24 July 2019

PELAJARAN SEKOLAH ITU TIDAK PENTING !!


Gimana capek kah belajar??


Kitakitu.id-
Buat apa sih sekolah ? brangkat pagi, pulang malem ? Buat apa sih belajar capek-capek ??  Buat apa sih blajar matematika ?? Kan sudah ada kalkulator. Buat apa ngapalin sejarah, geografi, dll ??  Kan sudah ada google.

Sebenarnya sekolah adalah lingkup kecil dari kehidupan. Disana kalian akan diberikan tanggung jawab untuk belajar. 

Di sekolah juga kalian akan tau.
Apakah kalian anak yang patuh?
Apakah kalian anak yang tangguh?
Apakah kalian anak yang mudah menyerah?
Yang ketika belajar hal baru dengan gampangnya slalu bilang “tidak bisa”.

Kalau kalian tidak bisa menyelesaikan tanggung jawab sebagai pelajar, bagaimana kalian mau sukses dengan tanggung jawab yang lebih besar ??
Dalam sekolah ada yang namanya ujian. Tujuan dari ujian bukan hasil ahir, Tapi bagaimana kamu bisa bertumbuh dalam prosesnya. Bukan untuk mendapat nilai sempurna. Tapi apakah kamu bisa menjadi anak yang tidak mudah putus asa.

Ujian itu menilai ketekunan
Ujian itu menilai kedisiplinan
Ujian itu menilai kejujuran

Itulah yang sesungguhnya. Bukan nilainya tapi proses kamu menuju kesana. Dan ingat, Yang keren itu bukan anak muda yang banyak gaya, Tapi anak muda yang punya karya.
…………..

Setidaknya itulah yang saya ingat dari perkataan guru saya mengenai tujuan sekolah dan tujuan kenapa kita harus belajar. Meskipun saat itu saya masih punya banyak pertanyaan yang ingin saya lontarkan, akan tetapi saya iyakan saja agar dianggap anak pintar (pintar = penurut).
Di kepala saya, masih ada banyak pertanyaan tentang pendidikan, masih buanyak fenomena aneh yang menurut saya “kok bisa sih terjadi”. Salah satunya adalah Kenapa jika hanya sekolah 9 tahun masih belum punya kemampuan bertahan hidup di dunia kerja ?? bukankah 9 tahun adalah waktu yang cukup lama ?? bahkan kalaupun ditambah 3 tahun (lulus SMA), tetap saja kesulitan mencari kerja. Kenapa hal tersebut bisa terjadi ??
Setidaknya sampai saat ini saya meyakini bahwa di dalam sekolah, sejatinya anak-anak tidak tau tujuannya untuk belajar. Anak-anak hanya belajar biologi karena memang dari sononya harus belajar biologi. Anak-anak hanya belajar rumus fisika karena memang harus lulus mata pelajaran fisika (yah, walaupun semuanya bakal di luluskan juga sih). Hasilnya, tujuan anak untuk belajar adalah nilai. Mereka berlomba untuk mendapatkan nilai yang terbaik, tanpa tau apa yang bisa diterapkan dari pelajaran tersebut.
Fonomena aneh lainnya adalah, salah gak sih kalau kita beli kunci jawaban ujian nasional ? iyasih kalau konteknya agama pasti dosa, tapi apakah curang demi kebaikan itu salah ? :v
Saya lulus Aliyah tahun 2015. Pada jaman itu UN masih menjadi kata yang sangat seram karena memang masih menentukan kelulusan.

Saking seremnya, sampai ada jam tambahan khusus UN.
Saking seremnya UN, banyak yang cari-cari kunci jawaban
Saking seremnya UN, banyak yang putus karena fokus belajar :v
Dan ironinya, ada temen sekolahku yang sampai putus sekolah karena takut gak lulus UN (true story).

Kembali pada pertanyaan di atas, apakah membeli kunci jawaban UN itu salah ? Anak-anak membeli kunci jawaban dengan tujuan agar lulus, sehingga tidak malu-maluin orang tuanya, tidak malu sama temennya, dan tidak mengulang sekolah setahun lagi (tidak keluar biaya lagi).
Semua ini terjadi karena sistem pendidikan kita menanamkan rasa ketakutan. Padahal kalau dipikir-pikir ada gak sih pertanyaan di UN yang keluar di kehidupan nyata ? Atau begini saja. Apa manfaat dari pertanyaan yang keluar di UN untuk kehidupan nyata ??
Fenomena tersebut menandakan bahwa sistem pendidikan kita memang mengharamkan untuk gagal. Kita harus lulus, kita tidak boleh tidak lulus. Kita harus benar sekali coba, harus kena sekali tembak. Padahal, bukankah kegagalan adalah bagian dari pembelajaran. Bukankah kalau kita naik sepeda harus jatuh dulu agar tau caranya biar gak jatuh lagi.
Kalimat guru yang bilang “nggak papa kamu dapet nilai 5 asalkan itu dari hasil kamu sendiri”. Bullshit… Mana ada juara satu dapet nilai 5 ?? Yang jadi juara tetap mereka yang dapet nilai 10 atau 9. (curhatan anak kelas 1 SMA, dalam buku “sekolah dibubarkan saja”)
Pendidikan sekarang itu gimana caranya biar bisa lulus. Gimana caranya dapet nilai bagus. Caranya gimana terserah. Walaupun nyontek, tapi kalau nilai bagus ya tetep dapet pujian kok. Prinsipnya adalah “Terserah dari mana saja dapetnya, yang penting nilainya tinggi”.
Kita semua di “dekte” untuk menjadi anak yang penurut. Istilah anak pintar pun diberikan kepada anak-anak yang “penurut”. Ahirnya apa ? ada saja anak yang berlomba-lomba memalsukan dirinya di depan guru-guru agar dianggap pintar (meskipun tidak semuanya). Dan ironinya, anak yang ekstrovert atau hiperaktif dianggap nakal. Padahal itu hanya persoalan psikologi anak.
Sebutan murid nakal pun seharusnya perlu dipertanyakan. Mereka seperti itu juga pasti bukan tanpa alasan. Apakah yang tidak mengerjakan PR karena memang tidak bisa disebut nakal ? apakah yang ramai di kelas karena dirumah tidak mendapat perhatian disebut nakal ? apakah yang jarang masuk sekolah karena membantu orang tua bekerja disebut nakal ?
Dalam hati orang yang dianggap nakal, pasti mereka berkata “Tuntunlah kami kejalan yang benar, Tanpa memberi label bahwa kami adalah kegagalan”.
……………..

kitakitu.id

Komen dong
EmoticonEmoticon