23 September 2019

INDONESIA TIDAK SEDANG BAIK-BAIK SAJA

Kitakitu.id-


Yang dulunya dukung jokowi pasti mulai resah dengan kerja pemerintah yang terkesan aneh. Mulai dari kasus Rasisme, KPK, RKHUP, dan sebagainya.Yang dulu dukung prabowo juga harus sadar, beliau akan bergabung ke pemerintahan juga. Nah bagi yang dulu golput, mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk bilang “kata gue juga apa, dua-duanya vrengsek” Kwkwkwkwkw.

Indonesia sedang mengalami masa-masa kehilangan. Setelah tanggal 11 September 2019 lalu mantan Presiden ke 3 Republik Indonesia Alm. Eyang Habibi menghembuskan nafas terahirnya. Indonesia kembali kehilangan hutan di Kalimantan karena kebakaran yang di duga keras dilakukan oleh bangsanya sendiri. Belum sempat berduka, Indonesia kembali kehilangan. Kali ini Indonesia kehilangan keadilan dan demokrasi lewat Wakil Rakyatnya.

Di ahir masa jabatannya, Pemerintah seperti ingin membuat borok lebih lebar. Banyak hal yang dilakukan pemerintah kita tercinta, salah satunya dalam Revisi UU KPK, dan itu membuat KPK tidak lagi menjadi lembaga independen. Ini membuat KPK bisa diintervensi oleh pihak manapun karena menjadi satu bagian dari Lembaga pemerintahan. KPK juga terancam tidak bisa lagi menggunakan jurus andalannya yaitu Oprasi Tangkap Tangan (OTT) karena harus ada izin terlebih dahulu jika ingin melakukan penyadapan. Padahal jurus ini sangat ampuh untuk menghajar para koruptor, bahkan bisa membuat mantan Pimpinan Partai P*P menggunakan rompi oren.

Data menunjukkan sampai juni 2019, koruptor yang paling banyak ditangani KPK adalah anggota DPR di Pusat dan Daerah. Jumlahnya sampai 255 perkara. Tercatat ada 130 kepala daerah, 6 pimpinan partai politik, 27 kepala lembaga atau kementrian yang terjerat kasus korupsi.
RUU KPK yang sekarang memang bukanlah upaya pertama melemahkan agenda pemberantasan korupsi. Namun secara kasat mata upaya kali ini memang sangat berbahaya dan sangat mungkin berhasil. Banyak pengamat menilai prosesnya sangat cacat. Publik pun curiga, karena terkesan diam-diam dan tanpa keributan. Padahal kita tau pejabat publik biasanya perang mulut serta rutin bertengkar. Kenapa tiba-tiba saja pejabat kita kompak gini ??

Calon pimpinan KPK yang bermasalah secara etika justru dipilih anggota dewan. Ini seperti menggunakan format demokrasi namun sebenarnya melindungi oligarki. Yang lebih mengecewakan lagi adalah presiden kita seakan “diam” dengan permasalahan ini.

Banyaknya petisi yang dibuat menunjukkan masyarakat kecewa pada kerja pemerintah yang justru memperparah boroknya sendiri di ujung jabatannya. Dan inilah yang paling berbahaya dari korupsi, yaitu ketika rakyat tidak percaya pemimpinnya sendiri.

Keputusan “ngawur” ini puncaknya pada Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKHUP) yang menurut pengamat memuat pasal-pasal ngawur.
Dari 600 lebih pasal yang direvisi, memang tidak semuanya ngawur, ada juga yang lucu. Seperti pasal 432 yang bunyinya “setiap orang yang bergelandangan di jalan atau di tempat umum yang mengganggu ketertiban umum dipidana dengan pidana denda paling banyak kategori I”. FYI ajah denda kategori satu itu senilai 1 juta Rupiah.

Bukankah adanya orang gelandangan adalah karena mereka tidak punya uang untuk tempat tinggal ? lalu bagaimana mereka akan membayar denda sementara hidup mereka juga susah ??
Kalaupun pasal tersebut di sahkan, lalu kemana tempat tinggal para gelandangan ? Apakah nantinya gelandangan akan mengungsi ke musholla ? atau di alihkan ke SPBU terdekat ??
Hiyahiyahiya

Selain itu ada juga pasal yang mengatur tentang ideologi Negara, yang mana pasal tersebut melarang penyebaran ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme. Dimana tidak ada lagi yang boleh menyebarkan atau mengembangkan ajaran tersebut. Jadi mungkin beberapa tahun lagi buku-buku kiri akan di hanguskan, diskusi tentang paham kiri akan di bubarkan, serta akademisi yang keceplosan membahas paham kiri akan di pidanakan. Duh serem yah.

Sebenarnya apasih yang ditakutkan pemerintah dengan adanya orang yang menyebarkan atau mempelajari faham kiri ? bukankah tidak ada salahnya sekedar mempelajari ? bukankah kita ini ragam ? kenapa buku bacaan harus di seragamkan ??

Kalau boleh saya ibaratkan, Pemerintah sekarang itu seperti gaya pacarannya anak-anak sekolah yang over protective. Saya yakin pemerintah cinta dengan Indonesia, namun cara menunjukkan kecintaan tersebut agaknya malah menyiksa sebagian besar rakyatnya sendiri.
Apakah ini yang dimaksud dengan SDM ungul ?? malu dong sama umur.

Indonesia memang sedang tidak baik-baik saja. Banyak kasus yang terjadi oleh tangan-tangan bangsanya sendiri. Yang di atas sibuk bagi-bagi jabatan, yang di bawah malah berkelahi dengan sesama teman.

Kita memang sudah kehilangan banyak hal, namun yang paling parah adalah kita kehilangan rasa sebangsa.
Seringkali kita berkelahi tanpa sadar bahwa kita sedang berkelahi dengan saudara sendiri.
Dalam pemilu kemarin (atau sampai sekarang) contohnya, orang yang kalau mendukung jokowi maka yang dilakukan prabowo adalah salah. Begitu juga yang mendukung prabowo, maka semua kepitusan jokowi tidak pernah benar.

Hemat saya, hal seperti ini sudah sangat sering terjadi. Tanpa diadu domba oleh bazzer dan politisi pun orang Indonesia sudah seperti ini sejak lama. bangsa kita memang bangsa yang suka cari masalah, dan itu sudah biasaaa.

Kita bisa berkaca pada kasus pandji pragiwaksono vs pecinta kucing. Kita tau ada banyak sekali pecinta kucing di Indonesia, kita juga tau ada banyak spesies kucing yang ada di dunia. Bagi yang belum tau, pandji mendapat sejumlah kritikan dari pecinta kucing karena materi komedinya tentang kucing kampung dinilai merendahkan derajat kucing dan menyinggung pecinta kucing Indonesia.
Ini merupakan hal lucu, dan bahkan lebih lucu dari materi kucingnya pandji sendiri. 
 Pertanyaan saya satu, jika kalian mencintai kucing, apakah tidak boleh kalau ada orang yang membenci kucing ?

Tidak mau berbeda adalah keseharian kita, bahkan dalam hal kecil pun kita tidak terbiasa berbeda. Kita lebih terbiasa berkelahi dalam perbedaan. Bahkan masalah tim sepakbola favorit saja berantem.
Kalaupun ada orang yang ngefans banget dengan Manchester united dan ada orang lain menyukai tim yang berbeda, maka akan terjadi saling ejek. Dan tidak ada yang terima tim kesayangannya di ejek.

Mental seperti ini agaknya sudah menjadi mental budaya yang turun temurun. Ahirnya ketika pilpres pun wajar saja terkesan memanas.

Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai bangsa ?
Apakah kita harus menunggu pemimpin kita untuk membuat suatu perbaikan atau perubahan ?
Bukankah tugas tersebut ada tangan setiap anak bangsa ?
Nah, daripada kita mengharapkan keteladanan dari pemimpin negeri ini. Kenapa bukan kita saja yang memberi teladan bagi sekitar.








*di olah dari Narasi TV dan pemikiran Sudjiwo Tejo

kitakitu.id

Komen dong
EmoticonEmoticon