06 February 2020

Sampai kapan kamu menghibur diri dengan kata-kata ?





Kitakitu.id-

Di era milenial ini, kita tidak asing dengan kata-kata. Bahkan sebagian dari kita menjadi pemuja terhadap kata-kata. Contohnya, Saat merasa berhasil, maka akan pamer prestasinya dengan kata-kata sok bijak (meskipun hasil copas tetangga sebelah). Saat merasa gagal pun tetep pamer kata-kata ketegaran yang seakan-akan kegagalan ini bukan salahnya, dan seakan-akan ia tak mau disalhkan atas kegagalan yang ia alami.

Orang yang masuk kategori tersebut sepertinya lebih percaya kalau kegagalan yang mereka alami adalah sebuah jalan yang berbeda saja dengan orang lain. Seakan lebih suka mencari kata-kata “motipasi” sambil meluk bantal berminggu-minggu, dari pada menyalahkan diri sendiri, kemudian evaluasi.

Berlebihan mengkonsumsi ajaran ketegaran boleh jadi menjadi toxic dikalanagan milenial. Yang efeknya mereka merasa perlu dimanja kata-kata agar merasa tenang, namun tetap saja mereka tak mau melakukan apa-apa dan tidak mengubah apa-apa.

Bukti bahwa ajaran ketegaran sangat dipuja adalah dengan larisnya buku-buku penenag seperti NKCTHI. Ya tidak ada salahnya juga sih buku tersebut, namun ya gitu, ibarat terlalu banyak mengkonsumsi pemanis, jadinya memiliki penyakit obesitas yang efek sampingnya males gerak.. pokoknya kalau salah atau gagal, cenderung tak mau disalahkan dan lebih memilih mencari kata-kata pembenaran saat salah jalan. Duh dasar anak manusia

***

SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA

Sebenarnya ini adalah kalimat penghibur yang sangat dianut oleh kebanyakan orang, saya sebenarnya tidak sepenuhnya menyalahkan kalimat tersebut, saya hanya mewanti-wanti kalau kalimat tersebut disalah artikan, karena jika hal itu terjadi maka justru akan membuat kita lebih terpuruk lagi.

Pengguna kata-kata ini adalah mereka yang sedang merasa gagal namun tetap melanjutkan tidurnya. Kata-kata ini seharusnya dipakai ketika anda benar-benar berusaha, bukan dipakai ketika anda sedang gagal. Tolong dibedakan yah.

Banyak sekali kita temui orang yang berusaha semampunya dan semaunya saja, namun memiliki bayangan akan sukses dikemudian hari dengan memegang erat motto “semua akan indah pada waktunya”. Hmmm saya sih tidak menyalahkan mimpinya, saya hanya tidak suka caranya menuju mimpi tersebut yang seadanya namun berkeinginan lebih.

Mung njagakno mugo-mugo tapi pengen ndag teko ? ndiasmu…

Yang perlu digaris bawahi adalah kalimat “pada waktunya”. Kalimat tersebut memiliki makna menunggu. Nah, menunggu di sini tidak seperti antri makanan yang bersifat pasif, menunggu dalam kalimat ini seharusnya diartikan dengan melakukan perubahan yang berarti.

Sekarang coba bayangkan ketika anda berada di sebuah kapal yang bocor, kemudian anda hanya menunggu dan melanjutkan tidur anda kemudian dengan bangganya mengatakan “semua akan indah pada waktunya”, apakah cara tersebut sudah benar ?? bukankah seharusnya yang logis adalah saat anda berada dalam kapal yang bocor, maka anda harus berusaha menguras air tersebut, atau menambal lubang itu. Nah, ketika sedang berusaha keras dan mulai tidak bersemangat, maka gunakan kata-kata tersebut untuk penyemangat anda dalam melakukan usaha.

Sekali lagi saya tegaskan, kalimat “semua akan indah pada waktunya” bukan kalimat penghibur ketika anda gagal, namun lebih tepatnya adalah kalimat penyemangat saat anda sedang melakukan usah keras.
***

BAHAGIA ITU SEDERHANA

“Bahagia itu sederhana, yang penting bersamamu, meskipun hanya memiliki sebungkus roti, demi kamu, aku rela makan bungkusnya”.

“Bahagia itu sederhana, cukup minum kopi berdua karo kowe”

Apakah memang benar bahwa bahagia itu sederhana ? apakah memang benar jika cuma minum kopi sachet saja bisa bahagia ? lantas kenapa starbuck tercipta ???

Sebenarnya kita perlu membedakan antara bahagia dan bersyukur. Ini adalah dua hal yang berbeda. Contoh: Ketika setiap hari bisa makan 4 sehat kamu sempurna 5 sempurna, itu namanya bahagia. Namun jika tiap hari hanya bisa makan mie instan saja dan tidak sambat, maka itu namanya bersyukur.

Atau bisa dijabarkan bahwa bersyukur itu bisa dilakukan dalam kondisi susah dan senang. Sedangkan bahagia hanya bisa dirasakan ketika kondisi senang saja. Jadi tidak ada ceritanya bahagia dalam kesederhanaan. Anda hanya sedang bersyukur saja.

Namun ini bukan berarti bersyukur adalah tindakan yang salah. Disini saya hanya menekankan bahwa bahagia itu tidak sederhana, butuh usaha lebih agar bisa bahagia. Kalaupun anda bisa mensyukuri hal-hal yang sederhana, berarti anda hebat, karena bagi anak kos seperti saya, ngechat doi kemudian tidak dibalas saja sudah sambat, apalagi makan mie instan setiap hari dan tidak sambat, itu diluar kemampuan wajar manusia normal.

***

RENCANA TUHAN ITU LEBIH BAIK

Dulu ketika kecil cita-citanya jadi dokter, pas udah gede yang penting dapet kerja. Pokoknya gak nganggur lah… hhay
Kenapa bisa demikian ? apakah ini yang dimaksud rencana Tuhan lebih baik ??

Pertama harus diakui bahwa rencana Tuhan selalu lebih baik, namun menjadikan kalimat “rencana Tuhan lebih baik” dalam setiap kegagalan adalah hal yang kurang baik.

Dalam semua agama dijelaskan tentang hukum sebab akibat, hanya namanya saja yang berbeda, ada adzab, karma, balasan, dan lain sebagainya.

Tuhan selalu memberikan nikmat bagi hambanya asal mau menjemputnya. Nah kalau kita berkaca pada kasus diatas dimana rata-rata orang ketika masih anak-anak, memiliki cita-cita seperti dokter, tentara, insinyur, presiden, dan berbagai cita-cita besar lainnya. Namun anehnya, sebagian besar dari kita, ketika dewasa justru cita-citanya adalah “yang penting dapat kerja”.

Kalau dipikir-pikir, salah satu penyebabnya adalah karena kita hanya diajari tentang optimis dan pesimis saja. Sehingga kita lebih memilih optimis dalam segala hal. Ya bagus sih. Tapi seharusnya kita juga diajari untuk realistis.

Dampaknya apa ? kita hanya diajari untuk bermimpi besar, Namun tidak diajari cara mendapatkannya. Atau melihat diri sendiri apakah bisa atau tidak untuk mewujudkannya. Ibarat kita ingin menangkap seekor paus, namun hanya memiliki pancing kecil saja, kemudian kita optimis akan berhasil, dan hasilnya bisa ditebak, yo jelas gagal, sat. 
Kemudian dengan tenang dan percaya diri kita mengatakan  “percayalah, rencana tuhan lebih baik”.

Ya itu cuma karena usahamu kurang maksimal… seng realistis talah !!!

***
Penutup

Saya sebenarnya tidak ada masalah dengan semua kata-kata penenang dan ajaran ketegaran. Saya hanya resah dengan anak milenial jaman sekarang, ketika mereka mengalami kegagalan, maka yang mereka lakukan bukannya mengevaluasi diri dengan melihat fakta yang ada, namun malah mencari kata-kata penenang yang membuat dirinya tidak bisa dianggap gagal.

Salah satu alasan kenapa kebanyakan orang lebih berlindung dari kalimat penenang adalah mager atau malas gerak. Sumber dari rasa malas adalah prioritas. Orang yang dianggap pemalas adalah orang yang salah menentukan prioritas pilihannya.

Contoh: ada seorang anak kos yang ingin bangun pagi, ia kemudian memasang alarm setiap 5 menit sekali (kebiasaan arek kos iki), alarm pertama pukul 05.00, alarm kedua 05.05, alarm ketiga pukul 05.10, dan seterusnya. Ketika alarm pertama berbunyi pada pukul 05.00, sebenarnya ia sudah melihat jam tersebut, namun dalam pikiran yang masih setengah sadar ia mengatakan “ah 5 menit lagi lah”, kemudian alarm kedua berbunyi, dan ia masih dengan prinsip “ah 5 menit lagi lah”, begitu seterusnya sampai ahirnya ia gagal bangun pagi.

Dalam ilustrasi tersebut menjelaskan bahwa seharunya anak kos tersebut dapat bangun pagi, hanya saja ia lebih mementingkan tidurnya saja. karena itu jika anda menemukan masalah serupa pada diri anda, maka sebenarnya anda bukanlah pemalas, anda hanya salah menentukan pilihan prioritas saja.

Bangunlah wahai anak muda, akui kegagalanmu, akui saja kalau kau gagal. Setelah itu evaluasi dan bangkit lagi. Saya kira itu akan membuat anda menjadi lebih baik, dari pada mengoleksi kata-kata dari ajaran ketegaran.

***



Refrensi
The Science Of Luck, Bong Candra

kitakitu.id

Komen dong
EmoticonEmoticon