17 October 2019

Logika Cania Citta Irlanie Tentang Kritik Netijen yang Salah Kaprah




Kitakitu.id-

Siapa yang tak kenal Abu Nawas ? tokoh ini sangat terkenal dengan kecerdikan dan kelucuannya, bahkan sering sekali terlihat menjengkelkan. Kebiasaan tersebut tidak hanya beliau lakukan ketika masih hidup saja, bahkan ketika sudah meninggal pun bagian depan kuburannya diberi pagar dengan gembok raksasa sehingga kalau ada orang ingin mengunjungi makam beliau, agaknya mustahil. Namun ndilalah di bagian kanan dan kiri kuburannya dibiarkan terbuka alias tanpa pagar sehingga bisa kita bayangkan gembok raksasa di bagian depan makamnya menjadi sia-sia. Kecerdikan dan kelucuan Abu Nawas memang selalu hidup.

Entah ingin meniru kelucuan Abu Nawas atau hanya ekspresi kebingungan saja, banyak sekali netijen yang suka meninggalkan jejak kelucuannya, salah satunya dalam masalah komentar atau kritik.

Memang sih di dunia maya kita bebas berekspresi se-alay mungkin. Kita juga bebas mengomentari ke-alay-an orang lain. Bahkan kita juga bebas untuk marah jika ke-alay-an kita dikomentari orang lain. Namun kebebasan tersebut agaknya mulai kebablasan dan ngawur, atau bahasa keseharian Cania Citta adalah Logical Fallacy.

Sekilas tentang Cania Citta Irlanie, perempuan yang akrab disapa Cania (read: kaniya) merupakan pemikir milenial yang inspiratif dan terkesan “intelektual”, hal ini tersirat dari kosa kata yang dia lontarkan ketika berbicara.

Cania mulai hangat diperbincangkan setelah pendapatnya di ILC yang menyatakan setuju dengan LGBT, karena menurutnya campur tangan Negara terlalu jauh jika sampai mengurusi dengan siapa seseorang harus berhubungan.

Pemikiran Sarjana Ilmu Politik di UI ini sering dianggap Liberal dan bermasalah oleh beberapa pihak, namun terlepas dari berkerudung atau tidaknya si Cania ini, hemat penulis dia merupakan sosok yang selalu mengedepankan Logika dalam setiap permasalahan.

Cania sering mengkritik pemikiran beberapa orang dengan logikanya, yang mana kolom komentarnya auto dihujat oleh netijen, namun bukannya marah, si Cania ini justru menanggapi komentar netijen dengan logika. Menurutnya banyak netijen yang sesat pikir dalam masalah kritik, beberapa yang dianggapnya salah kaprah antara lain :

1.   Harus bertemu Orangnya

Banyak sekali netijen yang berkomentar “kalau mau kritik ya temui orangnya dong, jangan cuma berani di belakang doang”. Komentar seperti ini di telinga Cania terdengar ngawur, karena kalau prinsip ini kita terapkan secara Masif dan Terstruktur maka wacana kademik akan menjadi kacau.

Bayangkan saja kalau kita ingin menulis kritik tentang “Das Capital” maka kita harus bertemu Karl Marx. Kalau kita ingin mengkritik Abu Jahal maka kita juga harus bertemu dengannya ?? masalahnya mereka kan sudah lama meninggal, bagaimana mau bertemu ?? lalu apakah ketika kita mengkritik beiau-beliau yang sudah meninggal maka kritik kita akan dianggap invalid ??

Jadi sangat ngawur jika kita menganggap bahwa kritik itu harus bertemu orangnya langsung atau harus live debate seperti debat Pilpres dan Harus One on One sambil diteriaki pendukung dan penghujat masing-masing agar kritikan kita bisa diterima.

Tapi yang lebih parah adalah komentar tersebut justru menyerang dirinya sendiri, karena kalau kita memakai logika demikian maka seharusnya netijen pun harus menemui si Cania dulu dong untuk mengkritik, kenapa malah mengkritik di kolom komentar ? :v


2.     Harus lebih Hebat dari yang Dikritik

Dalam video Cania tentang kritik Deddy Corbuzier, banyak juga netijen yang mengatakan “saya rasa anda tidak lebih pintar dari om deddy”, atau bahkan “jangan mengkritik dulu sebelum anda bisa lebih kaya dari om deddy”.

Apakah kalau kita ingin mengkritik seseorang maka kita harus lebih hebat dalam hal apapun ? kita kan cuma mengkritik beberapa hal saja dari orang tersebut, kenapa harus lebih hebat dalam segala aspek dari mulai kemampuan memasak sampai kemampuan menikung sebuah hubungan yang sedang hangat-hangatnya.

Kalau ini diterapkan maka penyanyi hanya akan bisa dikomentari oleh penyanyi, artis hanya bisa dikomentari artis, bahkan Presiden pun hanya bisa dikomentari oleh seorang Presiden. Duh ambyar…


3.     Mayoritas selalu Benar

“Dislike komentar ini lebih banyak daripada Likenya, kritik anda salah”.

Kritik yang lebih tidak disukai adalah salah, dan kritik yang banyak disukai adalah benar. Dalam daftar logical fallacy ini disebut sebagai “argumentum ad populum” yaitu ketika sebuah argumen dinilai lebih benar hanya karena lebih banyak orang yang menyetujuinya. Ada sebuah kata-kata bijak “Wrong is wrong even if everyone is doing it, right is right even if no one is doing it”.

Yah sepertinya kata-kata tersebut sangat relevan untuk diterapkan, karena meskipun ada lima juta orang mengatakan sesuatu yang salah, maka sesuatu itu tidak akan pernah berubah menjadi benar.


4.     Penyerangan Personal

“Orang ini Komunis”
“nih orang Liberal pasti”
“dasar kafir, tobat gobl*k”

Tidak setuju itu boleh saja, namanya juga beda orang beda pemikiran, namun bukankah lebih bermartabat kalau komentar kita tidak berbau identitas Gender, Suku, Ras, dan Agama ? menyerang personal merupakan tindakan Rasis. Hanya karena kita merasa benar, bukan berarti kita bebas melakukan apapun kepada yang kita anggap salah.

Kalau memang kita tidak setuju dengan sesuatu maka yang dikritik adalah argumennya, bukan personalnya.
Ngunu lo mbang bambang....


Dari semua hal yang telah saya paparkan tersebut, kesimpulannya sederhana “Komentar itu Boleh, tapi Goblok itu Jangan”.

kitakitu.id

This Is The Newest Post

Komen dong
EmoticonEmoticon