apakah ada yang kurang dalam setiap rencana kita. Untuk berkembang, kita harus tau apa kelebihan kita, apa kekurangan kita. Kemudian bungkuslah menjadi beda dan sajikan. Seperti yang di katakan pandji pragiwaksono “jika kita tidak mampu berlari paling cepat, maka berlarilah mundur” karena yang diperhatikan adalah pemenang dan penghibur.
Menjadi orang Indonesia adalah menjadi Bangsa yang senang melayani sebagai bagian dari keramahtamahan kita. Rasanya kita akan selalu terkejut mengetahui bahwa saus tomat dan sambal harus bayar di restoran cepat saji luar negeri, sementara di Indonesia kita bisa mengambil sepuasnya bahkan sampai tidak habis.
Seburuk-buruknya layanan umum di Indonesia, ketus tidak akan menjadi kebiasaan yang tidak di protes orang Indonesia. Berbeda dengan orang luar negeri yang nampaknya sudah terbiasa dengan ketidakramahan. Intinya semurung apapun orang yang melayani di layanan umum, orang luar negeri akan selamanya menyebut Indonesia ramah.
Namun perlu direnungkan juga, kekurangan pendidikan Indonesia adalah terlalu mengagungkan standarisasi, yang berdampak anak-anak sulit untuk mencoba hal baru karena takut salah dan takut mengakui kesalahan.
Dunia memahami potensi Indonesia. Tapi Indonesia masih kesulitan menguasai dirinya. Memahami tubuhnya. Membuat dirinya kompak dan bersatu. Persatuan dulu, baru kita bisa sama-sama bergerak. Tanpa persatuan, gerak kita akan acak, bahkan bukan mustahil malah jadi saling menjatuhkan.
Setelah merenung, kita perlu “menulis”. Menulis pengalaman, menulis sejarah. Pertanyaannya kemudian, bagaimana caranya memulai ? mulailah sekarang juga. Mulailah mencipta apapun itu, berkaryalah. Buat sesuatu dari nol, tuangkan apa yang ada di kepalamu dan tuliskan.
Dalam menulis kita tidak perlu takut tulisan kita jelek. Karena pasti hasilnya akan jelek. Yang perlu ditakutkan adalah berhenti menulis saat kita tau tulisan kita jelek. Tulisan jelek itu tidak memalukan, yang memalukan adalah terus-terusan memiliki tulisan jelek. Karena itu kita perlu berbenah. Namanya juga pertama kali menulis, tidak mungkin langsung bagus.
Mulai saja dulu. Itu kunci dalam berkarya. Mulai saja dulu, lalu buat lagi yang lebih baik dari sebelumnya. Lalu buat yang lebih baik lagi, lagi, lagi dan lagi. Karena kunci dalam berkarya adalah bertumbuh. Ingat, gagal sudah pasti akan datang. Itulah dinamika orang berusaha. Kadang berhasil, kadang gagal. Tapi kita harus menemukan keberanian untuk mencoba dan bangun ketika terjatuh. Setelah itu melangkah lagi dan coba lagi. (iki seng ngomong Pandji Pragiwaksono, dudu aku).
Wawasan kita akan membentuk diri kita. Sebab, wawasan kita akan menjadi modal pertimbangan dalam mengambil keputusan, dan keputusan yang diambil akan membentuk hidup kita. Ketika wawasan anda bertambah, pilihannya tinggal dua, anda endapkan wawasan itu di kepala saja, atau bersama-sama kita jadikan modal untuk melakukan sesuatu.
Untuk membantu menjadikan Negara kita ini tempat yang lebih ideal bagi semua orang tanpa terkecuali, entah dia mayoritas atau minoritas. Untuk membuat Indonesia menjadi Tanah Air yang kita mimpikan bersama.
Membuat tanah yang anda pijak menjadi Indonesia. Tempat berlindung di hari tua, sampai ahir menutup mata.

kitakitu.id

Komen dong
EmoticonEmoticon