10 October 2019

Belajar Berislam dari Orang Non Islam






 *The Journey In Tuban (Klenteng Kwan Sing Bio)

Selalu ada hikmah yang bisa kita pelajari dari berbagai tempat. Itu juga yang saya rasakan ketika menikmati suasana di Klenteng Kwan Sing Bio yang berada di daerah Tuban. Klenteng yang di bangun pada tahun 1773 ini memiliki icon berupa patung raksasa yang sangat instagramable, sehingga cocok buat pamer di medsos biar kelihatan bahagia.
Tidak ada larangan bagi siapapun untuk masuk ke kawasan Klenteng Kwan Sing Bio. Bahkan anda tidak akan ditarik biaya apapun termasuk parkir (indomaret ajah parkirnya 2k).





FYI ajah, Klenteng Kwan Sing Bio ini kabarnya menjadi Klenteng terluas di Asia Tenggara. Dan patung Dewa Kwan Sing Tee Koen setinggi 30 meter ini juga menjadi patung Panglima Perang tertinggi di Asia Tenggara. Meskipun pada tahun 2017, patung tersebut sempat ditutup karena terjadi polemik.


Terlepas dari polemik tersebut, banyak hal yang menarik di sana, salah satunya adalah ada tempat ibadah di dalam tempat ibadah. Iyah, di dalam komplek Klenteng tersebut terdapat Musholla dengan keadaan bersih. Ini menjadi sangat menarik. Artinya secara tidak langsung mereka ingin mengatakan kalau kita sekedar ingin sholat, yaudah tidak ada salahnya mampir ke Klenteng.
Hahay Mungkin ini yang dimaksud melihat Islam namun tidak melihat muslim.

Ini mengingatkan saya dengan orang (yang mengaku) Islam.
Pernah suatu ketika di kabupaten L, saya pengen ke toilet. Nah kebetulan di dekat sana ada masjid, saya pun ke masjid itu untuk mencari toilet. Namun baru lima lingkah melewati gerbang masjid, satpam pun memanggil saya.
“Mau kemana ?”
Ke toilet pak, gak ada toiletnya kah ?
“ada sih, tapi ini masjid, bukan toilet”
Terrrrrrrrr… terrsquckgkk…. Hiyahiyayaaa

Saat itu saya sempat berpikir, apakah memang perlu penjagaan tempat ibadah sampai seperti itu ? bahkan untuk sesama agamanya sendiri ? sedangkan umat minoritas lainnya malah sangat terbuka terhadap siapapun.

Agaknya kita memang harus belajar dari minoritas. Yang mereka lakukan adalah merubah dirinya agar bisa diterima di masyarakat, bukan merubah masyarakat agar dirinya bisa menerima. Jika kita berpikir semua orang menyebalkan, maka berpikirlah lagi. Yang menyebalkan itu semua orang atau pemikiranmu terhadap orang lain saja ?

Kalau dipikir-pikir sih, sebenarnya bukan hanya pada minoritas saja kita harus belajar. Semestinya kita belajar kepada semua golongan. Katanya open minded, kok tertutup pada golongan lain ?

Apakah hanya karena beberapa sifat yang kita tidak suka, berarti kita harus membenci personalnya dan cenderung mengkafirkan ? Nabi dulu susah-susah membuat orang jadi Islam, sementara sekarang orang-orang gampang mengkafirkan orang lain.
(Tepuk tangan dong…)

Yah begitulah kutipan kata-kata dari Tretan Muslim, seorang pengguna dark comedy yang sering terkena masalah karena menyinggung beberapa pihak. Termasuk kasus memasak daging bagi dengan saus kurma.

Terlepas dari kontroversi sikapnya yang kadang juga saya agak kurang setuju, ternyata dalam sebuah konten Youtube Deddy Corbuzier, si Tretan Muslim ini berubah menjadi sosok yang menarik secara pemikiran.

Dalam Podcast tersebut, ketika Deddy Corbuzier bercerita bahwa ketika ia masuk Islam, golongan sebelah menilainya salah guru, maka dengan tenang si Tretan Muslim ini mengatakan “kalau om Deddy berguru dengan mereka, kami tidak akan bilang om Deddy salah guru, itulah bedanya kami dengan mereka”. Sangat teduh sekali komentarnya. Saya bahkan hampir tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut seorang yang “bermasalah”.

Tidak hanya itu saja, ketika obrolan mengarah pada slogan andalan si Tretan (humanity above religion) yang mana banyak orang tidak setuju dengan itu, ia mengatakan “saya tidak mau mendebat orang yang tidak setuju, karena bisa saja kita ini sama-sama benar”. Ia juga mengatakan “bagaimana mungkin kamu bisa mengatakan Islam itu damai, kalau cara yang kamu gunakan tidak damai”.

Nah, saya sangat setuju dengan si Tretan, kalau saya ibaratkan mungkin begini : memberikan susu (minuman) kepada orang lain adalah tindakan baik, kita akan sepakat kalau susu adalah minuman yang baik, namun kalau cara anda memberikan susu adalah dengan melemparkannya, maka anda akan dianggap tidak baik, meskipun sebenarnya niat anda adalah baik.

Sama halnya dengan dakwah, walaupun niatnya baik, namun kalau caranya tidak baik maka akan membuat dakwah kita dinilai tidak baik juga.

Saya sangat menikmati sisi lain seorang yang dianggap “penista agama”. Hal semacam itu bisa terjadi kalau kita open minded, atau terbuka secara pemikiran.
Poin saya adalah sebenarnya kita bisa menemukan pelajaran dari mana saja, dan dari siapa saja.
***
Bangsa ini butuh lebih banyak anak muda yang urakan dan berjiwa pemberontak.
Yang dimaksud urakan bukan yang menerjang aturan untuk gaya-gayaan, tapi menerjang aturan lama karena tidak sesuai hati nurani.

kitakitu.id

Komen dong
EmoticonEmoticon