24 July 2019

Politik Indonesia Yang 'Njelimet'

Politik. iya politik... Sebuah pembahasan yang tidak akan pernah selesai seiring manusia yang selalu ingin duduk dan mendapatkan jabatan yang ia dambakan.
 
Di Indonesia, politik semakin tahun semakin membingungkan. Kecamuk politik setelah kemerdekaan yang masih kita dengar sampai sekarang adalah tentang penggulingan pak Harto tahun 98. Awal perubahan yang dibangga-banggakan oleh sebagian besar pejuang reformasi yang sekarang masih bergema.

Setelah reformasi berjalan, Indonesia mulai stabil. Politik semakin hari semakin “membaik” namun akhir-akhir ini sepertinya ada hal yang sedikit menodai proses rehabilitasi politik di Indonesia. Hal itu dimulai ketika politik agama, politik identitas, dan poitik sara mulai ditegakkan.

Keruwetan yang terjadi pada tahun-tahun ini menurut sebagian besar orang bukanlah hanya sekedar “dia lah yang harus memimpin, karena dia cakap dan bijaksana”. Tapi lebih kepada “saya tidak ingin dia yang mempimpin, maka saya pilih ini (karena tidak ada yang lain)”.

Maka sampai di sini, muncul istilah anyar yaitu politik kebencian, politik ketakutan dsb. Sikap politik yang terjadi akibat dari adanya unsur kebencian dan ketakutan terhadap salah satu orang (lawan).

“saya milih Prabowo karena saya tidak ingin Jokowi yang mimpin”. “saya milih Jokowi karena saya takut jika Prabowo jadi presiden akan bla bla bla”. Begitulah kiranya. Sampai muncul stigma-stigma bahwa pendukung yang satu adalah kelompok radikal dan pendukung yang lain adalah kelompok antek aseng. Belum lagi persoalan cebong dan kampret. duhh


Sikap yang demikian adalah sikap yang tidak sehat. Ketidaksehatan tersebut tercermin dari keadaan perpolitikan Indonesia yang semakin sakit sesakit-sakitnya.

Setelah pilpres berlangsung dan sidang MK yang menyatakan bahwa tuduhan 02 tidaklah valid dan tidak bisa diterima, meskipun Buk Beti mengatakan kalau di Boyolali tidak ada aspal, politik Indonesia tidak kian membaik.

Setelah putusan itu, banyak orang yang menyerukan untuk adanya “rekonsiliasi” antara Jokowi dan Prabowo. Rekonsiliasi tersebut sempat ditolak oleh kubu sebelah. Meskipun begitu, rekonsiliasi tetap dilaksanakan.

Akan tetapi yang terjadi bukanlah damai. Namun para elit mengatakan bahwa rekonsiliasi hanyalah sarana untuk memperoleh jabatan di pemerintahan.

Pertemuan Jokowi dengan Prabowo seharusnya dijadikan sebagai moment untuk bersatu kembali, merajut cinta kasih sebagai manusia sebangsa dan setanah air. Namun ternyata hal itu mustahil dilakukan.

Salah satu kelompok pendukung Prabowo yang memproklamirkan diri sebagai “ulama” memutuskan untuk keluar dari barisan pendukung, karena pertemuan Prabowo dengan Jokowi. Itu merupakan fenomena yang menarik untuk dibahas.

Keluarnya mereka disebabkan karena kekecewaan mereka atas tindakan pemimpin mereka karena mau untuk berekonsiliasi dengan lawan politiknya. 

Sampai sini semakin terlihat bahwa politik kebencian telah merajalela. Bagaimana bisa, ketika pemimpin mereka sudah mulai lunak dan menginginkan untuk kembali merajut persatuan dan perdamian justru malah ditolak dan ditinggalkan?

Sikap yang seperti itu nampaknya terjadi karena figur mereka dinilai sudah terkontaminasi oleh lawannya. Sehingga figur mereka “mungkin” sudah masuk dalam kategori lawan. Sungguh sangat miris.

Namun, tidak banyak orang yang tahu mengapa itu bisa terjadi. Tapi yang pasti, apabila sikap politik lahir karena kecintaan terhadap salah satu figur. Bukan penolakan yang mereka lakukan. Tapi dukungan dan persatuan yang mereka tegakkan.

Wallahu a’lam 


Baca juga:

Komen dong
EmoticonEmoticon