04 February 2020

MENGAJARI ORANG-ORANG CARA MENDIRIKAN KERAJAAN


Akhir-akhir ini Indonesia sedang digemparkan dengan kemunculan berbagai “kerajaan” baru yang terkesan absurd.

Kita sebagai manusia normal rata-rata dibuat terkejut dan mengerutkan dahi kemudian terpingkal-pingkal akibat ulah dan bahasa raja yang absurd dan terkesan ndakik-ndakik itu.

Bagaimana tidak, mereka membangun sebuah sistem kerajaan di dalam sebuah negara yang memiliki sistem pemerintahan.

Kita tidak pernah tahu apa motif mereka sebelum dilakukan sebuah dialog, namun kalaupun diadakan dialog, mereka akan tetap mengeluarkan statement yang absurd dan tidak masuk akal.

Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire, yang sementara ini menguasai arena permainan raja-rajaan di Indonesia saat ini.

Saya teringat ketika masih belajar di bangku perkuliahan sebagai mahasiswa Sejarah Islam, ketika dosen saya menjelaskan peristiwa sejarah terkhusus sebuah proses berdirinya sebuah kerajaan.

Ada banyak hal yang seharusnya diperhatikan oleh mereka para pendiri kerajaan baru. Banyak hal tersebut bukan hanya sekedar membuat kostum dan mendeklarasikan diri sebagai raja dan ratu.

Dalam sejarah, ada banyak sekali kerajaan yang pernah berjaya, kejayaan itu ada yang bertahan hingga ratusan tahun dan tidak sedikit pula yang hanya bertahan puluhan tahun.

Tentu pada masa lalu mereka para pendiri kerajaan tidak hanya semata-mata mendirikan bangunan untuk istana dan kostum untuk pengikut.

Tapi mereka juga membangun sebuah sistem keamanan demi keutuhan kerajaan mereka.

Ada dua contoh latar belakang berdirinya kerajaan yang mungkin bisa dijadikan referensi bagi orang-orang dalam mendirikan kerajaan,

Contoh pertama berdirinya kerajaan Islam Mughal di India.

Pendirinya bernama Zahiruddin Babur, ia merpakan seorang yang sangat tangguh.

Cara dia mendirikan sebuah kerajaan dimulai ketika ia berhasil mengalahkan lawannya, dalam hal ini adalah Ibrahim Lodi yang sebelumnya ia adalah penguasa di Delhi.

Babur beserta pasukannya berperang, menghabiskan banyak sekali tenaga dan biaya, bahkan darah untuk mengalahkan lawannya yang saat itu sedang nangkring di Delhi sebagai penguasa.

Tentu perlawanan yang dilakukan Babur tidaklah mudah, namun dengan kegigihan dan keinginan untuk menang, ia berhasil mengalahkan pasukan Ibrahim Lodi.

Tahun 1525 M, dalam perjalanannya Babur berhasil menguasai Punjab.

Setelah itu ia memimpin tentaranya menuju Delhi.

Babur dengan 12.000 pasukannya menyerang Ibrahim Lodi yang mengerahkan 100.000 prajuritnya, pada 21 April 1526, maka terjadilah pertempuran yang dahsyat di Panipat.

Babur mampu memenangkan pertempuran, sehingga sultan Ibrahim Lodi terbunuh beserta 25.000 tentara pasukannya.

Begitu kerasnya perjuangan Zahiruddin Babur dalam mendirikan kerajaan Islam Mughal di India.
Contoh yang kedua ini agak sedikit berbeda, yaitu kerajaan Mataram Islam.

Pada mulanya, Mataram adalah wilayah yang dihadiahkan oleh Sultan Adiwijaya kepada Ki Gede Pemanahan.

Atas jasanya yang telah berhasil membantu Sultan Adiwijaya dalam membunuh Arya Penangsang di Jipang Panolan.

Wilayah yang diberikan kepada Ki Gede Pemanahan berada di daerah Kotagedhe. Di tempat ini lahirlah sebuah kerajaan Mataram Islam.

Seiring pergantian Sultan-sultan di Mataram Islam, salah satu pewaris tahta kerajaan yaitu Panembahan Senopati memiliki strategi unik untuk melanggengkan dan menguatkan statusnya.

Strategi tersebut berupa penciptaan mitos adanya penguasa laut selatan yaitu Nyi Roro Kidul.

Rupanya mitos Nyi Roro Kidul ini mampu membuat Panembahan Senopati menjadi lebih kuat.

Rakyat percaya bahwa Nyi Roro Kidul merupakan istri ghaib dari Raja Mataram, mulai dari Panembahan Senopati hingga seterusnya.

Kekuatan ghaib yang dibangun oleh Mataram Islam dalam melegitimasi kekuasaannya terbukti berhasil.

Mengingat bahwa masyarakat Jawa pada masa lalu sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistis.

Dari kedua peristiwa yang berbeda tersebut, harusnya para pendiri kerajaan sekarang bisa mengambil pelajaran.

Kesimpulannya adalah bahwa mendirikan kerajaan bukanlah sebuah agenda yang mudah.

Dengan cara pertama, kerajaan baru bisa berdiri melalui jalur peperangan, yaitu menumbangkan dominasi penguasa sebelumnya dan menggantinya dengan kekuasaan baru.

Tentu hal itu harus dibarengi dengan kekuatan militer yang sangat kuat.

Apabila pada masa sekarang kerajaan baru tidak akan mampu melawan kekuatan militer yang telah dibangun oleh negara, maka cara kedua adalah dengan membangun mitos-mitos.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Panembahan Senopati.

Sebagai contoh mungkin Keraton Agung Sejagat bisa menciptakan mitos bahwa mereka merupakan titisan dari Dewa Zeus atau bahkan mengaku sebagai saudara sepersusuan Nyi Roro Kidul.

Menarik bukan?

Komen dong
EmoticonEmoticon