28 February 2020

Percayalah, Menjadi Dewasa tak Selalu Membahagiakan


Jika menjadi dewasa berarti tidak boleh banyak tertawa karena harus menjaga wibawa,
 jika menjadi dewasa harus meredam hasrat bermain-main serta mengubur imajinasi,
maka aku lebih memilih hidup menjadi kanak-kanak dan dianggap kekanak-kanakan, dari pada menjadi dewasa dan kehilangan kewarasan dalam hidup.


kitakitu.id

Konon, masa-masa remaja adalah masa-masa yang paling indah, karena bisa berbahagia dengan apa saja. Es teh plastikan, gorengan hangat, warung makan lima ribuan, boncengan bertiga, pasang foto berdua di medsos, nyari tajil gratisan, dll. Hal kecil seperti itu saja sudah membuat hati bermekaran tak karuwan.

Ketika sudah menjadi dewasa, segala-galanya ikut berubah, termasuk pandangan kita tentang masa depan. Jika anda sering membayangkan “sepertinya enak yah menjadi orang dewasa, punya pekerjaan sendiri, bisa beli apa saja tanpa takut di omeli mama, bisa pulang larut malam, dan tidak perlu repot-repot memikirkan tugas sekolah yang hadir setiap minggu”, percayalah menjadi dewasa tidak selalu membahagiakan.

Saat dewasa, kita memang masih memiliki banyak teman, tapi hanya sedikit sekali yang benar-benar ingin meluangkan waktunya untuk sekedar bertemu.

Kamu tidak akan lagi merasa bahagia akan bertemu sahabatmu di kelas saat bangun pagi, karena sahabatmu sekarang sudah menikah dan sibuk dengan urusannya, sehingga untuk sekedar menanyakan kabar pun kamu akan berpikir 99x karena takut mengganggunya.

Semakin dewasa (read: umur yang menua), semakin banyak kekhawatiran yang muncul. Bahkan ketika melihat teman yang dulu sebangku, sekarang sudah mempunyai pekerjaan yang mantab, sedangkan kita sehari-hari hanya duduk manis saja sambil sesekali meluk bantal. Di sana mulai timbul ketakutan berlebih.

Tidak hanya itu, bahkan hal sepele seperti desain buku pun dibuat membosankan, iya, seperti yang kita ketahui bahwa buku orang dewasa cenderung membosankan dari pada buku anak-anak yang banyak warna dan gambar. Apakah penggambaran orang dewasa memang membosankan ? atau apakah syarat menjadi dewasa adalah membosankan ?
***
Seorang penyair di daerah malang selatan mengatakan, “semua orang mempunyai kelebihan, ada yang sengaja ditampakkan, ada yang berhasil disembunyikan”.

Kita hidup pada jaman di mana “pamer” menjadi gaya hidup. Sosial media bertanggung jawab sepenuhnya atas fenomena ini, sehingga konten “pamer” menjadi hal yang wajar dilakukan oleh masyarakat modern. Pergi berwisata (halan-halan) semakin menjadi kebutuhan pokok, entah sekedar untuk “keperluan konten”, atau agar dianggap bahagia.

Salah satu hal yang saya yakini kenapa semakin dewasa, kita cenderung semakin tidak bahagia adalah karena semakin dewasa, kita juga semakin meningkatkan standart kebahagiaan kita.

Dulu ketika masih kecil, nemuin uang di saku celana bekas cucian aja udah bahagia banget. Dulu dikasih 3 permen milkita ajah udah dianggep segelas susu. Tapi sekarang beda, yang dianggap bahagia adalah jika bisa makan enak (read: pizza, burger, warmindo ayam di teriguin), yang dianggap bahagia bukan lagi main layang-layang, melainkan bikin instastory di starbuck, meskipun tidak benar-benar penikmat kopi.

Kita selalu tertekan dengan ekspektasi dari diri kita sendiri, lalu merasa hidup ini tidak adil. Nah pertanyaannya, kenapa baru merasa hidup ini tidak adil? bukankah kita sudah hidup lumayan lama?? kenapa ketika dewasa baru merasa hidup ini tidak adil? apa hanya karena ahir-ahir ini hidup kita tidak sebahagia dulu, kemudian dunia dianggap tidak adil? apakah jika anda bahagia maka dunia berarti sudah adil? begitukah standart keadilan??

Sudahlah, tak usah dijawab. Ingat-ingat saja bahwa “hal-hal ini terjadi pastilah karena Tuhan merasa kamu sudah cukup dewasa untuk menghadapinya”. Jadi tetaplah melangkah, meskipun melangkah sendirian itu tidak mudah.

kitakitu.id

This Is The Newest Post

Komen dong
EmoticonEmoticon