18 September 2019

Tentang Cewek (yang selalu benar)

Kitakitu.id-

“Kok jadi aku yang salah, kan kamu yang dandannya kelamaan”
“Etapi kalau kamu jemputnya lebih awal kan aku bisa lebih cepet dandannya”.

Memang bukan rahasia umum lagi, kalau cewek selalu benar dan cowok selalu salah. Konsep yang terkesan egois ini kalau dipikir-pikir memang terjadi bukan tanpa sebab. Kenyataannya cewek memang selalu saja bisa menemukan “celah” terhadap kesalahan cowok, bahkan saat si cewek juga melakukan kesalahan, kemudian mengungkitnya dan membuat cowok merasa “la kok dadi aku seng salah”. Ibarat come back di ahir tikungan…
Full counter… and enemy has been slain

Dengan berbekal pengalaman pribadi dan kumpulan luka lama, ahirnya cowok pun merilis ungkapan untuk melakukan perlawanan dengan bahasa yang sangat halus. Ya ungkapan tersebut adalah “cewek selalu benar dan cowok selalu salah”.
Namun, bahasa yang terlalu halus tersebut malah di amini oleh cewek dan malah dianggap menjadi prinsip utama yang harus dipegang erat-erat dengan penuh kebanggaan. 

Percayalah, ungkapan “cewek selalu benar” itu bukan pujian, itu hanya satire.. itu sindiran sayang..
Kalimat tersebut dimaksudkan tidak lain dan tidak bukan adalah sebagai protes kaum cowok terhadap tingkah para cewek yang selalu menyalahkan kami (kaum cowok), dan selalu saja ingin dimengerti tanpa kode yang jelas. (padalah cewek selalu menuntut kejelasan).
Kenapa ini menjadi penting untuk dibahas ? karena dari sini kemudian muncul beberapa hal yang malah menghilangkan sisi menarik dari cewek.

Salah satunya adalah percakapan paling atas tadi. Atau misal dalam sebuah hubungan asmara, ketika terjadi masalah dan cowoknya tidak mau ngalah, maka seorang cewek akan bilang “hargai cewek dong.. ibumu juga cewek”. Ya kalau mau dihargai selayaknya ibu, sifat kalian juga harus seperti ibu lah.

Memang agak sakit, dan terkesan kurang ajar, namun faktanya bahwa yang dimuliakan dalam agama adalah ibu, bukan cewek. (Ibumu, ibumu, ibumu, ayahmu).
Pasti para cewek akan bilang: “cewek dan ibu kan sama ajah”
Iya sih, mungkin sama-sama bukan cowok (yang selalu salah) :v

Sebenarnya ibu dan cewek adalah dua hal yang berbeda. Kalau kita logikakan, ibu itu pasti cewek (dalam konteks jenis kelamin) namun cewek belum menjadi ibu (dalam konteks kedudukan). Artinya jika kalian belum menjadi ibu, maka derajat kalian belum diatas cowok. Ini juga tidak berarti derajat kalian lebih rendah juga (jangan sensi oe). Cowok dan cewek itu setara, kalau antara ibu dan bapak, ya lebih tinggi ibu. Begitulah kiranya.

Banyaknya ayat tentang cewek di dalam Al-quran adalah bertujuan untuk menaikkan derajat cewek yang dulu pada zaman jahiliyah selalu direndahkan, bahkan dilecehkan. Kemudian Islam datang untuk menyamakan derajat antara cewek dan cowok sehingga tidak ada istilahnya cewek selalu benar, karena semua di mata Allah adalah sama.

TENTANG KEPASTIAN DAN BUKTI CINTA
“Cewek juga butuh kepastian”.
“Halalkan atau tinggalkan”.
 “Bukti cinta bukan I Love You, tapi Qobiltu”.

Dalam sebuah hubungan, kepastian hidup bersama adalah impian. Mungkin bukan sekedar impian, namun hal yang memang harus disegerakan.
Kepastian dalam hubungan umumnya sering diminta oleh pihak cewek. Ya mungkin mereka sering terjebak dengan hubungan yang tidak jelas arahnya, kemudian ditinggal begitu saja. atau memang pihak cewek merasa umurnya sudah dewasa, dan bukan waktunya untuk main-main lagi dengan perasaan.

Sedangkan si cowok terkesan lebih santuy (meskipun aslinya tidak juga). Bukannya tidak serius, tapi bagi cowok ada beberapa hal yang sebaiknya dituntaskan terlebih dahulu agar air mata hanya bercucuran di awal saja.

Terlepas dari bias gender, memang harus diakui bahwa ada perbedaan dalam kesiapan antara cewek dan cowok. Perbedan tersebut terletak pada bobot kesiapan. Dimana nantinya ketika hidup bersama, si cowok akan menjadi kepala rumah tangga (imam), dan si cewek adalah makmumnya. Wajar dong kalau persiapan imam lebih banyak dari makmumnya, ketika sholat jamaah pun si makmum berangkat lebih dulu daripada imamnya.

Kalau kita bedah isi otak si cowok, beberapa hal yang terlintas di otak ketika diajak nikah antara lain:

  • Nafkah. memberikan nafkah sehari-hari itu perlu dipersiapkan, perlu mendapatkan pekerjaan yang mapan. (gak bisa modal cinta doang).

  •  Melamar. Ini bukan hanya soal mental saja, budaya kita mengharuskan untuk membawa bingkisan untuk dibawa bersama saat lamaran. Dan semakin lama, bingkisan tersebut semakin banyak isinya.

  • Resepsi. Memang dengan akad saja sudah SAH, hanya saja yang terjadi bukan pesta pernikahan antar mempelai, ini lebih seperti undangan “mantu” oleh orang tua masing-masing. Yang diundang juga kebanyakan kerabat orang tua. Mungkin kalau dengan akad saja kami siap mendengar panasnya lidah tetangga, etapi kami (cowok) tidak kuat jika serangan itu mendarat pada orang tua kami. Dan dalam resepsi nanti, kami juga tak ingin orang tua terlalu terlibat masalah pendanaan.
  • Masih menempuh pendidikan formal. “ya kan bisa sekolah/kuliah sambil nikah”. Mungkin ada cowok yang mampu melakukannya, namun sebagian dari kami merasa ada perbedaan kepentingan. Berpendidikan itu dengan tujuan membanggakan orang tua, sedangkan menikah itu kepentingan kami. Apakah salah, jika kami mendahulukan kepentingan orang tua daripada kepentingan pribadi ?.
  • Tanggungan pribadi. Terkadang ada saja cita-cita si cowok yang memang harus di dahuukan daripada keinginan pribadinya, seperti: menyekolahkan adik-adiknya, mencapai jabatan tertentu dalam pekerjaan, menuntaskan hobi, dll.
“Ah ini mah alasan ajah, banyak kok cowok yang berani langsung memberi kepastian, bahkan kerjanya belum mapan, kami siap kok menemani kalian dari bawah”.
Iya, kami (cowok) akan sangat senang ditemani oleh kalian (cewek) dari bawah, namun ego kami mengatakan bahwa keringat adalah milik cowok, cewek yang kami cintai tidak boleh berkeringat juga.

Namun, terlepas dari itu semua. Benarkah bukti cinta adalah qobiltu ? bukankah sekedar qobiltu tanpa persiapan adalah guyon yang dikemas secara serius ? buktinya kasus perceraian ada dimana-mana. Bahkan menurut data sih, pernikahan dibawah 18 tahun itu 50% berahir dengan perceraian. Dan faktor utama perceraian adalah masalah ekonomi.
Ini bukan nakut-nakutin atau doain yang jelek untuk kalian yang nikah muda. Ini sekedar mengingatkan (niru gayanya akhi ukti :v)

Jika menikah hanya karena takut jodohnya diambil orang, atau yang cewek maksain pengen di beri kepastian, tolong berpikirlah lagi. Banyaknya perceraian itu disebabkan karena memang belum siap untuk menikah.

Menikah bukan sekedar memikirkan resepsinya nanti suguhannya rawon apa bakso. Lebih dari itu.. menikah memiliki tujuan memelihara keturunan, hidup berbahagia baik suka maupun duka secara bersama dengan jangka waktu seumur hidup. Karena itu untuk bisa melakukannya diperlukan persiapan yang matang.

Percayalah wahai cewek-cewek idaman, kami (cowok) tidak langsung melamar karena sedang melakukan persiapan. Kami ingin mencari kerja yang mantap dulu. Atau sekedar memuaskan hobi. Kami tak ingin ketika sudah menikah nanti dianggap jarang pulang hanya karena banyak hobi yang belum kami tuntaskan. Kami juga tak ingin memberi kalian makan cinta sajah. Beras sekarang agak mahal, telor ayam juga kadang naik kalau hari raya. Jadi dek, tidak serampangan menikah dalam rangka mempersiapkan segala sesuatu dengan matang adalah bukti cinta kami kepada kalian.



TENTANG PENAMPILAN CEWEK

Bukankah cewek berdandan menarik untuk dilihat para cowok ? tapi banyak kasus terjadi malah cewek yang sewot kalau di liatin cowok.
Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa sih cewek sampai rela dandan ?
Bukankah dandan adalah siksaan ?

Memakai high hill (bener gak sih nulisnya), memakai sepatu atau sandal yang tinggi adalah siksaan, saya sangat paham, la wong saya pernah nyobain :v. Terus Pakai bedak mahal, Pakai lipstick mahal, Pakai eyeliner dan perlengkapan kecantikan lainnya yang Mengurangi waktu luang serta memangkas biaya makan.

“Lo tapi ada cewek yang hobinya dandan”

Saya kok jadi suudzon, sebenarnya cewek itu gak ada yang hobi dandan, hobi mereka adalah dibilang cantik. Dan berdandan membuat mereka “merasa” cantik. Jadi wajar ajah mereka suka dandan.
Coba deh untuk para cewek, ketika ada acara formal, misal wisuda atau pernikahan… kalian dandan lama-lama itu suka gak seh ? Tujuan kalian dandan itu kenapa sih ?? Cuma takut dianggap jelek ajah kan ?? atau cuma takut dikatain “cewek kok gak bisa dandan” ???

Kenapa kalian lebih suka menyiksa diri kalian dengan dandan, hanya karena ingin dibilang cantik, atau hanya karena takut berbeda dan ujung-ujungnya dikatain hatters ? Bahkan ketika saya mengamati, cewek yang biasanya gak terlalu suka dandan pun, ketika wisuda atau pernikahan, pasti dandan juga.

Coba deh beri kami alasan logis kenapa kalian berdandan ???

Bukan apa-apa sih, kami agak kasian saja melihat kalian yang mulai membuat budaya baru dengan menyiksa golongan kalian sendiri. Ini juga menjadi urusan cowok loh, Kami selaku yang (pernah) pacaran pun kadang agak bosen liat kalian memalsukan diri. Nungguin dandan itu lama, dan bosen. Kalaupun kalian tidak dandan pun kami sudah klepek-klepek kok. Atau kalau memang tetap ingin pakai bedak biar gak keliatan dekil atau istilah kerennya “kumus-kumus”. Yaudah gakpapa kok tapi seperlunya saja. tidak usah terlalu mencolok.

Karena kami pun sebenarnya merasakan kegalauan kalian ketika sudah berdandan dengan MUA spesial, selain galau karena harga, kalian pasti galau juga ketika datang waktunya sholat. Kami paham kalian cewek sholihah pasti galau antara pengen sholat atau ingin mempertahankan hasil coretan MUA spesial yang sudah dibayar mahal.
………………………………………………..

Tapi bagaimanapun juga, kami sadar.. apapun itu, cowok akan tetap salah.
Kami hanya berpesan:
Percayalah cowok juga bisa terluka, tapi cowok tidak pernah selfi ketika nangis, kemudian di unggah di sosial media dengan caption “semua cewek sama ajah”. Kami tidak sealay itu.
Percayalah, cowok memang tidak menangis, tapi hatinya berdarah dek…

kitakitu.id

5 komentar

Cewek selalu benar? Ah enggak juga. Cewek juga bisa salah, walaupun...mustahil kalah.

Nice post, walaupun beberapa penggunan 'di' sebagai kata depan yang seharusnya dipisah (mis: di mana, di situ), beberapa kali masih digabung ya. 😊

Heheh trimakasih masukannya om...

Aduh aku ngakak sepanjang baca tulisan ini.... Jadi tau isi hati lelaki apalagi soal dandan. Btw itu tulisannya "high heels" mas.

@anggi:terima kasih sudah mengoreksi kesalahan cowok hahay piss

Aduduu gemes bgt pengen bgt koreksi high heels 😂😂 tulisannya juga menggelitik ya, krn dr sisi cowok sang korban. Sabar yaa, justru sifat2 inilah yang bakal kalian kangenin klo lg jomblo 😜😜

Komen dong
EmoticonEmoticon