13 October 2019

Gaji Anda Harus Sedikit kalau Mau Masuk Surga





Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir
Di dalam hatiku
Sebagai prasasti terimakasihku
Tuk pengabdianmu
Engkau bagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa


Kitakitu.id-

Tidak terasa tahun 2019 akan segera berahir. Namun entah apa yang merasukimu  permasalahan di Indonesia juga akan berahir ?
Setiap minggu selalu saja ada peristiwa yang viral  trending serta membuat kita mengelus dada.

Salah satu yang agak sering diperbincangkan ahir-ahir ini adalah ungkapan dari bapak Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendi saat pidato dalam rangka peringatan Hari Guru Internasional pada tanggal 5 Oktober 2019 kemarin.
Beliau mengatakan “Kalau sekarang gajinya sedikit, apalagi guru honorer, syukuri dulu nikmati yang ada, nanti masuk surga,"
Penggalan pidato tersebut sontak menjadi viral  trending di kalangan warga net. Beragam tanggapan negatif pun muncul membanjiri pemberitaan di berbagai media.

Namun saya pribadi sih agaknya setuju dan mendukung pernyataan bapak menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita.

Kalau kita cermati pidato tersebut sebenarnya beliau cuma memberikan tips masuk surga kepada kita semua. Perlu diketahui bahwa peringatan Hari Guru Internasional tersebut bertema Guru Milenial, Sebuah Profesi Masa Depan. Jadi tidak ada salahnya dong memberikan tips masuk surga saat pidato hari guru Internasional tersebut. Surga kan yo masa depan :v (tenang pak saya belain :v).

Salah satu hal positif yang saya tangkap dari pidato beliau adalah selain harus jadi guru yang ikhlas dan bersyukur, kalau ingin masuk surga juga harus bergaji sedikit.

Selain itu, dalam pidatonya beliau juga mengatakan “misalnya guru mengajari anak salah, maka yang menderita nanti bukan anak yang salah itu, tetapi semua orang yang berelasi dengan anak itu, termasuk keturunannya yang akan datang”.
Lebih lanjut beliau mengatakan "Dampaknya luar biasa. Kalau guru mengajarkan salah, maka punya implikasi yang besar. Kalau sifatnya ilmu pengetahuan, tapi kalau karakter itu sulit. Kalau banyak koruptor, itu salah satu yang salah guru. Cuma dari mana, bagaimana ceritanya kok jadi koruptor, itu ya itu sulit. Itu untuk mengetahui betapa besarnya tanggung jawab sosial guru".

Jadi jelas sekali bahwa selain gaji guru sedikit, beban moral yang dibawa juga sangat luar biasa, ini alasan yang sangat kuat bahwa guru akan masuk surga. Karena seperti yang kita tahu bahwa orang yang masuk surga adalah orang yang melarat (Jomblo tidak termasuk).

Tidak hanya itu, masih dalam pidatonya, beliau juga bicara pentingnya organisasi profesi untuk guru. Menurutnya, guru memerlukan organisasi profesi untuk mengasah kompetensinya.
"Pentingnya asosiasi profesi, maksudnya adalah tempat untuk mengasah itu. Bukan untuk arisan, dukung sana dukung sini. Itu bukan organisasi profesi, itu perkumpulan. Karena itu saya bilang, guru ini harus dibangkitkan namanya self dignity. Tanpa self dignity, guru tidak mungkin mencapai performa pekerjaan yang betul-betul hebat".

Nah, dari sini sangat jelas beliau memberikan motivasi kepada guru-guru bahwa dalam kesehariannya, seorang guru harus meningkatkan keprofesionalannya dengan cara berorganisasi profesi. Jadi prioritas utama adalah mengajar. Kalaupun seorang guru memiliki keluarga, tentu mungkin lebih baik dikesampingkan dulu, karena mengejar surga itu lebih baik :D
***
Sekedar curhat, dulu saya pernah berpikir, alasan anak-anak lebih banyak bercita-cita untuk mengobati masyarakat (dokter) dari pada mencerdaskan anak bangsa (guru) adalah karena gaji dokter sebulan sama dengan gaji guru (honorer) setahun. Karena itu jurusan kedokteran di isi oleh anak-anak yang cerdas, sedangkan jurusan Pendidikan di isi oleh anak-anak yang salah jurusan.

Namun setelah mendengarkan pidato beliau, saya menjadi sangat yakin bahwa di hari ini akan banyak anak-anak yang memilih jurusan Pendidikan karena ganjarannya surga.
Saya juga yakin sih ahir-ahir ini menantu idaman akan beralih dari pengusaha muda menjadi guru-guru yang bergaji sedikit. Ya siapa sih yang gak mau punya menantu yang masuk surga.
***
Etapi kalau boleh bicara serius yah, faktanya seorang guru memang kurang dihormati, kita lebih menghormati seorang dokter dari pada seorang guru. Gak ada tuh kasus dokter dianiaya oleh pasien, kalau guru dipukul murid mah banyak. Padahal seorang guru harusnya sangat layak dihormati.

Meminjam perumpamaan dari cak nun tentang “Gentong dan Ceret”.

Gentong adalah sebuah wadah besar yang berisi air. Biasanya gentong mampu menampung sekitar 20-50 Liter air. Gentong memang sengaja berukuran besar agar isi ulangnya bisa kembali dilakukan dalam waktu yang agak lama. Air dalam Gentong adalah air yang belum matang, karena itu air tersebut tidak layak untuk diminum, kalaupun nekat diminum pun rasanya pasti tidak wajar.
Fungsi Gentong adalah untuk menampung air yang digunakan untuk memasak, fungsi air gentong ini sangatlah penting, namun perlakuan terhadap Gentong sangatlah miris. Gentong selalu di taruh di ujung belakang rumah atau di pojok dapur yang berdebu dan gelap, serta biasanya di atas Gentong selalu ditaruh barang-barang lainnya sehingga Gentong seperti ada namun tak dianggap.

Berbeda dengan Ceret. Seperti yang kita ketahui, Ceret adalah tempat minum yang menampung air sekitar satu Liter saja. Air dalam ceret pun biasanya adalah air siap minum atau bahkan diolah menjadi kopi, teh, sirup atau semacamnya. Air ini kemudian dituangkan dalam gelas kosong untuk suguhan tuan rumah kepada tamunya, sehingga Ceret pun selalu dalam keadaan bersih dan berwarna-warni agar terlihat “pantas”.

Tapi sebagus apapun tampilan Ceret atau seenak apapun air dalam Ceret, ia akan selalu butuh air dalam Gentong untuk isi ulang.


Dalam perumpamaan tersebut, kita bisa bersepakat bahwa Gentong adalah seorang guru yang memiliki air (ilmu) yang cukup banyak dan dibutuhkan untuk keseharian. Namun sepertinya kita tidak bisa bersepakat dalam pemaknaan secara keseluruhan, karena itu mungkin kita bisa memaknainya sendiri sesuai hati nurani masing-masing.
***
#SekedarMengingatkan : Tugas guru itu tidak hanya memahami pelajaran, namun juga memahamkan pelajaran kepada anak didiknya. Guru memang bukan menjadi profesi yang hebat, namun guru bisa menjadikan anak didiknya berprofesi hebat.
Semoga guru-guru di Indonesia menjadi guru yang di gugu lan di tiru, bukan guru yang di gugu lan di paidu.

kitakitu.id

2 komentar

kata orang tua sekarang menjadi guru dijadikan sebuah pekerjaan, jadi ya sebagaimana orang bekerja itu saja.
tapi kasihan juga para honorer, gaji mereka sedikit padahal mereka mendidik anak bangsa.

Komen dong
EmoticonEmoticon