14 February 2020

Uploud foto Selfie dengan Caption Bijak itu Biar Apa Sih ??







Kitakitu-

Mari kita kembali mengawali hari dengan maido aktivitas-aktivitas anak milenial yang “unik”. Nah, unik yang dimaksud disini adalah lucu dan membuat otak kita meronta-ronta untuk bertanya, “kalian ini kenapa sih”.

Oke, pertama adalah tentang pemalsuan diri lewat caption dan foto-foto yang di uploud di sosial media. Ya, kita pasti punya temen yang sering sekali mengaploud foto tentang kopi atau senja. Dan captionnya pasti tentang kehidupan atau kerinduan, dengan diksi sepeti senja, rindu, pesona, semesta, dan lain sejenisnya.

Bukannya saya tidak menyukai anda atau caption anda, saya cuma sekedar ngasih tahu, bagi anda yang merasa demikian, mungkin maksud anda adalah ingin menuangkan pikiran atau sekedar membentuk citra sebagai penikmat kopi dan ciptaan tuhan, serta sebagai orang yang dianggap penikmat kata-kata, atau pembuat kata-kata (kalau dulu sih namanya romantis, kalau sekarang dianggap bucin).

Kenapa orang semacam ini terlihat “unik” ?

Jadi gini, Membuat kata-kata dengan diksi yang sama (senja teross) hanya akan membuat anda semakin “aneh” di mata para netijen… eitss, Ini bukan saatnya memakai kalimat “biarkan anjing menggonggong”, jangan sepenuhnya menyalahkan netijen, bisa jadi itu karena anda saja yang diksinya itu-itu ajah. Kayak gak ada diksi lain ajah.

Namun, sebenarnya tak masalah kok, jika anda tetap ingin istiqomah dengan selalu ada diksi yang itu-itu ajah di tiap kalimat. Sebenarnya netijen juga bukan membenci anda kok, anda hanya terlihat lucu saja, makanya anda dibahas. Sekali lagi, Kalaupun anda tidak mau merubahnya tidak masalah, saya hanya memberikan sebuah saran, agar anda tidak terlihat lucu di mata orang lain. Terlebih lagi jika caption anda hanya copas kata-kata dari para anak indie yang berjuang squad tenaga untuk membuat caption senja-senjaan.

***

Selanjutnya adalah golongan ke-Mario-teguhan. Yah, golongan ini adalah orang yang captionnya selalu memberikan semangat, motivasi, dan mimpi kepada pembacanya. Lalu apa salahnya ? tidak salah kok, saya di sini juga bukan mau menyalahkan.

Membuat caption bijak itu tidak salah, malah bagus kok, tapi mbok yo ngerti saitik. Kalian ini captionnya bijak, tapi yang di uploud itu foto selfie (Apalagi sambil bibirnya di manyungin). La ini kan jadi aneh, apa hubungannya foto selfie dengan caption bijak ?

Kalau mau terlihat bijak ya paham kondisi dong. Saya tahu sih, anda sudah berjuang untuk mencari copasan caption bijak, tapi ya jangan pake foto selfie juga lah. Kenapa demikian ? ya karena tidak semua orang mau mendengarkan kata-kata bijak, Apalagi dari orang seperti anda kwkwkwkwk
pisss

***

Selain berlomba-lomba menjadi orang dianggapp bijak dan kesenja-senjaan. Sebagian lainnya juga berlomba-lomba menjadi orang yang ingin dianggap orang paling toleran sak dunyo.

Contoh dalam masalah natal. Ada dua klompok yang bertikai, dan setiap tahun pasti gitu terus. Kelompok yang satu merasa setuju dengan ucapan selamat natal dengan mengatasnamakan toleransi, namun menyampaikan dengan cara yang tidak toleran. Sedangkan kelompok lainnya melarang ucapan selamat natal dengan alasan menjalankan syariat tuhan, namun menyampaikannya dengan menuhankan egonya.

Ini kan aneh, la gimana, di satu sisi, anda membenci orang jahat, namun di sisi lain, anda melakukan hal jahat kepada orang lain (memaki, bahkan mengancam membunuhnya). Lalu sebenarnya apa yang anda tahu tentang menjadi baik ? apakah memaki orang lain hanya karena dianggap jahat adalah tindakan orang baik ?.

Yang lebih aneh adalah (oknum) dari kelompok yang pro terhadap ucapan natal, ya gimana gak aneh, padahal mereka ini gak punya temen yang beda agama, tapi tetep ajah maksain ngucapin di sosial medianya untuk menunjukkan dirinya adalah orang yang pluralisme dan toleran. Meskipun gak paham-paham amat tentang pluralisme dan toleransi.

***

Kenapa sih kita harus berantem, bahkan hal remeh seperti tokoh idola pun berantem ?. Kalau kata imam Jumat yang khutbah kemarin dengan sarung hijau sih Karena fanatisme berlebihan. Bahasa kerennya adalah bias konfirmasi, yaitu menyatakan idola mereka pasti benar dan musuhnya pasti salah.

Tentu hal ini memicu perdebatan dan permusuhan, karena pada dasarnya memang tidak ada orang yang mau untuk disalahkan. Kita selalu merasa diri kita paling benar, sehingga boleh menyalahkan orang lain hanya karena mereka berbeda. Padahal tidak ada pendapat yang salah, yang ada hanyalah pendapat baru. jadi Bukan salah kok, hanya pendapat baru saja.
Karena itu tak usah saling menyalahkan, karena jalan menuju takwa itu banyak, gak harus metu kono belok kiri lurus wae.

Yaudahlah… intinya ketika ada sebuah perbedaan, mari saling menertawakan saja, tak perlu serius-serius amat lah. Ojo gampang gumunan, Seng santuy wae.

Jadi kalau ada yang bertanya, upload foto selfie dengan caption bijak itu biar apa sih ? jawab saja, ya biar ada captionnya lah, kau pikir bikin caption gampang. 
Kwkwkwkwk

kitakitu.id

2 komentar

Nah, daripada bagian caption nya kosongan dan supaya ada yang komen. Biar gak sepi, gituuuu. Hehehe.😂

@roem: caption status adalah sebuah kebutuhan hahay

Komen dong
EmoticonEmoticon