16 August 2019

Pengen Masuk Surga Kok Malah Sholat



Kitakitu.id-
Kemarin kita di hebohkan dengan Ijtihad Ulama (versi GNPF) ke IV yang salah satu hasilnya adalah “NKRI bersyariat”. Hasil tersebut sampai menjadi trending di kalangan masyarakat twiter (yang katanya lucu :v).
Saya kok agaknya mulai merasa aneh dengan kelakuan “mereka”. Sebenarnya apa sih yang mereka perjuangkan ?? Indonesia ini kurang Syariat apa coba? Pancasila ini kurang syariah apa ?
Coba deh kita teliti. Syariah adalah jalan yang mengantarkan kepada kebaikan. Bukankah semua peraturan bertujuan untuk kebaikan ? Kita ambil contoh peraturan lalu lintas, disana ada larangan untuk menerobos lampu lalu lintas jika warnanya merah, karena diseberang sana ada kendaraan yang sedang jalan. Bukankah ini juga asas dari syariah ?

“Hanya karena namanya tidak ada syariahnya, bukan berarti itu tidak syariah.”

Islam kalau di Ibaratkan itu seperti padi. Bisa di buat jadi nasi, bisa juga jadi bubur dan sebagainya. Tergantung kebutuhannya untuk apa dan siapa. Padi kalau di olah jadi nasi, apakah kadar padinya akan hilang ? Begitu juga dengan Pancasila... ia sudah di olah menjadi sebuah ideologi negara Indonesia tanpa meninggalkan asas keislaman itu sendiri. Jadi kita tak usah lah memperjuangkan NKRI bersyariah, karena Negara kita ini sudah sangat syariah ya akhi..
…………………………………….
Bagi saya, Islam terlalu besar untuk kita bawa sebagai “tameng”. Contoh: ketika ada orang yang melontarkan guyonannya seperti “sholat boleh di langgar”,  dan disana ada beberapa orang yang (kebetulan) beragama Islam merasa tersinggung dengan konten tersebut kemudian mengatakan “anda menghina Islam”. hahah padahal yang tersinggung itu anda, kenapa jadi Islam yang dibawa-bawa :v
Satu dua orang tentunya tidak bisa merepresentasikan “wajah” Islam. karena representasi Islam adalah kitab sucinya. Kasus yang terjadi adalah sebaliknya. Sebagai ilustrasi, jika ada seorang yang beragama Islam, kemudian melakukan kejahatan, maka harusnya yang jahat adalah orangnya, bukan agamanya. Kalau pisau digunakan untuk membunuh orang, maka yang dipenjara adalah orangnya, bukan pisaunya.
Banyak sekali orang yang mengaku Islam, namun perbuatannya tidak Islami. Sehingga kebanyakan media membuat wajah Islam adalah “Radikal”. Btw, saya kurang setuju dengan istilah Islam radikal. Bagi saya, tidak ada Islam radikal. Yang ada adalah orang radikal, yang kebetulan beragama Islam.
…………………………………
Islam banyak disalah artikan, bahkan oleh pemeluknya sendiri. Hal paling dasar adalah, kesalahan memahami sebuah ibadah.
Sholat, puasa, zakat itu adalah murni ibadah kita kepada tuhan dalam bentuk spiritual. Jadi jangan meminta imbalan dengan yang bersifat material, seperti uang, kekuasaan dan lain-lain. Juga perlu di ingat, Ibadah itu bentuk syukur kita karena sudah diberi. Bukan kita memberi terus meminta imbalan (paham gak sih maksd gw).
Tolong kalimat diatas di baca lagi, agar tidak ada anggapan saya melarang berdoa. Yang saya sebut sebagai salah pemahaman disini adalah, ketika kita sudah melakukan sholat, seakan kita berhak untuk mendapatkan sesuatu. Padahal sholat itu ya murni wujud syukur saja. kalau mau sesuatu itu ya berdoa. Bukan sholat, atau zakat.
Selanjutnya adalah tentang Ibadah yang berhubungan dengan sesama makhluk. Ini adalah hal penting yang sering diremehkan. Kebanyakan hanya fokus dengan ibadah yang sifatnya ritual. Contohnya ketika ada seseorang melanggar Ibadah yang berhubungan dengan Allah, seperti: penistaan, tidak puasa, atau zina. Nah ketika itu terjadi, Maka Ormas Islam akan langsung geram dan marah... Tapi ketika yang dilanggar adalah ibadah yang berhubungan dengan manusia seperti: korupsi, merusak lingkungan, kok bias-biasa saja, tidak rame kayak Penistaan. Bahkan tidak ada tuh demo bela agama karena ada yang korupsi. Tidak ada juga tuh sweeping koruptor, atau sweeping orang yang tidak buang sampah pada tempatnya. Duh bela agama kok setengah-setengah :v
……………………….
“jangan maksiat”. Takbirrr.
“Jangan pacaran”. Takbirrr.
……………………….
Sering sekali kita mendengar suara lantang seperti di atas. Tapi tidak pernah ada suara lantang untuk melarang orang membuang sampah sembarangan. Padahal menjaga lingkungan adalah hal dasar. Bagaimana kita bisa ibadah kalau lingkungannya tidak mendukung ?
Kenapa orang-orang lebih marah ketika ibadah yang berhubungan dengan Allah diganggu, Daripda ibadah yang berhubungan dengan manusia ? hingga melakukan kerusuhan atas nama agama.
jika menjalankan perintah dari agama yang kamu pelajari membuatmu menghina dan merendahkan orang lain, yang kamu muliakan itu agamamu atau egomu ??
……………………….
Dalam sebuah hadis di katakan. Ciri-ciri orang munafik menurut Nabi Muhammad SAW adalah “jika berbicara ia dusta, jika berjanji tidak menepati, jika diberi amanat ia khianat. Meski ia puasa dan sholat, serta menyangka dirinya seorang muslim.” (HR. Muslim).
Lihatlah, bahkan ibadah (kepada Allah) saja tidak cukup, kita memerlukan akhlak yang agung (kepada manusia).
Tentunya kita pun sudah familiar dengan cerita-cerita seperti: pelacur masuk surga gara-gara memberi minum anjing. Atau cerita tentang seorang imam besar yang masuk surga bukan karena amal atau karyanya, akan tetapi karena membiarkan lalat minum (dalam riwayat lain mengatakan nyamuk).
Banyak sekali cerita yang mengandung hikmah bahwa kita harusnya tidak hanya fokus dengan ibadah kepada Allah saja (ritual). akan tetapi kita juga harus memperhatikan ibadah kepada sesama makhluknya.
Bahkan dalam Al-Quran, ibadah harus berbasis kepada kebaikan. Seperti potongan surat al-Ankabut ayat 45, “sesungguhnya sholat itu mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar”. Sudjiwo tejo bahkan mengatakan khusuknya sholat itu bukan ketika sholat, Tapi setelah sholat. Dalam zakat pun, kalau kita merasa sombong dan berharap pujian, maka pahalanya akan hilang.
……………………………….
Wajah Islam Islam yang rohmatan lil alamin menjadi “kabur” di mata masyarakat non muslim. Hal ini terjadi bukan karena banyaknya kejahatan, akan tetapi banyaknya orang baik yang terlalu lama diam. Ahirnya di sosial media, wajah Islam pun di isi oleh mereka yang di anggap “radikal”.
Sejak kapan Islam diwakili satu golongan ?? seyogyanya orang-orang yang lebih paham tentang Islam, mulai menyuarakan dan memberikan tauladan bahwa:
Dakwah itu mengajak, bukan mengejek.
Dakwah itu merangkul, bukan memukul.
Dakwah itu membahagiakan, bukan membahayakan.
Dakwah itu menyenangkan, bukan menyeramkan.
Karena Bagaimana mungkin kita mengajak pada kebaikan jika cara kita tidak baik ?

































………………………………………………………………………………….
*diolah dari pemikiran dan ceramah Gus Mus, KH. Marsudi Syuhud, dan Habib Husein Ja’far Al Hadar.

kitakitu.id

Komen dong
EmoticonEmoticon