02 August 2019

KAMU HARUS JADI DOKTER, BIAR ORANG TUAMU BANGGA!


Kitakitu.id-

Masih seputar dunia pendidikan atau lebih tepatnya pendidikan formal. FYI saja, pendidikan itu ada 3, Pendidikan Formal, Informal dan Non Formal. Jadi ketika ada orang yang tidak bersekolah atau tidak kuliah, maka jangan beri sebutan mereka “tidak berpendidikan”. BTW Ibnu Khladun juga pernah mengatakan “anak yang tidak di didik di sekolah, maka ia akan di didik oleh jaman”. Yah, silahkan saja ditafsirkan sendiri, intinya jangan lupa bahagia. Yang berhak bahagia itu semua orang kok, bukan cuma dokter dan insinyur saja :)

Menjadi dokter adalah sebuah cita-cita yang sangat mulia. Orang tua kita akan sangat bahagia jika anaknya ingin menjadi seorang dokter. Seorang anak yang bercita-cita menjadi dokter juga akan sangat bangga mengumumkan cita-citanya ke semua orang, karena cita-citanya (dianggap) merupakan cita-cita yang tinggi.
Pemikiran seperti ini tidaklah salah. Menjadi dokter adalah profesi yang mulia. Namun, profesi yang mulia itu tidak hanya dokter.
.............

Agaknya pemikiran seperti itu diproduksi ketika sekolah. Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa ketika sekolah, Jurusan yang menarik bagi umat manusia adalah jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Hampir semua orang di Negeri ini akan setuju dengan pernyataan tersebut. Semuanya pasti memilih jurusan IPA. Hanya sebagian saja yang memilih jurusan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Itupun dengan keterpaksaan atau karena memang males pelajaran berhitung.

Jurusan IPS adalah jurusan kasta kedua. Jika masuk jurusan ini maka anak akan dianggap gagal, dianggap nakal, dianggap tidak berprestasi. Sedangkan anak IPA sering dimanja karena kelas mereka tenang dan anak-anaknya penurut.

Entah siapa yang memulainya, Pemikiran satu warna ini memang sudah mengakar pada semua umat manusia. Contoh sederhana saja, ketika ada ujian semester (kalau sekarang namanya penilaian semester) dan ada anak yang mendapatkan nilai di bawah KKM (kriteria ketuntasan minimum) maka anak tersebut dianggap bodoh. Semudah itu untuk mengkelompokkan. Semua dinilai dengan baik dan buruk, benar atau salah. Semuanya tidak menyukai perbedaan, Semua yang berbeda adalah buruk dan salah.

Semua itu tidak lebih seperti hukum rimba, siapa yang kuat dia yang berkuasa, siapa yang pintar maka dialah yang hebat, mendapatkan pujian dan penghargaan.

Sepertinya sekolah lebih percaya bahwa anak yang baik adalah anak yang masuk jurusan IPA dan bercita-cita menjadi dokter, insinyur, pilot, atau yang berbau itung-itungan lah. Sehingga, mimpi untuk menjadi musisi, pelukis, pembalap, atau bahkan penulis pun tidak pernah ditawarkan kepada anak-anak.

Pemahaman ini ditanamkan disekolah sejak dini, bahkan sangat dipercayai oleh orang tua siswa. Sehingga untuk dipandang baik, anak-anak cenderung memilih sesuatu yang diinginkan oleh orang sekitar, daripada memilih apa yang mereka inginkan. Anak-anak ahirnya ingin menjadi dokter daripada menjadi seniman. Bukan tanpa sebab tentunya, ketika anak-anak mengatakan ingin menjadi dokter, maka orang-orang akan senang mendengarnya, sehingga anak-anak menjadi bangga bercita-cita menjadi dokter. Berbeda dengan anak yang bercita-cita menjadi seniman, mereka cenderung di acuhkan, sehingga anak tidak pernah mengatakan cita-citanya, atau bahkan harus mengubur hidup-hidup mimpinya.

Masalahnya, banyak ketidakadilan yang di alami anak-anak saat dalam memilih jurusan. IPA dan IPS harusnya menjadi jurusan peminatan bagi siswanya. Fakta di lapangan tidak demikian. Penjurusan bukan berdasarkan apa yang di inginkan siswanya, tetapi berdasarkan apa yang di inginkan sekolah. Sehingga banyak kita temui anak-anak yang merasa tidak menikmati sekolah ataupun kurang senang dalam belajar. Hal tersebut wajar saja, karena memang jurusan yang dipelajari tersebut tidak diminati anak-anak sejak awal.

Kenapa hal tersebut bisa terjadi ?

Di sekolah itu sekarang tidak ada yang dapet nilai 6 atau 7. Semuanya dapet nilai di atasnya. Bukan karena anak didiknya pinter-pinter. Tapi sekolah sudah tidak mau memberikan nilai rendah di raport anak-anaknya. Kalau ada yang di bawah nilai yang ditentukan ya remidi, entah remidinya logis atau tidak, pokoknya hasil ahirnya anak-anak dapet nilai bagus.

Semua menjadi wajar-wajar saja, karena tujuan pendidikan sekarang itu bukan bagaimana fakta anak didik, tapi bagaimana citra sekolahnya. Karena itu buanyak sekali manipulasi didalamnya. (mungkin fakta ini juga yang membuat saya setuju dengan penghapusan sistem sekolah unggulan dengan program zonasi).

Fakta tentang bakat dan minat anak pun mulai di acuhkan demi mengejar citra sekolah unggulan. Sehingga buanyak anak-anak yang tidak menemukan passion mereka ketika sekolah. Ahirnya apa ? banyak kita temukan sarjana matematika berprofesi sebagai fotografer. Lulusan pendidikan tapi bekerja di bank. Alumni teknik sipil tapi jadi peniup gelembung :v (pakai teknik tentunya)

Semuanya berawal dari panjangnya masa pendidikan dasar yaitu 6 tahun. Anehnya setelah 6 tahun pun sepertinya tidak mendapat apa-apa, meskipun harus sekolah lagi 3 tahun di SMP seakan tidak punya keahlian apapun. Buktinya jika ada anak yang hanya lulusan SMP mereka hanya punya kemampuan membaca dan menulis saja. mereka tidak dibekali keahlian untuk bertahan hidup. Akibatnya harus sekolah lagi 3 tahun di SMA. Nah setelah masuk SMA barulah ada penjurusan, baru anak-anak di berikan pilihan untuk belajar yang agak spesifik. Meskipun pilihan tersebut hanya formalitas. Apapun yang dipilih siswa, sekolah lah yang memutuskan masa depan mereka.
..........


“Kamu tau apa tentang dunia, sebaiknya kamu menurut saja sama orang tua, jangan jadi anak durhaka”. Itu adalah senjata yang luar biasa untuk melumpuhkan anak-anak. Senjata sakti dengan agama dijadikan tameng.

Anak-anak yang memiliki kemampuan berhitung akan dianggap anak yang hebat. Sementara anak-anak yang menyukai analisa, serta pinter ngomong akan dianggap anak bandel.

Pandangan ini terus berlanjut pada tingkat perguruan tinggi. Anak-anak yang masuk di jurusan hitung-hitungan (eksakta) di anggap lebih hebat dari jurusan sosial ataupun keagamaan. Hasilnya anak-anak yang memiliki kemampuan diatas rata-rata memilih jurusan hitung menghitung karena dianggap lebih keren serta punya peluang kerja lebih banyak. Sedangkan jurusan lain diangap sebagai jurusan pelarian saja. Ini saya alami ketika masuk jurusan keagamaan.

Rata-rata Teman-teman saya ketika ditanya alasan masuk jurusan agama adalah karena “terpaksa”.
Jurusan sosial dan keagamaan pun sering dipandang sebelah mata sebagai jurusan “mudah”. Karena itu anak-anak yang memilih jurusan sosial atau keagamaan pun tidak dianggap sebagai anak yang pintar.

Padahal sejatinya tidak ada pintar atau bodoh. Semua tergantung  kriterianya masing-masing. Nah, yang jadi masalah adalah pendidikan kita menganut satu jenis kriteria, dan kriteria lain tidak berlaku.

Sejatinya ada banyak kecerdasan yang seharusnya perlu di apresiasi. Seperti: kecerdasan Linguistik (berpikir dalam kata-kata dan menggunakan bahasa), Spasial (berpikir dalam 3 dimensi), Naturalis (memahami manusia, alam, hewan, tumbuhan), Kinestetik (memanipulasi objek), Musik (membedakan nada, ritme, timbre), Interpersonal (memahami dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain), Intrapersonal (memahami diri sendiri), serta Eksistensial (kepekaan untuk mempersoalkan arti hidup, kematian, dan proses semesta).
((Source: tirto.id))

Hemat penulis, pendidikan sejatinya adalah sebuah wadah untuk membuat anak didik memahami tentang dirinya sendiri. Seperti kata einsten “setiap anak adalah jenius, tapi kalau kita menilai seekor ikan dari caranya memanjat pohon, maka seumur hidupnya dia akan menganggap kalau dirinya bodoh”.


kitakitu.id

1 komentar

Sekolah adalah tempat belajar, yang namanya belajar itu kalau salah ya wajar.

Namun di sekolah, anak dididik untuk tidak boleh salah yang berarti tidak belajar.

Alhasil, banyak yang akhirnya belajar (membuat salah) di tempat dan waktu yang kurang tepat. Misalnya di tempat kerja.

Kebayang kan kalau kesalahan dalam bekerja dilakukan oleh dokter? Dokternya sih bisa belajar dari kesalahan. Lah pasiennya?

Komen dong
EmoticonEmoticon