26 November 2019

Yang Tersinggung Kan Anda, Kok Saya Yang Harus Tanggung Jawab





Kamu hanya manusia, kamu tidak bisa menjadi selalu baik.
Orang lain boleh kok tersinggung tentang apapun yang kamu lakukan.
Kamu tidak bisa membatasi perasaan orang lain.
Dan bisa saja yang dikatakan orang lain terhadapmu adalah benar.
Kamu hanya manusia, pasti sering berbuat salah.
Sadari saja, dan akui saja.
Setidaknya jadilah manusia tanpa perlu berpura-pura sempurna...
*ngomong sama cermin

Kitakitu.id-

Pada dasarnya kita adalah orang jahat. Suka menertawakan kejelekan orang lain, Suka melihat orang lain gagal. Dan selalu berharap orang lain tidak lebih baik dari kita. Patut diakui juga bahwa kita adalah manusia yang memiliki ego sangat tinggi. Sehingga tidak mau untuk disalahkan, bahkan ketika sudah jelas-jelas salah pun tidak mau dianggap salah.

Banyak kasus yang sudah menjadi bukti, contoh ketika emak-emak yang ambigu ketika memakai lampu sen, kemudian ketika diingatkan malah kita yang salah. Ada juga bapak-bapak yang melawan arus untuk menghindari kemacetan, ketika disuruh putar balik malah ngajak ribut, duh Negara ini memang sangat damai… :v

Tidak hanya di jalan raya saja, di sosial media pun juga sangat “damai”. Banyak pertunjukkan yang bisa kita saksikan. Meskipun kelihatannya hanya berasal dari masalah sepele, namun kayaknya kurang afdhol kalau belum ribut.

Indonesia adalah Negara Demokrasi, dimana seharusnya menjunjung tinggi freedom of speech, atau kebebasan berbicara. Yang namanya kebebasan artinya memang bebas dan tanpa batas, jika sudah dibatasi maka artinya bukan kebebasan lagi.

Batasan freedom of speech itu seharusnya tidak ada. Selama hanya sebatas perkataan, konsep, ide, karya, maka itu tidak bisa dibatasi. Namun jika sudah merambah ke ranah tindakan itu baru bisa dibatasi.

Misal, ketika seseorang mengatakan “aku membencimu” itu bukan penghinaan atau penistaan, itu freedom of speech dong. Namun ketika konsep benci kemudian diterapkan dalam bentuk tindakan, itu namanya kriminal, karena itu baru bisa dibatasi ketika sudah menjadi tindakan.

Masalahnya kita selalu merasa diri kita paling benar. Sehingga saat kita tersinggung, seakan-akan kita boleh menyalahkan orang lain untuk melampiaskan amarah kita. Padahal tersinggung dan kebenaran adalah dua hal yang berbeda.

Seharusnya karena kita adalah warga yang kritis, Maka ketika ada argumen menyimpang ya dilawan dengan argumen dong, Ya masak setiap argumen yang tidak kita setujui harus dibalas dengan kekerasan. Ini seperti air susu dibalas dengan air terjun.

Kita memang sudah menjadi hamba terhadap ego diri sendiri. Saat ada yang mengomentari kejelekan kita biasanya malah dijawab “Liat dulu diri anda”, “ngaca dulu baru komentar”.

Masalahnya apakah kita harus menjadi “dewa” dulu untuk bisa mengomentari orang lain ? seakan-akan hanya orang yang “sempurna” yang berhak mengomentari orang lain. Padahal ia hanya sekedar mengingatkan. Apa yang salah ketika tukang becak mengingatkan pengguna motor untuk menggunakan helm ? apa harus jadi polisi dulu untuk boleh mengingatkan tentang berkendara ??

Sikap merasa benar dan tak mau disalahkan seakan sudah mendarah daging. Bahkan saat melakukan kesalahan pun maka jawabnya adalah “100 kebaikan akan kalah dengan 1 keburukan”.
Hemmmm onok ae alasane

Apakah ketika sudah melakukan beberapa kebaikan maka boleh melakukan beberapa kejelekan ? Apakah ketika kita sudah berbuat baik maka bebas melakukan kejahatan, meskipun hanya satu ? ya enggak dong… Kalau salah ya langsung paido.
Emang awakmu sopo kok gak oleh disalahno ?

Salah satu sumber masalahnya adalah sosial media. Sadar atau tidak, di sosial media kita bisa dengan mudah membuat dunia kita sendiri, kita dengan mudah menemukan orang yang hanya sependapat dengan kita, dan memblokir orang-orang yang bersebrangan dengan kita.

Sehingga kita menemukan orang yang membenarkan pemikiran dan tindakan yang kita lakukan. Ahirnya ketika ada yang tidak sependapat dengan kita maka akan menjadi masalah besar dan langsung menjadi musuh abadi tujuh turunan.

Akibatnya adalah tindakan bully di sosial media menjadi cemilan sehari-hari. Orang yang membully akan merasa menjadi benar, karena menurutnya ada yang lebih salah darinya, meskipun cara yang ia gunakan justru menjadi tindakan yang salah juga.

Hanya karena orang lain salah, bukan berarti kita bebas melakukan apapun untuk menyalahkan orang tersebut.

Contohnya dalam kasus kucing yang mati akibat diberi ciu oleh seorang pemuda. Saya agak ngilu ketika membaca komentar netijen yang budiman. Saya tidak menyalahkan ketika ada yang berkomentar buruk, namun kebanyakan malah menyumpahi pemuda tersebut, bahkan mengancam ingin membunuhnya.

Ya memang sih tindakan pemuda tersebut adalah salah, namun respon kita terhadap tindakan orang yang salah juga tidak boleh salah dong. Coba deh bayangkan, ada pemuda yang membunuh kucing, kemudian ada orang yang membela kucing tersebut dengan cara ingin membunuh manusia.. hah ? Kan ngerii

Ini bukan berarti saya tidak suka kucing lo. Etapi kalau disuruh memilih, saya lebih memilih berteman dengan pemuda yang memberi ciu pada kucing, dari pada orang yang kalau ada kesalahan langsung ngancam mau membunuh. Karena logikanya jika dengan pemuda yang membunuh kucing, paling kita cuma harus menyingkirkan kucing kita darinya, la kalau dengan orang yang mengancam membunuh, malah kita dong yang selalu terancam.

***

Entahlah… Seakan-akan ketika ada orang yang salah, maka bebas di apa-apain. Ini lo peraturan dari mana wahai bangsa persatuan ?

Orang yang di bully pun kadang malah ngamuk-ngamuk gak jelas, ini membuat saya ingin ngelus dada tetangga.

Dan momen yang lucu adalah ketika ada orang yang sudah jelas-jelas salah, lalu di bully oleh netijen yang budiman dan dalam keadaan terdesak tersebut kemudian ia mengatakan “sabar ajah, biar Tuhan yang bales”.

Duhhh… gini ya dek, Sabar itu bukan ketika anda ditindas. Namun ketika anda punya kesempatan menindas dan anda tidak melakukannya. Karena sabar itu kekuatan bukan kelemahan.

***

Wahai penduduk yang hobinya sambat, sudahlah, jangan menunjukkan sikap kayak gitu, kalau masih mau marah-marah, langsung saja tuh di rumah uya, lumayan dapet duit. hahay

Intinya jangan mudah tersinggung, di bumi bukan cuma kamu yang punya perasaan (NKCTHI).

kitakitu.id

This Is The Newest Post

4 komentar

suka tulisannya. bikin jadi pikiran terbuka. terutama, "Sabar itu bukan ketika anda ditindas. Namun ketika anda punya kesempatan menindas dan anda tidak melakukannya. Karena sabar itu kekuatan bukan kelemahan."

Suka tulisannya
Kadang-kadang memang tak sadar kita terbawa arus untuk ikut menyalahkan atas sesuatu
terimakasih sudah mengingatkan ya

Trimakasih sudah mampir kak 😀

Iya sih dunia memang sudah kebolak balik. Kadang juga heran dengan netijen tu ya sempet2nya ngurusin hidup orang gitu2 amat. Aku aja merasa 24 jam masih kurang buat ngurus hidup sendiri, gak sempat atuh kerjain yg lain2. Eh kok aku jadi ikutan julid ya?? Hahaha paling ndak julid sambil BW jadi ada faedahnya dikit 😅

Komen dong
EmoticonEmoticon