21 November 2019

Shodaqoh Itu yang Penting Banyak, Bukan yang Penting Ikhlas


Nyambut gawe iku ibadah. Rezeki iku jatah



Kitakitu.id

Shodaqoh menjadi fenomena yang lucu, di satu sisi ada yang mengatakan shodaqoh itu yang penting ikhlas, di sisi lain ada juga yang menyuarakan shodaqoh dengan jumlah besar karena akan dilipatgandakan.

Dari kedua tim tersebut, antara tim ikhlas dan tim kuantitas, kiranya saya lebih memilih bergabung dengan tim kedua. Bagi saya Shodaqoh itu yang penting banyak, bukan yang penting ikhlas. Karena kalau nunggu ikhlas ya gak jadi shodaqoh dong.

Ikhlas itu perlu latihan yang lama, gak bisa ujuk-ujuk ikhlas. Makanya kalau mau shodaqoh ya shodaqoh ajah, masalah ikhlas itu urusan belakang. Sama halnya dengan sholat. Apa harus nunggu khusyu’ dulu baru mau sholat ? ya ndak bisa, la sholat kita lo masih sekedar memenuhi kewajiban saja.

Kita masih hobi ngelamun ketika sholat, mikir ini mikir itu. Efeknya apa ? orang yang katanya rajin sholat masih saja sering telat dalam beberapa kegiatan atau acara. Padahal kita pasti mafhum dalam sholat ada batasan waktu tertentu untuk menunaikannya, jadi seharusnya Sholat menjadikan kita untuk tepat waktu, bukan malah sebaliknya.

Tapi apakah hanya karena sholat kita sebatas memenuhi kewajiban dan terkesan tidak ikhlas maka kita boleh tidak sholat ? atau kita boleh sholat 2 waktu saja yang penting lillahitaAllah ?
Yo ra iso.

“Etapi percuma dong banyak shodaqoh tapi gak ikhlas”.

Memang sih kita bisa saja memperdebatkan shodaqoh orang lain itu ikhlas atau tidak, namun yang pasti, jika yang dishodaqohkan jumlahnya tidak lebih dari 10% isi dompet, besar kemungkinan itu malah tidak ikhlas. Ya namanya ikhlas masak peritungan sih.


Kalau dipikir-pikir, sebenarnya ini juga sama seperti emak-emak yang sering ngajak bicara bayinya. Kita pasti tau kalau seorang bayi tidak akan paham apa yang dibicarakan oleh kita, begitu juga sebaliknya, namun emak-emak terus “ngobrol” dengan si bayi.

Hasilnya apa ? seiring berjalannya waktu, si emak-emak jadi tau keinginan seorang bayi meskipun hanya melalui tangisannya saja.

oh iki wayae ganti popok,
oh iki jalok di gendong,
oh iki jalok susu.

Si emak tau apa yang diinginkan seorang bayi hanya dari tingkah dan tangisan saja. kenapa bisa seperti itu ? karena si emak terus-terusan ngemong sambil ngajak bicara bayinya.

Tidak mungkin dong kita nunggu si bayi bisa mengerti bahasa kita, baru diajak “ngobrol”. Ya hasilnya bisa saja bayinya malah tidak bisa bicara sama sekali, la wong gak tau latihan.

Di telateni wae, suwe-suwe lak iso…..


Ibadah pada dasarnya adalah wujud syukur kepada Tuhan, bukan memberi sesuatu kepada illahi.

Kalau misal ada makhluk berakal yang pada saat ada sumbangan kemudian ia memberi uang 2k lalu berargumen “yang penting ikhlas” maka sejatinya ia sangat tidak ikhlas.

Ya kalau mau nyumbang ya nyumbang ajah, gak usah mikir ikhlas apa enggak, karena terkadang meski hanya menyumbang 2k pun dalam hati kita masih grundel ? kayak ndak rela gitu uang kita diambil buat sumbangan. Bukankah kalau sama-sama grundel lebih baik nyumbang yang banyak sekalian ?? ya meskipun tidak ikhlas, setidaknya kita bisa menyenangkan orang lain dengan banyaknya sumbangan yang kita berikan. Mungkin itu menjadi sesuatu yang berguna bagi kita di hari esok.

Satu hal lagi, apakah dengan mengatakan “yang penting ikhlas” maka akan membuat amalanmu menjadi ikhlas ? bukankah ini sama naifnya ketika kita mengatakan “bukannya mau sombong nih” kemudian kita bercerita dengan penuh kesombongan ?? atau saat kita mengatakan “bukannya nuduh nih” kemudian memang nuduh :v

Ikhlas itu pada dasarnya dari hati dan tidak ada hubungannya antara jumlah yang disumbangkan dengan keikhlasan seseorang.

Wallahua’lam bisshowab









*dikutip dari ceramah KH. Anwar Zaid

kitakitu.id

Komen dong
EmoticonEmoticon