02 September 2019

Hijrah Ndiasmu !!!

KITAKITU-

Fenomena mendadak hijrah sudah menjadi trend di kalangan anak kekinian, ini bisa dilihat mulai dari gaya berpakaian, gaya bicara, wallpaper HaPe, sampai story sosial media.

Buanyak sekali yang mendengungkan untuk hijrah, namun hanya sebatas fisiknya. Atau hanya sebatas “jargon” untuk jualan saja. terutama publik figur yang biasa kita disebut artis.
Ada tuh publik figur yang suka sholawatan dengan jargon “tidak pacaran”, “temukan aku di istiqorohmu” tapi uploud foto berduan di sosial media :v

Terlepas dari statusnya yang katanya adek kakak saja. tidak bisa dipungkiri kalau Hijrah memang identik dengan hijab, kalau tidak hijab maka belum hijrah.
Hijab adalah satu hal, hijrah adalah hal lain. Jadi berhijrah bukan hanya berhijab, dan berhijab belum tentu berhijrah.

Memang bukan rahasia umum lagi ketika “hijrah” pun mulai di perjual belikan, baik melalui produk kecantikan ataupun jargon halal pada produk yang rasanya kurang wajar diberi label halal, seperti: kulkas, ataupun wadah makanan.

Mungkin istilah “puber” agaknya cocok untuk mereka. Sebenarnya sih saya agak terganggu dengan kaum puber yang mendadak hijrah. Salah satu yang agak panas di mata saya adalah story di sosial media mereka (sampai kliatan cuma titik-titik doang). Dimana setiap hari pasti itu-itu saja ustadz yang di buat story, dan materinya pasti kalu tidak tentang pacaran ya tentang jodoh. Ya memang sih rata-rata dari mereka adalah pejuang jomblo sampai halal (itu juga karena korban perasaan :v).

“He sejak kapan story dakwah ustadz-ustadz hits tidak boleh dibuat story ?”


Saya sih tidak mempermasalahkan itu, yang saya kurang suka adalah ketika membuat story tentang hijrah, kemudian merasa dirinya sudah suci, sudah bebas dari dosa, sudah berhijrah. Sehingga bebas ngatain orang yang tidak berkerudung dengan panggilan “neraka”
Duh serem sekali.

Memang sih biasanya sebelum bilang begitu ada basa-basinya. Biasanya sih dengan kalimat “sekedar mengingatkan”. Kemudian diikuti dengan dalil, ataupun potongan ceramah ustadz-ustadz hits, dan diahiri dengan kesimpulan yang tidak berkerudung masuk neraka.
Huft….

Boleh kok ikut-ikutan trend dengan bikin story dakwah atau apapun itu, namun Jangan sampai ada pernyataan “saya sudah berhijrah dan kalian penuh dosa”.
Ya masak gara-gara sudah berhijab, boleh menghukumi orang lain sebagai pendosa.

Jika berjilbab membuatmu merasa lebih suci dari sekitarmu, maka sesungguhnya jilbabmu lebih bersih dari hatimu.
………………………………

“Namun, apakah mengatakan saya sudah hijrah itu boleh ? apakah itu tidak berlebihan ??”

Emmm bisa dikatakan boleh saja. Tapi tidak harus. Yang tidak boleh adalah mengatakan “saya suci”. Karena ketika anda merasa suci, maka saat itu anda sedang tidak suci. Sebagaimana ketika anda merasa pintar, berarti saat itu anda tidak pintar.

Pada dasarnya, Hijrah adalah bergerak dari Islam yang awalnya diwariskan menjadi Islam yang diajarkan, atau Islam yang dipilih secara berdaulat.

Islam pada dasarnya berbicara tentang substansi. Bukan simbolik. Sesuatu yang bersifat simbolik itu di luar ketentuan Islam. Jadi Islam tidak menyuruh untuk berjubah atau bercadar. Islam hanya menyuruh menutup aurat. Masalah bagaimana caranya, itu tergantung kondisi.

Nah, Yang jadi masalah adalah orang Indonesia lebih fokus pada hal yang bersifat simbolik. Bukan yang substansi.

“Lo katanya hijrah kok gak pake sorban, lo katanya hijrah kok kerudungnya gitu”.

Hijrah itu bukan sekedar berpakaian mirip arab. Atau sekedar bicara logat arab, apalagi ikut-ikutan bikin story dakwah hanya untuk mendapatkan sertifikat hijrah dari netijen.

Kalau hijrah diartikan sebatas dari yang tidak berjilbab menjadi berjilbab, maka bagaimana kalau ada orang yang dari kecil sudah berjilbab dan mau hijrah ??? ya masak cewek harus pake peci atau numbuhin jenggot ?
ahahay

Kita memang selalu berlomba-lomba dalam (simbol) ibadah. Di Indonesia setiap tahun ada sekitar 230.000 jamaah haji, tapi kemudian perubahannya untuk bangsa ini apa ? Ibadah Haji mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang suci, sebagaimana simbolnya memakai baju ihram, dimana tidak ada lagi pangkat atau perbedaan kelas, maka sepulang dari haji harusnya mereka membawa pesan-pesan keadilan dan kesetaraan. Bukan cuma cerita perjalanannya pergi haji, atau cuma sekedar membawa embel-embel tambahan huruf H di depan nama.

“Eh tapi boleh gak sih kita pamer foto-foto ketika haji ? takutnya di kira riya’, padahal kan cuma mau syiar ?”

Segala sesuatu yang berkaitan dengan agama itu tentang diri kita dengan Allah, jadi jangan terpengaruh oleh yang lain. Karena agama bersifat intim. Maka sebenarnya yang bisa mengukur ini riya atau tidak adalah diri kita sendiri. Agama tidak mengajarkan untuk mengadili bahwa mereka riya atau tidak. Karena jika kita melakukannya, justru kita yang bermasalah. Biarkan saja mereka mempertanggung jawabkan amalannya nanti.

“La kalau seperti itu gimana kita menilai orang tersebut sudah berhijrah atau belum ?”

Sebenarnya mudah sekali. Ada hadis yang mengatakan, Seorang mukmin adalah ketika orang di sebalahnya merasa tidak terganggu secara lisan maupun perbuatan (Artinya ukurannya adalah akhlak). Kalau dia benar-benar sudah berhijrah hatinya, maka ia bukan hanya menjadi pribadi yang baik kepada diri dia sendiri, tapi dia juga akan baik kepada masyarakat yang lain.
……………………………………….

Hijrah seharusnya dapat mengantarkan kita tidak hanya pada aspek ritual saja, namun juga pada aspek sosial. Sehingga umat Islam yang dikatakan “sholeh” secara ritual, menjadi “sholeh” secara sosial.
















………………………………………………
*Di olah dari pemikiran dan percakapan:
Habib Husein Ja’far Haidar
Sakdiyah Ma’ruf
Kalis Mardiasih

kitakitu.id

Komen dong
EmoticonEmoticon