29 September 2019

SEPUTAR DEMONSTRASI DAN AMBYARNYA PERASAAN INI

Kok kebangeten men. Sambat belas raono perhatian.
Jelas kubutuh atimu. Kubutuh awakmu. Kok kebangeten men.
Loro ati iki. Tambarno karo tak nggo latihan.
Sok nek wes oleh gantimu. Wes ra kajok aku. Mergo wes tau. Wes tau jeru.
Biyen aku sek betah. Suwe suwe wegah. Nuruti kekarepanmu. Sansoyo bubrah.
Mbiyen wes tak wanti-wanti. Ojo ngasi lali. Tapi kenyataannya pergi.

Lirik lagu “kartoyono medot janji” dari Denny cak nan (bukan denny siregar) yang sangat ambyar ini sepertinya mewakili kondisi hati rakyat Indonesia Raya saat ini. Ambyarnya kepercayaan tersebut mencapai puncaknya ketika diakhir hayat jabatan DPR membuat revisi UU yang bisa dibilang grusa-grusu su. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang cerdas, kita tahu mana yang benar-benar untuk rakyat dan mana yang hanya “bertameng” rakyat.

Dalam argumentasinya, wakil rakyat kita mengatakan bahwa RUU tersebut (termasuk UU KPK yang sudah disahkan) adalah aspirasi rakyat, dan untuk kesejahteraan rakyat. Namun Masyarakat tentu sudah melakukan diskusi dan kajian tentang RUU ini, dan semua kesimpulannya menyatakan RUU ini ngawur. Lalu sebenarnya aspirasi rakyat yang mana yang diperjuangkan dewan Legislatif kita ?

Seperti pemberitaan media, di berbagai kota bahkan kabupaten terjadi demonstrasi oleh mahasiswa. Ada yang benar-benar lantang memperjuangkan, ada juga yang berjuang sambil mengibarkan (menjunjung tinggi) bendera organisasinya, ada juga yang berada dibarisan belakang dengan spanduk khas Negara +62




Memang banyak cara untuk menyuarakan protes. Kalau hanya terkesan ikut-ikutan saja lalu kenapa ? bukankah demonstrasi itu memang untuk konten, untuk dikabarkan dan dilipatgandakan ? kalau jaman dulu saking sulitnya publikasi sampai harus rusuh agar diberitakan, sekarang kita bisa melipatgandakan sendiri disaat stasiun televisi memilih bungkam. Jadi meskipun hanya bikin instastory tentang demo itu juga termasuk perlawanan wahai sobat ambyar.

Selain poster yang unik dan kreatif tersebut, ada peristiwa unik lainnya saat ada bantuan pasukan dari adek-adek STM yang mengejutkan. Sambil berlari mereka bilang “maaf bang telat, kami sekolah dulu”.  Setelah itu, adek-adek STM langsung menyerbu gedung DPR.

Komentar netijen pun sangat beragam, ada yang mengatakan “ahirnya skill tawuran anak stm berguna juga”, ada juga yang mengatakan “Saat abangnya sudah kelelahan, mereka datang dengan pasukan”.
Saya tertawa sekaligus bangga-bangga gimana gitu dengan lantangnya suara mereka.

Memang benar sih prilaku tersebut efeknya negatif. Namun jika kita cermati, kira-kira kapan terahir kali demonstrasi dengan skala besar di berbagai kota bahkan kabupaten, yang diikuti oleh mahasiswa maupun pelajar serta didukung masyarakat secara serentak ??

Inilah keterlibatan publik dalam menyuarakan ambyarnya keadaan hati mereka.
***
Masalahnya di berbagai media, yang menjadi pembahasan justru demonstrasi tersebut “ditunggangi”, “pasti ada kelompok lain yang masuk dan menyebabkan kerusuhan”. Iya sih saya tidak bisa melarang skill bazzer kalian, hanya saja yang lebih penting dibahas adalah kenapa bisa terjadi demo ? Bahas dong kenapa ada pasal ngawur dalam RKUHP !!! bahas juga dong kenapa prosedurnya terlalu buru-buru !!! Bahas juga kenapa pak jokowi tidak membaca draft UU KPK yang sudah disahkan !!

Ya meskipun banyak sih para buzzer jokowi yang bilang bahwa bapak presiden tidak bisa disalahkan karena RKUHP ini kan buatan DPR, namun sepertinya banyak juga yang tidak tahu bahwa pembahasan ini dilakukan bersama-sama antara DPR dan pemerintah. Nah, jadi kalau Presiden mengatakan bahwa beliau tidak tahu draft UU KPK ya mungkin beliau tidak update dengan pemerintahannya sendiri, atau mungkin beliau tahu, tapi tidak berkata jujur, dan itu bukanlah sebuah tanda yang baik buat kita semua.
***
Sebenarnya saya bingung, apakah saat membuat RUU tersebut para wakil rakyat kita dalam keadaan sadar dan tanpa pengaruh alkohol ? karena jika memang dalam keadaan sadar, harusnya mereka bisa memberi kejelasan kenapa ada pasal yang dinilai menguntungkan beberapa pihak saja.

Dewan Perwakilan Rakyat pasti memiliki kemampuan bicara diatas rata-rata. Karena itu pastinya tidak sulit untuk menjelaskan urgensi dan alasan tentang pasal yang dianggap ngawur oleh berbagai kalangan tersebut. Karena sampai saat ini saya belum menemukan alasan logis kenapa harus ada pasal tersebut, yang bisa saya lakukan ya berpikir bahwa pasal tersebut benar-benar ngawur.
***
Dalam riuhnya suasana demonstrasi, seorang netijen ada yang mengatakan kenapa harus demo seperti itu yang malah merusak fasilitas Negara dan bikin rusuh. Kenapa tidak membuat aksi saling bantu saja ? kalau ada kebakaran ya bantu dipadamkan, kalau ada korupsi ya bantu penindakan, kalau ada UU ngawur ya bantu merumuskan atau bantu secara pemikiran.

Nah, saya agaknya setuju dengan anda dalam beberapa hal, kalau masalah kebarakan hutan, saya setuju dengan anda. Namun untuk kasus UU yang ngawur, sepertinya kita tidak bisa membantu badan Legistatif Negara. Saya lebih setuju bahwa ada kalanya kerusuhan juga diperlukan untuk menyebarluaskan isu atau membuat pemerintah berpikir ulang. Karena Akademisi sudah banyak yang mengajukan protes dengan sopan dan santun, tapi hasilnya apa? Apakah DPR langsung merevisi UU ngawur ? tentu tidak dong, ahirnya apa? Untuk membuat protes yang terdengar di telinga DPR, maka diperlukan demonstrasi yang besar.

Yang paling aneh justru ada netijen yang dengan bangga mengatakan “yang salah itu rakyat, karena mau menukar suaranya dengan amplop 100k”.

Kenapa saya bilang aneh ? karena yang dia salahkan adalah masa lalu, gimana kita bisa merubahnya ? oke lah mungkin niatnya sekedar pembelajaran, namun bukankah sebagai orang terpelajar harusnya lebih mengedepankan solusi dalam permasalahan. Ibarat kalau mau move on dari mantan ya liat masa depan dong, bukan menyesal kenapa dulu pernah pacaran sama dia.

Terlepas dari hal tersebut, Sebenarnya kalau ingin mengetahui demo itu baik atau buruk, sederhana saja, coba cari kira-kira apa tuntutan dalam demonstrasi tersebut. Dari situ bisa kita timbang seberapa penting aksi tersebut.

Kalau tidak suka dengan kerusuhan dalam demonstrasi ya jangan salahkan demonstrasinya dong, tapi salahkan saja cara orang dalam demonstrasi tersebut.
***
“Tapi kenapa masih ada demo, bukannya RUUKUHP akan ditunda sesuai tuntutan mahasiswa ?”
Nah ini yang mesti diluruskan, sebenarnya para demonstran tidak hanya ingin RUUKUHP ditunda, namun harusnya direvisi. Dan sebenarnya kalau dibaca lagi, tuntutan mahasiswa tidak hanya tentang RUUKUHP saja, namun ada 7 poin, nah dari semua poin tersebut seakan tidak didengarkan, jadi wajar dong demo masih dilaksanakan.


Terlepas dari setuju tidaknya kalian terhadap demonstrasi di berbagai kota, pertanyaannya satu, apa yang kalian lakukan saat mereka melakukan ??

Btw, saya sangat setuju dengan demonstrasi tersebut (meskipun saya tidak ikut demo). Terkadang memang butuh cara-cara ekstrem agar didengarkan. Namun juga bukan tanpa catatan, ini hanya sekedar saran sih, Kalau bisa demonstrasi tidak usah deh bawa bendera organisasi, baik merah, kuning, hijau atau yang lainnya. Karena tujuan kalian demo itu untuk kepentingan rakyat, bukan eksitensi organisasi. Bukan apa-apa sih, cuma ya jangan sampai yang menjadi sorotan justru organisasinya, sehingga membuat tuntutan kalian malah dikesampingkan dari pemberitaan.

kitakitu.id

2 komentar

Nek sing sambat sak endonesa, jan nemen tho?! Kecewa tenan aku!

Komen dong
EmoticonEmoticon